Ikhlas, Sabar Dan Cerdas

By: agussyafii

Malam terdengar suara mengaji anak-anak Amalia. Suara cengkrama anak-anak 
terdengar ramai. Berkelompok mereka sedang menghapal surat al-Lail, seorang 
anak muda sehabis maghrib bertanda ke Rumah Amalia. Kami berdiskusi hangat 
tentang kehidupan. Anak muda itu bertanya tentang mukhlis, shabur dan halim. 
Saya jelaskan bahwa Mukhlis itu artinya orang yang ikhlas, Shabur artinya orang 
yang sabar dan Halim artinya orang yang cerdas secara emosional dan spiritual.

‘Mas Agus, bisakah menjelaskan ketiga hal tadi?’ tanyanya.

Kemudian saya jelaskan padanya, Nampak anak muda itu mendengarkan dengan 
seksama. Ada anak Amalia terlihat sedang memperhatikan apa yang menjadi 
perbicangan kami. 

‘Nah, mari kita pahami terlebih dahulu arti mukhlis,’ tutur saya padanya. 
Mukhlis, artinya orang yang ikhlas. Seorang dengan kualitas mukhlis adalah 
orang yang hatinya bersih dari keinginan memperoleh pujian. Semua perbuatannya, 
perkataannya, pemberiannya, penolakannya, perkataannya, diamnya, ibadahnya dan 
seterusnya, semata-mata dilakukan hanya untuk Allhh SWT. Oleh karena itu 
baginya pujian orang tidak membuatnya berbangga hati, dan kekecewaan serta caci 
maki orang tidak membuatnya surut. Dari deretan predikat kualitas yang 
dicontohkan Nabi dengan urutan Muslim, Mu'min, 'Alim (orang terpelajar), Amil 
(yang beramal) dan Mukhlis, maka selain mukhlis, mereka masih berpeluang 
mengalami kesia-siaan (halka). 

Manusia dengan kualitas mukhlis adalah orang yang paling produktif bagi 
dirinya, meski boleh jadi tidak diakui oleh orang lain. Sementara seorang 'alim 
yang 'amil (orang pandai yang banyak berbuat) tetapi tidak mukhlis adalah 
kontra produktif bagi dirinya, meski boleh jadi memperoleh banyak penghargaan 
dari masyarakat. Seorang mukhlis lebih suka menyembunyikan perbuatannya dari 
penglihatan orang lain, sedangkan kebalikannya yaitu orang yang riya, ia hanya 
mau melakukan sesuatu jika diketahui orang, atau diliput berita. Orang mukhlis 
berbuat sesuatu demi Alloh, sedangkan orang riya melakukannya demi pujian orang.

Adapun shabir atau shabur, artinya adalah orang yang sabar atau penyabar. 
Menurut Imam Ghazali, sabar artinya tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi 
cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai 
tujuan. Jadi orang yang bisa sabar adalah orang yang selalu ingat kepada 
tujuan, karena kesabaran itu diperlukan adalah justru demi untuk mencapai 
tujuan. Orang yang tidak sabar biasanya, karena lupa tujuan akhir, ia mudah 
terpedaya untuk melayani gangguan-gangguan yang tidak prinsipil, sehingga apa 
yang menjadi tujuan terlupakan, sebaliknya ia melakukan sesuatu yang justeru 
mempersulit tercapainya tujuan.. Sabarpun mengenal batas waktu, oleh karena itu 
jika suatu ketika mengalami kegagalan, sudah diulang gagal, diulang lagi gagal 
lagi, maka orang yang sabar hams berfikir mencari alternatif, karena boleh jadi 
sumber masalahnya justru pada keputusan awal yang kurang tepat. 

Manusia dengan kualitas penyabar adalah sosok manusia yang ulet, tak kenal 
menyerah, tak kenal putus asa, dan tak kurang akal. Ia bukan hanya mampu 
mengatasi kesulitan yang datang dari luar, kesulitan tehnis misalnya, tetapi 
juga mampu mengatasi kesulitan yang datang dari diri sendiri, kebosanan, 
kemalasan atau syahwat misalnya. Al Qur'an menghargai manusia unggul yang 
penyabar, yakni yang sabar dan memiliki kecerdasan intelektuil, Emosionil dan 
Spirituil (IQ, EQ dan SQ) ,setara dengan seratus orang kafir (yang sombong, 
emosionil dan tak mempunyai nilai keruhanian) (Q/al Anfal, 65). Dalam keadaan 
normal, Al Qur'an menghargai peribadi penyabar setara dengan dua orang biasa 
(Q/8: 66).

Sedangkan manusia dengan kualitas halim, Al Qur'an memberi contoh sosok Nabi 
Ibrahim. Dia adalah pribadi yang awwahun halim (Q/ at Taubah: 114) Al hilm itu 
sendiri dapat diartikan sebagai akal, tetapi akal bukan sebagai problem solving 
capasity, melainkan akal sebagai akumulasi seluruh kecerdasan, intelektual, 
emosional dan spiritual. 

Nabi Ibrahim sebagai sosok model seorang yang berkualitas halim, memang sangat 
tepat, karena pada dirinya terkumpul sifat-sifat kecerdasan, kelembutan hati, 
belas kasih, dan perasaan mengkhawatirkan keadaan orang lain. Ibrahim tidak 
memiliki perasaan marah dan benci termasuk kepada orang yang memusuhinya. 
Ketika Nabi Ibrahim lapor kepada Alloh SWT tentang kaumnya yang patuh dan yang 
durhaka, Nabi Ibrahim memohon kepada Alloh agar mengampuni dan menyayangi 
kaumnya yang durhaka (faman tabi'ani fa innahu minni , waman 'asoni fa innaka 
ghofu run rohiem (Q/14:36).

Wassalam,
Agussyafii

--

Tulisan ini dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Amalia Satukan Hati 
(SEHATI)' Hari Ahad, Tanggal 14 Februari 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan 
dukungan dan komentar anda di http://agussyafii.blogspot.com atau 
http://www.facebook.com/agussyafii, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms 
di 087 8777 12 431




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke