Aku hanya Diwarisi Harapan


USIAKU tak muda lagi, 29 tahun. Tapi, kian matang usiaku, makin selektif
juga aku memilih teman lelaki. Aneh ya? Biasanya, makin "tua" seorang gadis,
tentu makin longgar dia atak kriteria pada lelaki yang dia dambakan. Tapi
aku sebaliknya. Aku pikir, lebih baik melajang selamanya, daripada
mendapatkan lelaki yang jauh dari kriteria.



Apakah aku tinggi hati? Menurutku sih tidak. Tapi, kata teman-teman, aku
terlalu pemilih. Karena terlalu pemilih itu juga, sampai kini aku baru 3
kali pacaran, dan berpisah karena tidak kutemukan hal-hal yang bisa
menyatukan kami ke dalam jenjang pernikahan. Barangkali, tingkat pendidikan
dan pekerjaan memang mengharuskan aku sedikit keras pada pilihan. Sebagai
manager di sebuah perusahan besar ekpor di sebuah kabupaten yang dekat
dengan Semarang, aku pun berteman dengan kalangan yang sejenis. Dan itu tak
menarik minatku.



Sampai bulan Februari lalu, aku bertemu dengan Surya di Jakarta, dalam
pertemuan dengan sesama kolega.



Surya sudah matang, 34 tahun. Lajang, dan berposisi yang selevel denganku.
Masalahnya, dia di Jakarta. Tapi, ketertarikanku ternyata bersambut. Surya
merasakan getar yang sama, hahaha... seperti remaja aja ya? Maka, kami pun
jadi sering berhubungan, lewat telepon, SMS, kadang chatting seharian. Makin
intesif kami berkomunikasi, makin aku merasa cocok. Dia sopon, perhatian,
ngemong. Aku suka sekali berbincang bersamanya. Beberapa kali dia kuundang
datang ke kota ini, dua kali dia datang. Dan ketika bersamanya, berdua,
kecocokan itu makin terasa. Aku suka. Belum pernah aku berpikir akan menikah
dengan seorang lelaki, kecuali dengan Surya ini.



Surya memang penuh kejutan. Di bulan Juni, tiba-tiba saja dia tak membalas
SMS, telepon, juga email yang aku kirimkan. Dengan aneka pertanyaan, juga
kecemasan, dan kecemburuan, aku memutuskan akan ke Jakarta di akhir pekan.
Tapi, ketika akan berpamit pada orangtua, justru lelaki itu kutemukan sudah
berada di rumahku, ngobrol dengan ayah serta ibu. Aku kaget setengah mati.
Di ruang tamu, Surya tergelak-gelak, tertawa, ditemani ayah. Ajaib. Sulit
rasanya melihat ayah bisa serileks itu dengan orangmuda. Tapi, melihat
mereka demikan akrab, aku jadi merasakan kebanggaan memasuki hatiku. Surya
memang memikat, termasuk kepada ayahku. Tapi apa tujuan dia ke rumahku.



Olala, ternyata Surya mengenalkan dirinya kepada ayahku. Dia menjelaskan,
betapa seriusnya dia padaku. Dia mengenalkan diri, agar orangtuaku percaya,
bahwa anaknya sedang berteman dengan lelaki baik-baik, yang meminta izin
lebih dulu dengan orangtuanya. Dan Surya, meski tersamar, telah memintaku
untuk menjadi istrinya. Hal itulah yang membuat orangtuaku terkejut, meski
sekaligus kagum dan bangga akan keberaniannya. Dua hari Surya di kota ini,
makan dan minum di rumah, hanya tidur di hotel. Dua hari juga, dia membuka
diri pada keluargaku. Membuatku melayang. Untung gak sampai terbang jauh,
hahaha...



Tapi ternyata, selepas Surya pergi, orangtuaku kembali ke watak aslinya.
Ayahku tak keberatan dengan Surya, tapi dia tak mengizinkan aku kalau harus
bekerja di Jakarta. Aku paham, sebagai anak terakhir dan satu-satunya
perempuan, ayah ingin aku tinggal dan menemani mereka. Aku juga paham, ibu
tak ingin lagi ditinggalkan oleh anaknya, apalagi Masku pergi sampai ke luar
pulau. Sehingga tak ada yang menemani ibnu, termasuk  kerinduan akan
cucu-cucunya.



Aku katakan hal itu kepada Surya. Dia minta aku membujuk ayah dan ibuku.
Apalagi, Jakarta tidak terlalu jauh. Dua atau tiga bulan sekali, kami pun
akan bisa saling mengunjungi. Aku pun mulai membujuk ayah dan ibu. Selama
itu juga, komunikasiku kian eefektif dengan Surya. Aku sudah tahu niatnya,
orangtua juga sudah menerima dia, jadi apa lagi yang harus aku pikirkan.
Maka, ketika Surya kembali ke kota ini, dalam kemesraan yang tak
tertanggungkan, aku serahkan semuanya, dengan ikhlas. Tak ada penyesalan,
tak ada ketakutan. Aku serahkan hal itu karena kuyakini, dia adalah calon
suamiku, ayah dari anak-anakku. Kami pun mereguk kembali, mengulang lagi,
lagi, seakan tak ingin berhenti. Sampai Surya kembali.



Seusai itu, aku kian intensif berkomunikasi dengan orangtua. Akhir kata, di
awal Agustus, restu itu datang. Aku mendapat restu meski harus berada di
Jakarta. Aku senang sekali. Serta merta, aku katakan kalau Lebaran ini,
keluarga Surya akan datang memintaku secara resmi, dan Desember kami mungkin
akan menikah. Orangtuaku siap saja.



Aku kabarkan hal itu pada Surya. Tapi, teleponku tak bersambut. Emailku tak
berjawab. SMS tak diterima. Ada apa? Jangan-jangan dia akan memberi kejutan
lain, datang lagi ke kotaku. Aku tertawa, dan menunggu saja. Tapi, di akhir
minggu, tak ada kejutan itu. Aku mulai panik. Kutelepon ke kontrakannya.
Ternyata, Surya telah seminggu berangkat ke Amerika, meneruskan sekolahnya.
Aku pucat. Lemas. Kaget sedahsyatnya. Ini gila! Ini tak mungkin. Aku telepon
lagi, ke kantornya. Aku cerna. Ternyata, telah sebulan Surya mengundurkan
diri karena harus sekolah lagi. Aku tanya alamat rumahnya, dan mendapatkan.
Aku phone ke rumahnya, ternyata benar. Dan yang sangat menyakitkan, ternyata
selama ini tak pernah sekali pun Surya menyebutkan namaku di dalam
kelurganya. Jadi, tak ada rencana pernikahan itu, tak ada rencana perkawinan
itu. Aku masuk pada perangkatnya, masuk pada rencana matangnya, masuk pada
semua skenario yang dia ciptakan. Aku terjerat, terjerembab.



Aku menangis. Sesakit-sakitnya asmara, baru kali ini kurasakan sakitnya
tertipu cinta.

Telah kuserahkan semua. Semua yang kupercaya. Ternyata itu palsu.

Telah kupercayai dia. Tapi itu ternyata khayalku saja.

Kuizinkan dia menjadi suamiku. Tapi aku tenyata cuma bonekanya.

Kuizinkan dia memasuki hidupku. Tapi segera aku menjadi masa lalunya.

Ini gila.

Tak terbayangkan. Tak tertahankan. Aku pun tumbang.



Dua minggu aku di rumah sakit. Orangtuaku tak mengerti. Tapi, serapat apa
pun kusembunyikan, akhirnya mereka tahu ada yang tak beres dengan diriku.
Aku pun bercerita. Tentu tidak semua. Aku tak ingin mereka tahu kalau
anaknya telah sedemikian bodoh sampai menyerahkan diri pada lelaki gila itu.



Kini, nyaris 40  hari dari kejadian itu, kutertawai nasibku. Surya pergi,
melarikan diri. Dan yang ada padaku, hanya harapan saja. Dia cuma mewariskan
harapan.  Betapa kejam.



Kini, sering aku berdoa, agar dia merasakan juga, sakit yang kuderita ini,
di sana. Semoga Tuhan membalaskannya.



Cerita Ifa


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke