SOry sebelumnya kalo ini udah pernah ditulis di milis ini, gw orang baru men..
Friends, ada yg pernah birdwatching ke Cikaniki di taman nasional gunung
halimun?? Spesies burung apa aja yg ada di sana ya?
Gw sekitar 1,5 tahun yg lalu pernah dua kali kesono, tapi bukan dalam rangka
pengamatan burung dan juga gak bawa alat.. Jadi gak sempet perhatiin lebih
detail spesies burung apa aja yg ada. Ajak2 yaa kalo ada yg mau kesono, gw
pengin lagi kesono. Kalopun gak dapet banyak burung utk diamati, alamnya
amazing.. Enak buat sekedar santai atau nature-viewing..
Tempat ini cukup langka, karena di tengah hutan yg merupakan habitat macan
tutul jawa (Panthera pardus melas, kata petugas masih ada sekitar 40 ekor di
taman nasional ini), tapi ada penginapan sekelas hotel melati (yg sebenernya
adalah research station yg didirikan untuk pengamatan hutan tropis tipe
sub-montane, didirikan oleh peneliti2 dari Jepang, tapi kemudian dihibahkan ke
pemerintah RI dan jadi penginapan yg dikelola Dishut).
Jadi meski di tengah hutan, kita bisa tinggal di sana dengan akomodasi nyaman,
sembari duduk2 di berandanya, ngeliat monyet dan owa berloncatan dari pohon ke
pohon di samping station. Kalo beruntung, bisa ngeliat elang jawa atau elang
hitam melintas..
Dulu gw cuma sempet ngeliat jalak white-vented myna (Acridotheres javanicus) yg
berjalan2 di halaman research station. Ketika jalan2 dekat kebun teh tak jauh
dari station, ada elang melintas. sayangnya cukup tinggi sehingga gak gitu
jelas. Dari siluetnya dan warnanya yg hitam polos, kemungkinan besar itu elang
hitam (Ictinaetus malayensis). Walo elang jawa (Spizaetus bartelsi) juga ada di
sana, relatif lebih sulit ditemui. Dua kali kesono gw berhasil ngeliat elang
hitam, tapi selalu dari jarak cukup jauh.
Sedangkan mamalia yg berhasil gw temui waktu gw kesana adalah owa jawa (javan
gibon), yg mudah terlihat di pohon2 ketika kita jalan2, juga sigung (sejenis
racoon).
Karena ketinggiannya sekitar 900 sampai 1500 meter dpl, hutan di sini bertipe
hutan tropis tipe sub-montane, dengan beberapa spesies pohon yg tak terdapat di
hutan tropis dataran rendah.
Yg unik adalah berbagai varietas pohon oak (Quercus sp), yg dalam bahasa sunda
disebut "pohon pasang". Acorn (buah pohon oak, yg sebenarnya bukan buah
melainkan nut) dengan mudah bisa dijumpai berserakan jatuh di tanah di halaman
research station atau di pinggir jalan menuju kebun teh. Bentuknya persis spt
buah oak dari daerah empat musim / temperate. Tapi, sebagaimana umumnya pohon
di daerah tropis, pohon oak tropis ini daunnya berbentuk simple leaf (daun
tunggal), sedangkan pohon oak di daerah temperate umumnya daunnya berbentuk
compound leaf/lobed leaf (daun majemuk, yg bagian pinggirnya terbelah-belah
mengikuti jari-jari daun).
Di hutan daerah Cikaniki juga ada satu2nya spesies pohon maple (Acer sp) yg
tumbuh di derah tropis yg secara alami ada di daerah tropis asia tenggara,
yaitu Acer laurinum , yg dalam bahasa setempat disebut wuru dapung. Sayangnya
gw gak berhasil nemuin jenis maple ini waktu ke sana. Maple ini pun, meski
masih satu genus dengan maple yg hidup di daerah temperate, juga berdaun
tunggal, Tidak berdaun majemuk sebagaimana jenis2 maple di daerah temperate.
Hayooo apa sebabnya coba, kenapa pohon2 di daerah tropis kebanyakan berdaun
tunggal, tidak berdaun majemuk spt di daerah temperate?????? Bahkan pohon yg
merupakan anggota dari genus yg sama pun menunjukkan perbedaan ini antara
daerah tropis dan temperate.. Ada yg tau sebanya????
Sebenernya gw dari dulu kalo ke Cikaniki penginnya night-trekking, jalan2
menembus hutan di tengah malam. Asyik banget kita bisa nemuin hal yg gak pernah
kita temuin sehari2: pekatnya kegelapan malam dan kesunyian yg absolut, yg cuma
ditingkahi suara serangga dan fauna. Juga kesadaran bahwa kita tengah berada
tanpa sekat bersama para macan juga menimbulkan keasyikan tersendiri yg memacu
adrenalin.... Hmmm suasana yg sangat langka.. Pengin lagi night trekking
neeeh..., syukur2 bisa ketemu macan tutul di habitat aslinya he he he.
sayangnya jarang orang yg mau nemenin, takut kaleee ...
Taman nasional ini juga unik karena di beberapa tempat batasnya berkelok2,
tidak lurus, diselang seling dengan kebun teh dan kampung2 kecil yg cuma
terdiri atas beberapa rumah. kita bisa trekking dan mampir di rumah penduduk
untuk beli makan. Biasanya penduduk asli kalo malem gak pernah keluar, karena
malam hari adalah "the domain of the big cats" alias wilayah kekuasaannya para
kucing besar... Mereka menghormati malam sebagai bagiannya para macan dan
mereka tak mau mengganggu, sementara "orang-orang kota" yg dateng ke sana malah
kelayapan malam-malam, sok berani, kayak gue ha ha ha....
Menurut petugas di cikaniki, macan tutul sering dijumpai ketika senja, terutama
di daerah2 perbatasan antara pohon2 lebat dan kebun teh... Seorang temen pernah
mendengar suaranya waktu trekking, tapi petugas taman nasional gak mau bilang
itu macan, cuma dia nyuruh kita2 cepat2 angkat kaki dan anehnya dia lebih
ketakutan dibanding kita2 "orang kota" yg sok pemberani he he..
Asyik banget deh pohoknya tempat ini buat para nature-lover...
Salam,
Hasto P.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.