Salam kenal juga:)
  Thanks Mbak Dewi atas infonya... Sorry saya baru tau buku itu kemarin waktu 
ke Periplus... dan saya juga baru tau n baru gabung milis ini sekitar sebulan 
yg lalu, jadi bener2 awam n gak tau perkembangan perburungan di Indon.. Ya 
kasih aja Mbak info nomor jurnal tsb.. Selain saya, orang laen mungkin juga 
butuh pengin baca... Apakah Raffles Bulletin itu ada di toko buku or di 
perpustakaan?
   
  Oh iya, info yg gw tulis kemaren itu juga ada yg keliru.. Ternyata setelah gw 
buka lagi, tiap spesies diulas dalam setengah halaman buku beserta foto, bukan 
satu halaman spt gw bilang kemaren.. Jadi tiap satu halaman memuat dua spesies. 
Sorry lupa euy:)

Dewi Prawiradilaga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Kang Hasto,
  Salam kenal.
  Hanya untuk informasi saja, buku Morten Strange tersebut sudah pernah kami 
(pak Darjono dan saya) review/ulas beberapa tahun lalu dalam jurnal yang 
disebut Raffles Bulletin (yang diterbitkan Raffles Museum, Singapore), atas 
permintaan redaksinya. Kalau berminat, saya bisa berikan informasi volume, 
nomor serta halaman jurnal tersebut yang memuat review dimaksud.
  Dewi

 
  On 3/19/08, Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:               Kemaren 
gw nemu buku bagus tentang burung Indonesia, judulnya A Photographic Guide to 
the Birds of Indonesia (mungkin kawan2 milis di sini sudah ada yg punya). Buku 
terbitan Periplus ini gw temuin di TB Periplus juga. Mengulas 686 spesias  
burung Indonesia, baik yg migran maupun yg resident, ditulis oleh birdwatcher 
(atau ornitologis?) dunia Morten Strange, dengan kurang-lebih 700 foto full 
color. 
   
  Gambarnya not bad, ulasannya tiap spesies menarik dan intelligently told, 
disertai ulasan tentang habitat, peta geografi persebaran tiap spesies, status 
konservasi, tip-tip tentang kapan dan dimana burung2 ini are most likely to be 
seen buat para birdwatcher yg pengen spotting di habitat aslinya, dll. Harganya 
190 ribu perak, tapi worth it laaa... Salah satu kekurangan buku ini adalah 
kertasnya terlalu tebel kaku berat sehingga buku kecil setebal 400 hlm itu 
tebel dan berat banget untuk ukuran sekecil itu... Walah mestinya gw dibayar 
neh sama Periplus karena mengiklankan buku ini di situs para dedengkot pengamat 
burung, manaaaa neeeh he he..
   
  Bukan cuma mengulas tiap spesies (tiap satu spesies diberi tempat satu 
halaman full disertai foto), tapi di bagian depan buku juga ada 36 halaman 
pengantar tentang latar belakang penyusunan, proses penyusunan, pengamatan 
burung dan dokumentasi, kiat2 birdwatching, dll. 
   
  Di antara pengantar itu ada yg menarik buat gw karena di situ banyak tertulis 
kisah2 para pengamat burung Barat yg mengamati burung di Indonesia yg 
pendapatnya mendukung teori saya sebelumnya (yg pernah gw posting di milis ini) 
tentang rendahnya densitas burung (kepadatan populasi burung) di Indonesia atau 
daerah tropis pada umumnya..
   
  Di antaranya di buku itu disebut, istilah "common" (banyak terdapat dan mudah 
terlihat) untuk burung di Indonesia sebenarnya tak sepenuhnya seperti "common" 
pada burung2 di luar negeri atau di Barat sana. maksudnya, walaupun 
diistilahkan sebagai "common bird", tetap saja sebenarnya burung itu di alam 
Indonesia tak sebanyak atau tak semudah dijumpai spt burung2 yg masuk kategori 
common di eropa. Dan pendapat ini ternyata tak cuma disampaikan oleh satu 
orang, tapi oleh semua pengamat luar yg datang ke Indonesia. 
   
  Menurut Mac Kinnon, "Birds in the Javan countryside are depressingly scarce 
in both numbers and diversity". Tapi dalam buku ini diungkapkan, berdasarkan 
banyak laporan, kata "Javan" di situ bisa diganti dengan "Indonesian". jadi 
bukan cuma di Jawa keberadaan burung relatif langka dan sulit dijumpai 
(dibandingkan dengan di negara mereka), tapi juga di Indonesia secara umum. 
Hiks!!!
   
  Dikisahkan di situ seorang ornitologis Derek Holmes ngabisin waktu 18 hari di 
suatu daerah yg masih relatif undisturbed (belum rusak konservasi alamnya) 
untuk pengamatan burung dan dalam 18 hari itu dia tak menjumpai satu ekor pun 
elang sayap hitam dan cuma menjumpai Spotted Kestrel satu biji!! 
   
  Satu biji dalam 18 hari???? Plis deh.... Padahal kestrel di Inggris sangat 
lazim terlihat hovering di pinggir2 jalan ketika hari terik dan banyak angin...
   
  Pengamat burung lainnya mengisahkan dia menghabiskan waktu 6 hari dan 
berpindah2 sejauh 200 km di Kalimantan tanpa melihat satu ekor pun Hornbill 
kecuali cuma 2 ekor Asian Pied Hornbill yg dikenal toleran thd perubahan 
lingkungan. Pengamat2 Barat yang mengamati burung di Bali mengisahkan hal2 yg 
sama, tentang susahnya menjumpai burung di Pulau Dewata..
   
  Mungkin kemiskinan telah memakan korbannya juga di bidang konservasi burung 
dalam bentuk turunnya populasi burung secara drastis karena perburuan untuk 
dijual sbg burung piaraan atau kicauan, atau sekedar untuk bahan makanan!! 
   
  Faktor alamiah rendahnya densitas burung, ditambah perburuan yg massive, 
lengkap sudah berpadu dan hasilnya adalah rendahnya densitas burung di 
indonesia. dan dengan clutch size (jumlah telur tiap musim breeding) dan jumalh 
anakan yg kecil di daerah tropis, kelangkaan burung itu akan sulit dan lama 
untuk bisa recover..(menurut buku itu seeeeh).
   
  Mungkin tugas kita semua untuk membantu alam menyembuhkan dirinya, sehingga 
populasi burung meningkat lagi... bukan cuma jadi pengamat burung...
   
  Regards,
  Hasto P.
   
   
   
   
    
---------------------------------
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.   
  
  
  






  

                           

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke