Konsep Teologi Sepeda Hilang


Pada suatu pagi, sekitar 15 tahun yang lalu, sepeda pancal alias sepeda
onthel saya hilang dari rumah kontrakan saya. Tentu diambil oleh salah
seorang dari anak-anak muda sekitar sini. Banyak dari mereka pengangguran,
dan lagi rumah ini memang dekat dengan pasar.


Sebagai manusia normal, saya marah. Tapi terus terang ini tidak konsisten
dan tidak rasional. Rumah ini memang tak pernah dikunci. Setiap orang
gampang sekali membuka pintu yang sebelah manapun dan mengambil apapun.
Jadi, kalau sepeda hilang, itu logis dan realistis.


Tapi saya tak peduli. Saya ke depan rumah, berdiri bertolak pinggang
menghadap ke arah pasar, dan berteriak: "Kalau sepeda saya tidak kembali
sampai nanti sore, saya tidak bertanggung jawab kalau ada orang pengkor satu
kakinya, cekot sebelah tangannya, atau pethot mulutnyal"


Orang-orang di sekitar kaget dan terkesiap sejenak. Tapi saya segera masuk
rumah dan tidur lagi.


Tak disangka tak dinyana, ketika siang belum sempurna, pintu depan diketuk
berulangkali. Saya nongol, seorang anak muda berpakaian butut berdiri dengan
wajah ketakutan dengan sepeda berdiri ter jagang di sebelahnya.


Ketika saya menatapnya, ia menunduk. "Kenapa kamu?" Saya bertanya.


"Maaf, Cak...," ia menjawab tersendat, "saya yang mencuri sepeda Sampeyan.
Saya minta maaf. Sekarang saya kembalikan...."


"Lho, kenapa kamu kembalikan?" Saya bertanya lagi. "Saya dengar dari
orang-orang bahwa Sampeyan marah...." `"I'api kan kamu butuh sepeda?" Saya
kejar terus.


"Iya, siih.:.."


"Untuk apa sepeda?"


"Tempat kerja saya jauh sekali. Kalau saya jalan kaki, kejauhan. Kalau saya
pakai angkutan, gaji saya jadi terlalu sedikit...."


"Jadi kamu butuh sepeda?" "Ya, Cak"


"Kenapa kamu kembalikan sepeda ini?"


"Katanya Sampeyan marah sekali..."


"Tapi kamu kan butuh sepeda?„


"Ya, Cak"


"Ya sudah, kamu bawa saja sepeda ini," kata saya, "sekarang sepeda ini
sudali halal kalau kamu bawa. Saya sudah ikhlas, kamu sudah tidak berdosa.
Dan, insya Allah, kalau yang kamu pakai adalah barang halal, rejekimu akan
berkah. Kalau tadi, karena kamu mencuri, maka kamu berdosa, dan saya kamu
tindas. Kamu dikutuk Tuhan, saya tidak mendapat apa-apa kecuali kemarahan.
Sekarang semua sudah halal dan baik. Silakan pakai, semoga Allah menambah
rezekimu dan meringankan hidupmu."


Dia bengong. Saya masuk rumah dan kembali tidur.


Dengan dua macam lalu-lintas pindahnya suatu barang dari dan ke subyek yang
sama, nilainya menjadi berbeda. Kalau saya memakai kalkulasi ekonomi dunia,
maka saya rugi kehilangan sepeda. Maka saya pakai teologi manajemen dunia
akhirat, sehingga beralihnya sepeda saya ke tangan anak itu tidak membuat
saya kehilangan. Malah saya laba banyak, bukan hanya pahala di akhirat, tapi
Allah juga menjanjikan rezeki berlipat ganda, entah berupa apapun, terserah
Dia saja. pokoknya ia-in syakartum la-azidannakum.


Saya ini hampir selalu dikeluarkan dari setiap sekolah yang pernah saya
masuki. Jadi saya ini bukan kaum terpelajar, baik di sektor Salafiyah dan
Kitab Kuning, maupun di sektor persekolahan modern. Jadi saya tidak tahu
banyak mengenai banyak hal. Tetapi dengan segala keawaman itu saya haqqul
yaqin dan 'ainul yaqin bahwa apa yang saya pahami, sikapi, dan lakukan dalam
hal sepeda itu adalah konsep teologi Islam.


Apapun saja yang saya lakukan di muka bumi ini, sejak pagi hingga pagi
berikutnya, ketika berada di timur atau barat, tatkala berjaga. atau
mengantuk, sebisa-bisa saya tumbuhkan di atas kesadaran dan konsep teologi
yang segamblang-gamblangnya.


Kalau saya menjumpai sebatang kayu melintang, saya sisihkan ke pinggir
supaya tidak menyandungi orang lewat. Kalau mungkin, saya akan pakai ia
untuk menyangga sesuatu atau untuk apapun yang bermanfaat. Konsep teologi
saya ada lah bahwa segala yang di depan saya itu merupakan amanat Allah
untuk saya Islamkan. Di-Islamkan artinya diubah dari kemubaziran atau
kemudharatan menjadi kegunaan dan kemashlahatan.


Ingatan, kesadaran, dan formula konsep teologi itu harus terus-menerus saya
cari, saya pahami, dan saya terapkan. Dan itu berlaku untuk pekerjaan yang
kecil maupun yang besar. Untuk soal rumput di halaman rumah sampai soal
pekerjaan sejarah besar yang menyangkut kebudayaan masyarakat.


Saya menyuapi mulut saya dengan nasi tidak karena saya ingin makan,
melainkan karena saya wajib memelihara kesehatan badan yang dimandatkan oleh
Pencipta saya. Saya mencangkuli tanah dan menanam sesuatu bukan sekadar
karena saya menyukai keindahan, melainkan juga karena saya bersyukur dan
takjub: kok ya ada di dalam hidup ini yang namanya tanah, kesuburan, serta
biji yang kalau ditaruh di situ lantas tumbuh dengan penuh keajaiban.


Saya berangkat tidur pada jam tertentu bukan karena saya ingin menikmatinya,
tapi karena saya wajib bergabung ke dalam irama sunnatullah yang menyangkut
badan dan jiwa saya. Saya bersedia pulang ke rumah hanya beberapa hari dalam
sebulan dan selebihnya diatur orang banyak untuk berada di berbagai tempat
dan melaksanakan kemauan mereka, bukan karena itu karir saya atau profesi
saya, karena saya tidak punya karir dan tidak peduli profesi.


Saya lakukan itu semua karena, pertama, saya ini aslinya tidak ada, kemudian
Allah mengadakan saya, ia satu-satunya yang berhak atas saya, dan karena itu
segala yang saya lakukan bergantung pada kemauan-Nya. Saya diberi wewenang
oleh-Nya untuk berkemauan, tapi saya tidak pernah percaya bahwa kemauan saya
atas diri saya dan dunia ini akan pernah lebih baik dibanding kemauan Tuhan
atas diri saya dan dunia ini. Oleh karena itu saya tidak berani melepaskan
apapun sampai yang sekecil-kecilnya dan seremeh-remehnya, dari pencarian
pengetahuan tentang apa yang kira-kira dimaui oleh Sang Konsultan Agung
Allah SWT itu.


Kalau saya punya iradah, harus saya sesuaikan dengan amr-Nya. Terkadang
cocok, terkadang tidak. Terkadang benar, terkadang salah. Tapi, apapun yang
terjadi, iradah itu harus saya lakukan dengan menggunakan qoul-Nya supaya
produknya adalah kun fayakun. Saya tidak banyak mengerti ilmu di alam
semesta ini. Jadi hanya itulah yang saya pahami sebagai konsep teologi.


Maka, sebab kedua, orang-orang yang memintaku untuk melakukan segala macam
pekerjaan itu -ya kesenian, ya keagamaan, ya politik, ya ekonomi, ya
pengobatan, ya konsultasi kejiwaan, ya segala macam jenis partisipasi dan
sumbangan sosial- tidak bisa saya yakini bahwa kemauan mereka itu
benar-benar terlepas dari kemauan Tuhan. Saya harus berspekulasi dan
bersangka baik bahwa mereka adalah penyalur amanat Tuhan kepada saya.


Jadi, apa saja, dari makan rujak sampai bikin ABRI, tidak berhak dilakukan
oleh manusia yang memiliki hubungan vertikal total dengan Allah- tanpa
memberangkatkannya dari ingatan, kesadaran, dan konsep teologi yang jelas.


Dengan kata lain, tak perlu menunggu mau bikin partai Islam dulu baru
berpikir tentang konsep teologi. Bikin mesjid, bikin perusahaan, bikin
Golkar, bikin negara, bagi orang yang ber-Tuhan, ada keberangkatan dan titik
tuju teologisnya.


Ketika berpakaian sekular, ketika berbusana Muslim, ketika berformalisme
Islam, ketika berkultur-kultur Islam, ketika Islam fotmal dipakai atau
disembunyikan, ketika Islam diletakkan di kultur thok, atau juga di politik
resm, semua terikat pada penyikapan teologis. Apalagi yang namanya Partai
Islam, harus terutama dilihat secara substansial: bisa saja namanya Partai
Daun atau Partai Kambing, tapi yang kita lihat adalah apakah substansi
kerjanya Islam atau tiidak. Hanya orang-orang yang tradisinya berpikir
simbolik yang menyangka bahwa partai Islam hanyalah partai yang memakai nama
dan kata Islam.


Kalau ada parpol yang pilar perjuangannya adalah amar makruf nahi munkar dan
akhlaqul karimah, maka secara substansial ia telah bersyahadat Islam. Bahkan
kalau ada parpol lain yang memperjuangkan demokrasi, kemerataan
kesejahteraan, keadilan sosial, dan penghormatan atas haq asasi manusia,
secara substansial ia bisa kita sebut partai Islam. Masalahnya, tinggal
ditunggu proses aktualisasinya saja: konsisten atau tidak, istiqamah atau
tidak.


Kalau misalnya saya sibuk dan mencemaskan berdirinya partai Islam, karena
toh substansi partai-partai yang ada juga relatif sudah substantially Islam,
maka berarti saya berpikir simbolik. Juga berarti saya tidak paham bahwa
kalau ada anjuran tentang partai Islam formal, itu sekadar upaya pembebasan
dari tradisi simbolisme: agar tidak resmi Islam ya boleh, resmi Islam ya
boleh. Yang penting, substansinya Islam atau tidak.


Tidak hanya ketika saya pakai peci saya maka saya terikat oleh teologi
Islam. Tatkala saya pakai kaos oblong dan menjadi gelandangan di tepi jalan
pun saya terikat oleh Allah.


Emha Ainun Nadjib,
Majalah Ummat, 2005


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-------------------------------------------------
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
BCA : 145-131-0238 | BNI : 001-432-7613 
BRI : 0206-0100-0020-501 | A/N : Yudhi Aprianto
-------------------------------------------------
Sarikata @ Facebook : 
http://www.facebook.com/group.php?gid=49585017711
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke