Kostum Agama

Oleh: Emha Ainun Nadjib



Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan
Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai
busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah
meriah kita pajang.



Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting
saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu
dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau untuk pemirsa? Kita
ber-khusnudhdhan bahwa kita semua ini sangat mencintai dan menghormati
Allah.


Hanya saja -- seakan-akan hanya pada bulan Ramadhan saja Allah hadir.
Seolah-olah hanya pada Ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan
kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli --
seakan-akan hanya di depan kamera saja kita menghormati Allah.


Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.


Emha Ainun Nadjib,

Dari buku "Mudik Dunia Akhirat", Zaituna


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke