ISBN :9786028543446 Rilis :2010
Halaman :216p Penerbit:Bisnis2030 Bahasa :Indonesia Rp.51.600 Peresensi: Zulkifli Lazuardi, S.sos, MM Kelahiran buku-buku untuk solidaritas kemanusiaan yang diterbitkan atas kerjasama dari penulis-penulis Indonesia, Malaysia, Singapura; sangat pantas untuk diapresiasi sebagai salah satu sejarah penting dalam dunia sastra di Asia Tenggara pada umumnya, dan Indonesia pada khususnya. Kali ini, adalah buku kedua setelah terbit buku Himpunan Puisi Padang 7,6 Skala Richter, berjudul: Suara-Suara Nurani dan Kalbu. Dan masih satu konsep yang sama, buku kedua ini juga berisi 25 penulis yang menyumbangkan karya-karya puisinya. Tema yang diangkat oleh penulis dalam puisi-puisi di sini masih seputar tentang bencana gempa di Padang dan Sumatera Barat, namun beberapa sudah lebih universal untuk kemanusiaan. Tentang cinta kasih, perenungan-perenungan, hikmah peristiwa, kesadaran akan kebesaran Tuhan, dan lain-lain. Merupakan suatu usaha yang sangat layak untuk dihargai dari para penulis yang terlibat di dalamnya, termasuk pemrakarsa/koordinator dari buku-buku ini yaitu Leonowens SP, seorang sastrawan kawakan dan berusia muda dalam mewujudkan sebuah proyek amal dari penulis-penulis asal 3 negara ini. Mari kita simak salah satu potongan puisi karya Ahmad Muhakkam El Zein, seorang penulis pemula yang mengisi salah satu barisan puisi dalam buku ini: Persetubuhan di Senja Tengadah ”di suatu senja yang tengadah/aku kehilangan senyum manismu/tertelan tangis di derasnya goncangan persetubuhan senja/persetubuhan kesekian kali yang tak seirama doa/sebab dalam nestapa saudara-saudaraku selalu memintai mata air dan kesunyianku/cerita yang selalu saja memantik rindu wajah kekasih/latah/semua televisi berlomba mengabarkan wajah erangmu yang menggoda/berlomba menjadi saluran air mata terbaik menuju tuhan/tubuhmu adalah tubuh telanjang yang tercabik goncangan dan erang sesudut malam kota…” Rasa kesedihan masih terasa dalam puisi tersebut, dan betapa rasa sedih yang dikabarkan oleh media menambah kesedihan semakin dalam. Namun kabar duka itu juga akhirnya menyentakkan kita untuk segera melakukan sesuatu. Kabar yang cepat beredar melalui setiap media cetak, media elektronik, serta media internet; membuat kita seolah diketuk bahwa itu bukan hanya sekedar berita, tetapi sebuah peristiwa yang membuat kita tergerak untuk membantu dengan segala kemampuan yang ada. Tentunya harus dibarengi dengan keikhlasan dari hati kita masing-masing. Kita sangat menyadari, tiap-tiap orang tentu memiliki cara yang berbeda-beda untuk bisa membantu sesama yang sedang membutuhkan bantuan. Buku Suara-Suara Nurani dan Kalbu, seolah mengukuhkan bahwa kekuatan karya sastra juga bisa menggerakkan hati dan pikiran setiap orang untuk turut berpartisipasi membantu korban gempa di Padang dan Sumatera Barat. Dan semangat dalam berkarya ini juga menyadarkan kita agar tidak terus larut dalam kesedihan. Tetapi dengan adanya kesadaran, mengajak kita untuk membangun dan memulihkan yang telah porak poranda di sana. Konsentrasi selanjutnya memang bukan membuka kembali rekaman peristiwa yang memilukan, namun lebih kepada penataan kembali hari esok agar lebih baik. Semoga buku ini bisa menyulut semangat untuk bangkit paska terjadinya gempa yang ada, baik kepada penulis, pembaca, dan seluruh masyarakat di sana. Terima kasih kepada para penulis dan pemrakarsa/koordinator atas penerbitan buku Suara-Suara Nurani dan Kalbu,. Amin.*** http://www.bookoopedia.com/daftar-buku/pid-30078/suara-suara-nurani-dan-kalbu.html
