Demokrasi Tolol Versi Saridin

Oleh: Emha Ainun Nadjib



Saridin bukan tidak sadar dan bukan tanpa perhitungan kenapa dia memilih
nyantri ke pondoknya Sunan Kudus. Saridin itu tipe seorang murid yang cerdas
dan mengerti apa yang dilakukannya.
Harap dimengerti murid itu bukan padanan kata dari siswa atau student,
sebagaimana manusia zaman modern memaknainya secara tolol. Memang manusia
dalam kebudayaan dan peradaban modern kerjanya selalu melawak. Mereka lucu,
dan bahkan sangat lucu karena mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka lucu.


Coba lihat saja. Di dunia modern ada yang namanya universitas . Wah gagahnya
bukan main lembaga pendidikan tertinggi ini. Penuh gengsi dan keangkuhan.
Kalau sudah lulus darinya, orang di sebut "sarjana"


Padahal sesungguhnya Saridin membuktikan sendiri bahwa para pelaku lembaga
pendidikan dunia modern ini ndagel atawa melawak. Mereka pura-pura bikin
universitas adalah manusia universal .
Padahal nanti para sarjana keluaran universitas itu kualitas dan cakrawala
pandangnya tak lebih dari manusia fakultif


Anak-anak didik usianya sudah dewasa ini tetap saja kanak-kanak sampai tua,
karena sudah bertahun-tahun di universitas masih saja terbuntu di kualitas
fakultif atau bahkan jurusan.


Apa begitu itu namanya, kata Saridin, kalau bukan ndagel.


Kalau remaja-remaja itu berangkat ke universitas, ngakunya pergi kuliah.
Istilah itu dari bahasa Arab: kulliyah. Artinya, suatu keberangkatan
intelektual, mental, spiritual dan moral menuju taraf kosmopolitanisme.


Segi lawakannya menurut Saridin terletak pada kenyataan bahwa sebenarnya
mereka bukan berangkat kuliah, melainkan berangkat juz'iyyah. Ya yang
diterangkan di atas tadi: juz'iyyah itu artinya berangkat memahami sesuatu
secara sektoral, secara fakultatif dan parsial.


Seandainya mereka bukan pelawak, tentu setiap keberangkatan juz'iyyah akan
selalu pada akhirnya diorientasikan atau dikembalikan lagi ke spektrum
kulliyah atau universalitas.


Tapi karena tradisi demikian tidak menjadi habitat utama budaya pendidikan
manusia modern, maka hasilnya adalah kesempitan.


Umpamanya kalau mereka disodori pakaian oleh Saridin dan tanyakan kepada
mereka "apa ini?" mereka paling menjawab "ini baju, " atau ini celana," ini
cawet." Atau ini dasi."


Mereka tidak pernah menjawab-ini kain, ini benang," ini kapas"  ini
serat-serat," atau mungkin ini kerjasama antara alam ciptaan Tuhan dengan
teknologi ciptaan manusia."


Pendeknya pada kesimpulan Saridin, jangkauan ilmu mereka atau dangkalnya
kedalaman pengetahuan mereka itu hanya bisa diterangkan melalui dua
kemungkinan acuan. Kalau tidak bodoh, ya itu: ndagel .
Kalau pembicaraan kita sampai pada soal "dasi" atau "sepatu" , yang
merupakan ciri-ciri terpenting dari eksistensi manusia modern, lebih terasa
lagi lawakannya. Kalau sudah mengingat itu, Saridin tersengguk-sengguk
karena tawa dantangisnya menjadi satu keluar dari mulut dan matanya.


Dasi itu menurut pemahaman Saridin adalah benda yang benar-benar tidak bisa
dipahami apa kegunaannya, kecuali untuk siap-siap kalau sewaktu-waktu
pemakainya ingin kendat atau bunuh diri dengan carta menggantung diri atau
menjerat leher.


Kebudayaan manusia modern selalu menjelaskan dasi dalam konteks sopan
santun, kepribadian dikaitkan atau apalagi ditententukan oleh seutas kain
yang dikaitkan menggelilingi leher.


Benar-benar sangat lucu. Saridin khawatir Tuhan sendiri bisa geleng-gelng
kepala karena kelucuan dasi ini tingkatnya benar-benar rendah. Kepribadian
itu maslah software, soal batin, mutu nilai yang rohaniah sifatnya. Kok
dilawakkan melalui seutas dasi. Alangkah tidak bermutunya lawakan manusia
modern.
Apalagi masalah sepatu. Pakailah sepatu, kata Saridin menirukan seseorang
yang pernah didengarnya di abad 20, agar kakimu terlindung dari duri atau
kerikil tajam."


Padahal para pemakai sepatu justru cenderung menolak untuk berjalan di
jalanan. Mereka justru lebih sering melangkahkan kaki kelantai yang dipakai
karpet tebal dan empuk.


Lantas seseorang melanjutkan, tapi sebelum pakai sepatu, pakailah dulu kaos
kaki, untuk melindungi kakimu dari sepatu, agar tidak mlicet."


Di sinilah, menurut studi Saridin , puncak lawakannya. Orang yang disuruh
pakai sepatu dan kaos kaki pasti kebingungan, jadi sebenarnya sepatu ini
melindungi kaki ataukah mengancam kaki, sehingga kaki harus dilapisi dengan
kaos kaki?"


***
Oleh karena itu,sejak abad 16 Saridin sudah sadar untuk tak mau di ranjau
oleh kebodohan yang canggih atau kepandaian yang ndagel versi kebudayaan
modern. Maka ia mateg aji menjadi murid.
"Murid" itu kata subyek yang berasal dari kata kerja arada, yuridu, muridan.
Artinya: seseorang yang berkendak. Ingat kata iradat Tuhan? Artinya kendak
Tuhan.


Saridin menjdai muridnya Sunan Kudus karena ia sendiri yang berkehendak
untuk itu. Juga ia sendiri yang berkehendak, atau menjadi subyek yang
menghendaki segala macam yang menyangkut ilmu dan pengalaman hidup yang akan
dialaminya dari Sang Sunan.


Dengan kata lain, sesungguhnya Saridin sendiri yang menyusun kurikulum
kesantriannya. Itu namanya murid. Kalau seseorang datang ke pesantren atau
sekolah lantas pasrah bongkokan dan mulutnya mengangga melulu menunggu apa
saja terapan kurikulum yang telah disediakan, itu namanya murad . Artinya,
orang yang kehendaki.


Memang sih pesantrennya Sunan Kudus sudah memiliki kuyrikulum, sistem
pendidikan dan metoda pengajaran tersendiri. Tetapi itu sekedar bahan dan
masukan bagi Saridin. Tetapi si Saridin sendiri yang kemudian mengatur dan
menguasai kurikulum itu di dalam dirinya sendiri.


Jadi pada hakekatnya pesantren Saridin terletak di dalam otaknya Saridin itu
sendiri. Sekolah Saridin berdiri di dalam hitungan akal sehat Saridin
sendiri. Universitas Saridin berlangsung di dalam metoda dan proses belajar
atau kaifiyah intelektual-spiritual Saridin sendiri. Itulah sebabnya ia
sungguh-sungguh seorang murid.


***
Menurut pandangan Saridin, sikap menjadi murid adalah perwujudan demokrasi
pendidikan. Kalau ia hanya murad, berarti ia menyediakan diri untuk
ditindas. Padahal Saridin tahu, di dalam Islam, orang dilarang menindas, dan
lebih dilarang lagi untuk bersedia ditindas.


Tapi jangan lupa pengetahuan tentang demokrasi itu pasti Saridin ambil dari
dunia modern juga. Jadi jangan seratus persen percaya kalau Saridin begitu
mbagusi ketika mentertawakan kebudayaan modern. Sebab sesungguhnya ia juga
banyak belajar kepada segala sesuatu mengenai modernitas dan modernisme.


Bahkan ada bulan-bulan di mana ia salah menerapkan prinsip demokrasi ketika
mengikuti pengajaran dan pendidikan yang diselenggarakan oleh Sunan Kudus.


Ketika Sang Sunan meminta Saridin membuktikan hapalan Qur'annya, satu juz
saja, di depan para santri lainnya-dengan mantap ia menjawab: "Sunan, adalah
hak asasi saya untuk memilih apakah saya perlu menghapalkan Qur'an atau
tidak."


Demokrasi bagi Saridin ketika itu, bertitik berat pada prinsip hak asasi
manusia.


Ketika ia diminta mempraktekkan jurus jalan panjang ketika dilatih silat,
Saridin juga menjawab: "Saya sendirilah yang berwenang untuk mempraktekkan
jurus itu sekarang . Tidak seorangpun bisa memaksa saya" ."


Tapi sebelum selesai kalimatnya, Sunan Kudus mendadak menghampirinya dan
menyerbunya dengan berbagai jurus. Saridin kepontal-pontal, pontang-panting,
terjatuh-jatuh, terluka dan keseleo.
"Kalau kamu tidak sanggup menjadi pendekar, jangan bersembunyi di balik kata
demokrasi!" kata Sunan Kudus sambil mencengkeram leher Saridin yang
terengah-engah.


Emha Ainun Nadjib,

Dari Buku “Demokrasi tolol versi saridin”, Penerbit Zaituna, 1998


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-------------------------------------------------
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
BCA : 145-131-0238 | BNI : 001-432-7613 
BRI : 0206-0100-0020-501 | A/N : Yudhi Aprianto
-------------------------------------------------
Sarikata @ Facebook : 
http://www.facebook.com/group.php?gid=49585017711
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke