Kayaknya ini kali pertama ada email yang puanjang-puanjang.....menjawab amarah teh Irma sama Londo yang kalau nulis email cuman satu-dua kata hehehe..... sedikit tentang alap-alap di perkotaan..... jangan-jangan sebenarnya banyak...cuman kita aja yang kurang perhatian.....?!
jangan-jangan mereka juga bisa survive di kota besar seandainya saja kita bisa menyisakan sedikit ruang untuk mereka..... ige On 2/25/08, Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Terima kasih buar mas Satriya yg udah kasih penjelasan panjang lebar dan > ilmiah, mundur sampe ke jaman benua Pangaea segala. Saya malah gak pernah > berpikir sejauh itu:)...Juga buat mas Seno yg penjelasannya sangat > mencerahkan:) > > Terlebih dulu saya mau bilang bahwa latar belakang pendidikan saya > samasekali tak berkaitan dengan ekologi, biodiversity, biologi dll sehingga > maaf kalau tulisan saya terkesan "awam" soal ini.. > > Buat mas Satriya, penjelasannya menurut saya tak perlu ditarik begitu jauh > sampai jutaan tahun lalu ketika spesies2 juga belum lagi terbentuk spt > sekarang. Cukup ribuan atau bahkan ratusan atau puluhan tahun lalu, kalo > memang angsa baru beberapa puluh tahun lalu mendapati bahwa daerah tropis > cocok untuk habitat mereka, pasti mereka juga segera ekspansi menyebarkan > habitatnya ke daerah tropis. karena sifat mahluk hidup kan slalu ekspansi > mencari sumber pakan baru. Tapi ternyata mereka tak ekspansi ke daerah > tropis, mereka lebih memilih di sana dgn resiko persaingan antar sesama > karena populasi yg meningkat, datangnya musim dingin yg langka pangan dll. > padahal kalo di daerah tropis tak perlu repot2 terbang ribuan kilo untuk > menghindari datangnya salju. pasti ada sebabnya: mungkin daerah tropis tak > menyediakan cukup nutrisi untuk kelangsungan hidup burung sebesar mereka. > apalagi menu angsa2 itu mayoritas cuma aquatic plants (tumbuhan air yg hidup > di dasar kolam/telaga), yg tentunya nilai nutrisinya rendah (karena bukan > biji-bijian/buah tanaman). Mungkin aquatic plants di daerah tropis tak cukup > bergizi (soal ini akan saya bahas nanti) untuk menopang kehidupan mereka. > > Saya juga tak pernah bilang di daerah tropis tak ada jenis2 burung besar, > saya cuma bilang jumlahnya sedkit. saya ambil contoh yg gampang itu falco > peregrinus yg bisa bertahan hidup di kota london, sebabnya pasti karena di > sana masih banyak mangsa berupa burung2 besar yg bisa diburu. Sedangkan kalo > hidup di jakarta, dia mungkin tak akan survive karena di jakarta yg hidup > kebanyakan cuma burung2 kecil yg mungkin tak memadai untuk mangsa raptor > besar. Kalopun si Falco atau alap2 kawah ini bermigrasi ke tropis, jumlahnya > pasti juga tak banyak di satu tempat. Raptor besar di Jawa kebanyakan hidup > di tempat2 yg jauh dari habitasi manusia, kehadirannya ekslusif dan langka, > tidak "common" spt kehadiran peregrine falcon di london atau di kota2 empat > musim lainnya. > > COntoh lainnya juga burung gagak, di Indonesia di desa pun gagak jarang > bisa dijumpai, bahkan di luar jawa yg alamnya belum rusak, gagak bukan > pemandangan yg banyak dijumpai, apalagi di kota2 besar. Padahal common raven > atau Corvus corax (sejenis gagak tapi lebih besar, 60-70 cm) merupakan > pemandangan yg "common" di kota2 atau pedesaan empat musim, bukan eksklusif > dan hanya bisa diliat di tempat2 tertentu seperti di Indonesia. Itu sekedar > contoh aja. > > Soal rendahnya kepadatan populasi burung di daerah tropis ini, kemarin > saya cari2 di internet dan saya nemu hasil penelitian seorang avian > ecologist yg mendukung "teori" saya:) Dari hasil penelitiannya, ternyata > memang clutch size (jumlah telur yg dihasilkan tiap kali musim breeding), > kalau diurut berdasar latitude dari kutub sampai daerah tropis, yg paling > rendah adalah jumlah telur burung di daerah tropis. jadi burung tropis > bertelur lebih sedikit dibanding sepupu mereka yg tinggal di empat musim > (jika yg dibandingkan adalah burung dari jenis yg sama). Dan setelah dipilah > lagi, clutch size yg terendah itu terdapat pada daerah tropis yg benar2 > unseasonal (tanpa variasi musim samasekali sepanjang tahun), misalnya curah > hujannya sama/besar terus sepanjang tahun (daerah hutan hujan tropis). Di > daerah tropis yg lebih seasonal (misal terdapat perbedaan jelas antara musim > basah dan musim kering), walopun clutch size-nya juga rendah tapi tetaplah > tak serendah seperti di daerah tropis yg unseasonal. Ternyata bukan cuma > latitude yg mempengaruhi populasi, dinamika musim juga. > > Kenyataan itu pulalah yg mungkin menyebabkan kenapa kepadatan populasi > burung di daerah tropis relatif lebih rendah dibanding daerah empat musim > (di samping karena sebab2 lain, seperti dengan sangat bagus sudah dijelaskan > oleh Mas Seno). Jarang ada burung tropis yg bisa dijumpai dalam flocks > (kawanan yg mencapai puluhan atau ratusan burung dalam satu pohon), kecuali > burung2 kecil hama sawah. Tak seperti burung daerah empat musim. > > Buat Mas Seno, > soal perbedaan ukuran binatang dan hubungannya dengan latitude, kayaknya > memang pada bangsa burung fenomena itu memang ada tapi tak terlalu terlihat > jelas, tak selalu begitu. Kadang ada saja anomali. > Menurut saya fenomena perbedaan ukuran binatang antara binatang tropis dan > binatang daerah empat musim lebih jelas terlihat pada mamalia. Sekedar > contoh, harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) adalah harimau terkeci di > dunia. yang sedikit lebih besar adalah harimau jawa (panthera tigris > sondaica), lebih besar lagi adalah harimau india, dan jenis harimau yg > terbesar di dunia adalah harimau siberia yg hidup di korea, cina utara, > siberia dll. > > Kalo dilihat, ada yg menarik karena kok ya sama dengan clutch size pada > bangsa burung. yg ukuran tubuhnya terkecil adalah harimau daerah tropis > unseasonal seperti sumatra, yg relatif curah hujannya lebih tinggi sehingga > terdapat hutan hujan tropis. > harimau jawa ternyata sedikit lebih besar, dan jawa adalah pulau tropis yg > iklimnya seasonal, jelas banget perbedaan musim basah dan kering, bahkan di > daerah2 tertentu cenderung musim keringnya panjang setengah sabana (misal di > ujung Jatim). > Lebih besar dari harimau jawa adalah harimau india. iklim india, terutama > india utara, adalah subtropis yg juga ada perbedaan tegas musim basah dan > kering serta musim panas dan dingin (meski musim dinginnya tak bersalju > karena masih dekat dgn perbatasan tropis). > Dan harimau terbesar adalah jenis harimau siberia, yg hidup di daerah > "truly temperate" yg perbedaan musim panas dan dinginnya sempurna, ditandai > dengan turunnya salju di musim dingin, spt korea, cina utara, siberia. > > Harimau baru satu contoh, banyak contoh lain kalau mau nyari mah:) > > Radiasi matahari yg tinggi di daerah tropis memang satu keunggulan, yg > menyebabkan begitu banyak spesies (sembarang spesies, tak perlu spesies yg > kuat) bisa hidup dan punya habitat di daerah tropis. itu sebabnya > keanekaragaman spesies mahluk hidup di daerah tropis sangat tinggi. Tapi > soal mutu spesies, itu soal lain. Intensitas sinar matahari yg tinggi di > daerah tropis (dibarengi dengan ketersediaan air dan suhu yg hangat > sepanjang tahun) menyebabkan tumbuh2an terkondisi untuk tumbuh dan membesar > dengan cepat, hijau dan sangat rimbun. Tapi ternyata kehijauah dan > kerimbunan ini tak berbanding lurus dengan kandungan gizinya. Kecepatan > tumbuh ini, dipadu dengan sedikitnya mineral di tanah daerah tropis dan > tipisnya humus, menyebabkan tumbuhan tak bisa membentuk zat gizi yg cukup > banyak dalam proses pertumbuhannya. Sehingga, jika diukur, kandungan gizi > (terutama protein) pada daun-daunan atau segala tumbuhan di daerah tropis > relatif lebih rendah jika dibanding tumbuhan di daerah empat musim. DI > daerah tropis, tumbuh2an lebih banyak terdiri atas air dan serat, dan cuma > sedikit mengandung zat gizi (kalo tak yakin soal ini, silakan tanya ahli > biologi pertanian he he. saya sendiri cuma menghubung2kan logika saya > sendiri dengan literatur yg pernah saya baca). Kandungan gizinya, terutama > proteinnya, relatif rendah jika dibanding tumbuhan daerah empat musim. > > Menurut saya, ukuran yg kecil pada binatang daerah tropis itu juga salah > satu bentuk adaptasi biologis terhadap rendahnya kandungan protein pada > tumbuhan daerah tropis (yg merupakan sumber pakannya). Dengan bertubuh lebih > kecil, binatang itu butuh lebih sedikit protein untuk hidup sehingga > kebutuhan itu lebih mudah terpenuhi di tengah rendahnya sumber gizi di > daerah tropis. Kalau tubuhnya lebih besar, konsekwensinya mereka butuh lebih > banyak protein (yg mungkin tak bisa terpenuhi). Di samping itu (ini yg > sering saya baca) tubuh kecil lebih menguntungkan di daerah panas karena > lebih mudah melepas kelebihan panas. Sedangkan tubuh besar lebih > menguntungkan di daerah dingin karena tubuh yg besar lebih bisa > mempertahankan panas agar tak cepat hilang dari tubuh. > > Maaf kalau tulisan saya banyak yg salah, dan buat mereka yang banyak lebih > tau soal ini, tolong dibetulkan, karena saya sebenernya cuma awam, saya > nggak menguasai ilmu soal ini secara akademis. > > Regards, > Hasto P. > > * > > sena adisubrata <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Terima kasih mas Ige, ucapan selamat datangnya... > saya pingin gabung di milis ini biar dapat banyak info dari temen yang > udah banyak pengalaman lapangan....(kulakan informasi). > > menambahi komentar mas Satriya... > > memang ada korelasi antara iklim dengan kepadatan (tepatnya mungkin > kelimpahan dan distribusi) burung. Karakter iklim sebenarnya hanya merupakan > konsekuensi dari posisi geografis terhadap matahari sebagai sumber energi. > Semakin jauh dari matahari, semakin sedikit radiasi energi matahari. Negara2 > 4 musim biasanya menerima energi matahari lebih sedikit dari tropis, > sehingga lebih sedikit jenis organisme yang bisa survive di negara 4 musim > daripada di tropis. Akibatnya resources (pakan, shelter, breeding site dll) > yang tersedia bagi animal juga lebih sedikit ragamnya drpd tropis (namun > bisa jadi kuantitas per jenisnya lebih banyak). Satwa yang bisa > memanfaatkan resources itu juga terbatas. Sehingga jenis organisme (tidak > hanya satwa) di negara 4 musim lebih sedikit drpd tropis. > > Tropis melimpah energi mataharinya, demikian juga resourcesnya, sehingga > organisme yang survive juga lebih banyak. Namun karena faktor kompetisi dan > predasi, organisme harus 'struggle' dengan membentuk niche-nya > masing-masing. Sehingga jumlah jenis tetap banyak namun jumlah individu per > jenis lebih sedikit. Itu mungkin sebabnya mengapa kepadatan populasi di > tropis relatif lebih rendah daripada di negara 4 musim. > > Sedangkan korelasi antara ukuran tubuh dengan iklim, saya belum pernah > mengetahui secara jelas. Mungkin karena organisme yang bertubuh besar lebih > mampu beradaptasi. > > > Itu saja tambahan komentarnya > > terima kasih..... > > > seno > > > > > ------------------------------ > Lesen Sie Ihre E-Mails jetzt einfach von unterwegs mit *Yahoo! > Go*<http://uk.rd.yahoo.com/evt=51524/*http://de.mobile.yahoo.com/interstitial?refer=e00127>. > > > > ------------------------------ > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it > now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ> > > >
