assalamu'alaikum wrwb
hehe, jadi tertarik nimbrung
kalo di bandung mah kutilang tersebar cukup merata. hampir di setiap tempat 
kita bisa menjumpainya. 
Bicons juga saat ini sedang melakukan program yang disebut ekspedisi kutilang.
Harapannya diperoleh informasi yang cukup lengkap tentang keberadaan burung 
tersebut. Saat ini ekspedisi kutilang sudah masuk ke fase 2 (tahun ke-2) 
semenjak digulirkannya program tersebut tahun kemarin.
untuk jenis trocokan/cerukcuk, di bandung juga jarang banget ditemuin
kita cuman bisa liat di beberapa tempat ajah. tapi kalo di daerah yang berada 
di kaki gunung kita bisa menjumpainya dengan mudah.Tapi memang tidak sesering 
kutilang

Wassalamu'alaikumwrwb
Ahmad
Koord.Pokja untuk Kowak Maling (BCNH Working Group) Bicons
www.dasarburung.wordpress.com
nugie nugraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
sekedar berbagi saja. di karimunjawa kita dapat menemukan Pycnonotus goiavier 
dengan tidak sulit, bahkan cukup banyak pada pulau-pulau tertentu. tetapi 
sebaliknya, kita akan sangat kesulitan untuk menemui Pycnonotus aurigaster di 
karimunjawa. bahkan, saya belum pernah bertemu jenis ini di alam, paling tidak 
saat medio 2006 sampai medio 2007. tidak intensif memang. bahkan jenis 
Pycnonotus aurigaster tidak kita jumpai di Buku jenis burung karimunjawa yang 
sudh diterbitkan. pada catatan burung-burung yang pernah dijumpaipun, mas 
hari-mkb susi dkk sebagai penulis juga tidak mencantumkannya. Sepanjang 
pengamatan saya, kebanyakan burung yang dipelihara penduduk adalah jenis 
Pycnonotus goiavier,  dalam konteks ini pembandingnya adalah Pycnonotus 
aurigaster . meskipun demikian, saya pernah menemui-dan ini adalah satu-satunya 
temuan saya, ada seorang penduduk yang memelihara Pycnonotus aurigaster . saat 
saya tanya  menangkap dimana, di jawab burung ini masuk kerumah dengan
 sendirinya. Kemungkinan, burung ini berasal dari luar karimunjawa yang dibawa 
penduduk dengan angkutan kapal. Biasanya, burung yang biasa dipelihara dari 
kecil, dia akan pulang atau masuk ke rumah jika lapar karena tidak terbiasa 
mencari makn di alam.
   
  di beberapa lokasi, dan ini sebatas pengamatan saya yang mungkin kurang 
ilmiah, kadang kita terlalau mudah menjumpai Pycnonotus aurigaster , tetapi 
sangat sulit menjumpai Pycnonotus goiavier . Mungkin, kita mudah menjumpai 
Pycnonotus aurigaster karena kelimpahanya cukup tinggi. sedangkan sulit 
menjumpai Pycnonotus goiavier karena kelimpahanya sangat rendah, dan begitupun 
sebaliknya. jika benar demikian menurut saya, keberadaan dan ketidakberadaan 
jenis tersebut tidak hanya terpisah karena perbedaan relung saja. tetapi ada 
faktor lain yang menyebabkan interaksi keduanya menggambarkan grafik yang  
berbanding terbalik. 
   
  bagaimana dengan natural history kedua jenis tersebut?
   
   
  salam
   
  an
   
  
Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Masuk akal juga seh penjelasan Bung Ady soal Pycnonotus aurigaster dan 
Pycnonotus goiavier.. Aurigaster lebih bisa beradapatasi dgn manusia dan lebih 
dekat dgn aktivitas manusia, jadi mudah terlihat. Sedangkan goiavier menempati 
segmen tajuk pohon yg lebih  tinggi sehingga tak mudah terlihat. Kalo saya lagi 
di joging trek di satu country club di jaktim, memang aurigaster terlihat di 
dahan2 pohon rendah, cuma 3-4 meter dari tanah, dan tak terbang menghindar 
ketika ada orang berlari di dekatnya.

Meski begitu, gw masih yakin jumlah goiavier alias trocokan ini di jakarta 
pasti jauh lebih sedikit dibanding aurigaster alias kutilang. Mungkin trocokan 
kalah bersaing dengan aurigaster, yg "lebih berani" dekat dgn manusia sehingga 
lebih sukses. 

Buktinya trocokan tak tercatat di daftar burung Monas maupun Senayan, padahal 
itu hasil pengamatan jago2 birdwatching he he.. berarti memang langka di 
jakarta secara umum, keculai di Jaksel spt dibilang.

BTW, aneh juga di Senayan ada cekakak sungai, padahal setau gw gak ada sungai 
ya di sana? kalopun ada sungai, apa ada ikannya sungai di jakarta yg item dan 
bau busuk? trus makan apa si cekakak ini ya?

Soal punai gading (Treron vernans) itu gw ngeliatnya beberapa  kali, dalam 
rentang waktu berbeda (berbulan-bulan). gw juga menduga itu burung lepasan, 
karena kok aneh ada burung sebagus itu secara alamiah ada di tengah kota. 
kecuali tekukur biasa yg memang bisa dijumpai di banyak tempat di jakarta, 
sampai ke kawasan2 permukiman, bukan cuma di taman/hutan kota.

Ady Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      
  
He he he, saya akan coba menjawab semua pertanyaan rekan-rekan.
   
  Buat Imam, di Jakarta sendiri Cinenen jawa lebih dominan dari daerah pesisir, 
perkebunan hingga taman kota, sedangkan cinenen kelabu hanya terbatas di daerah 
perkebunan dan mangrove. 
   
  untuk kasus kutilang dengan merbah cerukcuk, sejauh pengamatan saya, memang 
ada pemisahan relung diantara keduanya, yang sangat jelas terlihat di daerah 
Taman Suropati, dimana  kutilang selalu berada di bawah lantai hingga 
ketinggian 10 m, sedangkan merbah cerukcuknya selalu berada di atas ketinggian 
15 m. seperti yang bung hasto kemukakan, kutilang memang lebih bisa beradaptasi 
hingga aktifitasnya bisa dekat dengan manusia, namun cerukcuk masih menjaga 
jarak dengan aktifitas manusia. tetapi cerukcuk masih banyak dijumpai di 
hutan-hutan kota di selatan Jakarta. dikarenakan disana masih ada pohon-pohon 
yang tinggi tempat burung ini berlindung, berbeda dengan di monas yang pohonnya 
tidak terlalu tinggi jadi bukan karena ditangkepin he he he 
   
  Untuk listnya, memang ini list hingga awal tahun 2007, sedangkan untuk punai 
gading saya menemukannya pada pertengahan tahun 2007. punai gading sama seperti 
jalak suren dan satu jenis lagi yaitu puter atau dederuk jawa yang dilepas oleh 
dinas pertamanan. tetapi prinsip saya, burung tersebut akan saya cantumkan  
dalam list jika dia bertahan setidaknya dalam waktu 2 tahun. jalak suren 
sendiri telah dilepaskan dari sejak tahun 2000.
   
  Untuk raptor di Jakarta, seperti yang Jihad bilang. memang pada bulan-bulan 
tertentu jenis-jenis seperti sikep madu asia, elang alap cina, dan elang alap 
nipon datang dan berkunjung ke Jakarta, biasanya gampang terlihat pada bulan 
maret hingga april ketika mereka migrasi balik, sedangkan ketika awal migrasi 
yaitu pada bulan oktober - november, mereka memang ada tapi mereka hanya 
numpang lewat dan tebangnya pun tinggi sekali. untuk sikep madu asia, karena 
badannya yang besar mereka hanya melintas di daerah selatan, sedangkan untuk 
elang alap, mereka terkadang melewati daerah sudirman hingga utara ke muara 
angke, saya menemukannya pada awal 2007 elang alap cina yang sedang memangsa 
capung di daerah ITC kuningan, sedangkan teman saya yang ada di AC nielsen, 
melaporkan elang alap nipon sering bertengger di samping ruangannya di  lantai 
15 kawasan sudirman.  
   
  Nah untuk alap-alap sapi atau kestrel, dahulu hoogerwerf melaporkan adanya 
perjumpaan dengan burung ini pada tahun 1936 hingga 1950an. namun semakin 
pesatnya perkembangan Jakarta memasuki tahun 1970an, banyak jenis-jenis yang 
hilang. kalo alap-alap capung sepertinya memang tidak pernah tercatat di 
Jakarta. untuk serak jawa (tyto alba) kita masih bisa menemukannya di daerah 
selatan seperti di hutan kota UI, dan hutan wisata kali pesanggrahan.
   
  Untuk Jakarta Birdwatcher's Community saat ini kita memang belum punya 
markas, namun sedang diusahakan tahun ini untuk ada. sebagai informasi pada 
tanggal 1 Juni besok JBC akan mengadakan pengamatan rutin di Kebun Binatang 
Ragunan, sedangkan pada tanggal 7 - 8 JBC berkerjasama dengan JGM kembali 
mengadakan monitoring burung di Angke, monggo jikalau mau bergabung.
   
  Semoga jawabannya bisa menjawab semua  pertanyaan rekan-rekan, jika masih ada 
yang mau ditanyakan, mari kita diskusikan
   
  Ady Kristanto

  


  



           
     
                                       

       

Kirim email ke