Kang Hasto, Salam kenal. Hanya untuk informasi saja, buku Morten Strange tersebut sudah pernah kami (pak Darjono dan saya) review/ulas beberapa tahun lalu dalam jurnal yang disebut Raffles Bulletin (yang diterbitkan Raffles Museum, Singapore), atas permintaan redaksinya. Kalau berminat, saya bisa berikan informasi volume, nomor serta halaman jurnal tersebut yang memuat review dimaksud. Dewi
On 3/19/08, Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kemaren gw nemu buku bagus tentang burung Indonesia, judulnya A > Photographic Guide to the Birds of Indonesia (mungkin kawan2 milis di sini > sudah ada yg punya). Buku terbitan Periplus ini gw temuin di TB Periplus > juga. Mengulas 686 spesias burung Indonesia, baik yg migran maupun yg > resident, ditulis oleh birdwatcher (atau ornitologis?) dunia Morten Strange, > dengan kurang-lebih 700 foto full color. > > Gambarnya not bad, ulasannya tiap spesies menarik dan intelligently told, > disertai ulasan tentang habitat, peta geografi persebaran tiap spesies, > status konservasi, tip-tip tentang kapan dan dimana burung2 ini are most > likely to be seen buat para birdwatcher yg pengen spotting di habitat > aslinya, dll. Harganya 190 ribu perak, tapi worth it laaa... Salah satu > kekurangan buku ini adalah kertasnya terlalu tebel kaku berat sehingga buku > kecil setebal 400 hlm itu tebel dan berat banget untuk ukuran sekecil itu... > Walah mestinya gw dibayar neh sama Periplus karena mengiklankan buku ini di > situs para dedengkot pengamat burung, manaaaa neeeh he he.. > > Bukan cuma mengulas tiap spesies (tiap satu spesies diberi tempat satu > halaman full disertai foto), tapi di bagian depan buku juga ada 36 halaman > pengantar tentang latar belakang penyusunan, proses penyusunan, pengamatan > burung dan dokumentasi, kiat2 birdwatching, dll. > > Di antara pengantar itu ada yg menarik buat gw karena di situ banyak > tertulis kisah2 para pengamat burung Barat yg mengamati burung di Indonesia > yg pendapatnya mendukung teori saya sebelumnya (yg pernah gw posting di > milis ini) tentang rendahnya densitas burung (kepadatan populasi burung) di > Indonesia atau daerah tropis pada umumnya.. > > Di antaranya di buku itu disebut, istilah "common" (banyak terdapat dan > mudah terlihat) untuk burung di Indonesia sebenarnya tak sepenuhnya seperti > "common" pada burung2 di luar negeri atau di Barat sana. maksudnya, walaupun > diistilahkan sebagai "common bird", tetap saja sebenarnya burung itu di alam > Indonesia tak sebanyak atau tak semudah dijumpai spt burung2 yg masuk > kategori common di eropa. Dan pendapat ini ternyata tak cuma disampaikan > oleh satu orang, tapi oleh semua pengamat luar yg datang ke Indonesia. > > Menurut Mac Kinnon, "Birds in the Javan countryside are depressingly > scarce in both numbers and diversity". Tapi dalam buku ini diungkapkan, > berdasarkan banyak laporan, kata "Javan" di situ bisa diganti dengan > "Indonesian". jadi bukan cuma di Jawa keberadaan burung relatif langka dan > sulit dijumpai (dibandingkan dengan di negara mereka), tapi juga di > Indonesia secara umum. Hiks!!! > > Dikisahkan di situ seorang ornitologis Derek Holmes ngabisin waktu 18 hari > di suatu daerah yg masih relatif undisturbed (belum rusak konservasi > alamnya) untuk pengamatan burung dan dalam 18 hari itu dia tak menjumpai > satu ekor pun elang sayap hitam dan cuma menjumpai Spotted Kestrel satu > biji!! > > Satu biji dalam 18 hari???? Plis deh.... Padahal kestrel di Inggris sangat > lazim terlihat hovering di pinggir2 jalan ketika hari terik dan banyak > angin... > > Pengamat burung lainnya mengisahkan dia menghabiskan waktu 6 hari dan > berpindah2 sejauh 200 km di Kalimantan tanpa melihat satu ekor pun Hornbill > kecuali cuma 2 ekor Asian Pied Hornbill yg dikenal toleran thd perubahan > lingkungan. Pengamat2 Barat yang mengamati burung di Bali mengisahkan hal2 > yg sama, tentang susahnya menjumpai burung di Pulau Dewata.. > > Mungkin kemiskinan telah memakan korbannya juga di bidang konservasi > burung dalam bentuk turunnya populasi burung secara drastis karena perburuan > untuk dijual sbg burung piaraan atau kicauan, atau sekedar untuk bahan > makanan!! > > Faktor alamiah rendahnya densitas burung, ditambah perburuan yg massive, > lengkap sudah berpadu dan hasilnya adalah rendahnya densitas burung di > indonesia. dan dengan clutch size (jumlah telur tiap musim breeding) dan > jumalh anakan yg kecil di daerah tropis, kelangkaan burung itu akan sulit > dan lama untuk bisa recover..(menurut buku itu seeeeh). > > Mungkin tugas kita semua untuk membantu alam menyembuhkan dirinya, > sehingga populasi burung meningkat lagi... bukan cuma jadi pengamat > burung... > > Regards, > Hasto P. > > > > > > ------------------------------ > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> > > >
