Salam Mengenai raptor (urban) dan bioindikator, bisa dibilang urusan gampang, tapi bisa juga tidak.
Bicara mengenai bioindikator, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan (...sambil inget-inget catatan kuliah saya dulu ya...) 1. Keberadaan. Yang perlu diingat, tidak hanya memperhatikan keberadaan jenis saja, namun juga jumlah. Karena, distribution and abundance (jenis dan jumlah) ibarat pisau dengan dua sisi, ibarat uang logam dengan dua muka. Satu tapi dua. Contoh konkret: Misal, jika kita ketemu Elang Jawa 1 EKOR dibanding 5 EKOR di suatu daerah, apakah mengindikasikan hal yang sama? Jika hanya memandang keberadaan jenis saja (asal ada Elang Jawa), artinya bisa jadi dua daerah itu masih baik. Tapi kalo menilik jumlah (dan harus), artinya jadi lain. Daerah yang kedua (sementara) disimpulkan lebih baik karena mendukung jumlah individu lebih banyak. 2. Faktor keberadaan Misal, disuatu daerah kita tidak jumpa elang satu jenis / ekor pun, apakah kita boleh langsung menyimpulkan bahwa daerah itu sudah jelek / rusak / tidak cocok, sehingga tidak ada elang? Belum tentu... Keberadaan suatu jenis / individu di suatu daerah dapat disebabkan banyak faktor. Ada 4 faktor utama, yang mengkajinya harus urut: a. Kemampuan dispersal / menyebar. Contoh: Kasuari tidak bisa terbang, sehingga tidak dijumpai di Sulawesi (misal). Artinya belum tentu tidak adanya Kasuari di Sulawesi berarti lingkungan itu sudah rusak kan? b. Barier / hambatan. Contoh: Cendrawasih punya sayap (tak ada hambatan fisik), teorinya dia bisa terbang pindah kemana-mana. Namun tidak dijumpa di Sulawesi. Karena antara dua daerah itu ada hambatan laut yang luas. Tidak adanya Cendrawasih di Sulawesi tidak berarti lingkungan rusak kan? c. Faktor Biotik. Persaingan, pemangsaan, parasit, dsb. Suatu jenis bisa terbang (tanpa hambatan fisik), tidak ada pengahalan geografik (barier) tapi ternyata tidak dijumpai di suatu daerah. Bisa jadi ada faktor persaingan, sehingga dia tidak eksis (jenis NOL) atau jadi sedikit (individu sedikit). Contoh: Gelatik Jawa jadi berkurang karena salah satu faktor kalah bersaing dengan Burung Gereja yang lebih agresif. Padahal Gelatik punya sayap, tak ada barier, dan makanan (masih) melimpah. d. Faktor Lingkungan. Faktor ini baru dijadikan alasan terakhir jika ternyata ketiga faktor diatas tidak ada kendala. Apakah suhu, kelembaban, tempat sarang, ketersediaan makan, polusi, dsb. Eits, sori malah jadi kuliah... Yang jelas, untuk mengkaji suatu bioindikasi, perlu waktu yang tidak sebentar. Perlu data dan waktu yang cukup, supaya muncul atau terlihat pola / pattern. Jadi tidak sekali birdwatch, lihat ada elang, terus menyimpulkan.. habitat ini masih bagus, atau sebaliknya. Dalam sains harus dihilangkan faktor kebetulan. Kebetulan saja si elang lewat, kebawa angin kenceng kali..... Kang Bas --- Nina Nuraniyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > ..... apakah keberadaan mereka > merupakan suatu indikator bahwa lingk tersebut > bersih,.... > .....menurutq raptor ada diperkotaan karena > kemungkinan itu merupakan jalur migrasinya. jadi > keberadaan raptor di lingkungan tersebut bukan > berarti lingkungan itu menjadi bersih... > mf_purnadjaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Atau bahwa sesungguhnya tidak semua raptor > dapat dijadikan > indikator suatu lingkungan, nah lho? ____________________________________________________________________________________ No need to miss a message. Get email on-the-go with Yahoo! Mail for Mobile. Get started. http://mobile.yahoo.com/mail
