bung Hasto....and all
di Prambanan pernah terlihat cekakak sungai makan
anakan bondol......
kali aja tuh burung di jakarta juga dah punya variasi
makan anakan bondol atau anakan burung lain......
untuk soal kutilang sama trocokan, di prambnan
kutilang lebih bisa beradaptasi sama manusia, kadang
makan sisa makanan pengunjung juga gabung sama gereja
dan kadang juga gelatik jawa.....apa lagi kalo
pagi-pagi.....
kalo trocokan malah jarang ditemukan di bawah,
seringnya di tajuk pohon menyendiri....kadang berdua
juga....trus jarang juga aku lihat kutilang dan
trocokan barengan...pernah ada penelitian
dulu....banget perbedaan relung antara Kutilang dan
Trocokan, ada tuh di F.Kehut UGM....
salam
Naring
--- nugie nugraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> sekedar berbagi saja. di karimunjawa kita dapat
> menemukan Pycnonotus goiavier dengan tidak sulit,
> bahkan cukup banyak pada pulau-pulau tertentu.
> tetapi sebaliknya, kita akan sangat kesulitan untuk
> menemui Pycnonotus aurigaster di karimunjawa.
> bahkan, saya belum pernah bertemu jenis ini di alam,
> paling tidak saat medio 2006 sampai medio 2007.
> tidak intensif memang. bahkan jenis Pycnonotus
> aurigaster tidak kita jumpai di Buku jenis burung
> karimunjawa yang sudh diterbitkan. pada catatan
> burung-burung yang pernah dijumpaipun, mas hari-mkb
> susi dkk sebagai penulis juga tidak mencantumkannya.
> Sepanjang pengamatan saya, kebanyakan burung yang
> dipelihara penduduk adalah jenis Pycnonotus
> goiavier,  dalam konteks ini pembandingnya adalah
> Pycnonotus aurigaster . meskipun demikian, saya
> pernah menemui-dan ini adalah satu-satunya temuan
> saya, ada seorang penduduk yang memelihara
> Pycnonotus aurigaster . saat saya tanya menangkap
> dimana, di jawab burung ini masuk kerumah dengan
>  sendirinya. Kemungkinan, burung ini berasal dari
> luar karimunjawa yang dibawa penduduk dengan
> angkutan kapal. Biasanya, burung yang biasa
> dipelihara dari kecil, dia akan pulang atau masuk ke
> rumah jika lapar karena tidak terbiasa mencari makn
> di alam.
>    
>   di beberapa lokasi, dan ini sebatas pengamatan
> saya yang mungkin kurang ilmiah, kadang kita
> terlalau mudah menjumpai Pycnonotus aurigaster ,
> tetapi sangat sulit menjumpai Pycnonotus goiavier .
> Mungkin, kita mudah menjumpai Pycnonotus aurigaster
> karena kelimpahanya cukup tinggi. sedangkan sulit
> menjumpai Pycnonotus goiavier karena kelimpahanya
> sangat rendah, dan begitupun sebaliknya. jika benar
> demikian menurut saya, keberadaan dan
> ketidakberadaan jenis tersebut tidak hanya terpisah
> karena perbedaan relung saja. tetapi ada faktor lain
> yang menyebabkan interaksi keduanya menggambarkan
> grafik yang berbanding terbalik. 
>    
>   bagaimana dengan natural history kedua jenis
> tersebut?
>    
>    
>   salam
>    
>   an
>    
>   
> Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Masuk akal juga seh penjelasan Bung Ady
> soal Pycnonotus aurigaster dan Pycnonotus goiavier..
> Aurigaster lebih bisa beradapatasi dgn manusia dan
> lebih dekat dgn aktivitas manusia, jadi mudah
> terlihat. Sedangkan goiavier menempati segmen tajuk
> pohon yg lebih tinggi sehingga tak mudah terlihat.
> Kalo saya lagi di joging trek di satu country club
> di jaktim, memang aurigaster terlihat di dahan2
> pohon rendah, cuma 3-4 meter dari tanah, dan tak
> terbang menghindar ketika ada orang berlari di
> dekatnya.
> 
> Meski begitu, gw masih yakin jumlah goiavier alias
> trocokan ini di jakarta pasti jauh lebih sedikit
> dibanding aurigaster alias kutilang. Mungkin
> trocokan kalah bersaing dengan aurigaster, yg "lebih
> berani" dekat dgn manusia sehingga lebih sukses. 
> 
> Buktinya trocokan tak tercatat di daftar burung
> Monas maupun Senayan, padahal itu hasil pengamatan
> jago2 birdwatching he he.. berarti memang langka di
> jakarta secara umum, keculai di Jaksel spt dibilang.
> 
> BTW, aneh juga di Senayan ada cekakak sungai,
> padahal setau gw gak ada sungai ya di sana? kalopun
> ada sungai, apa ada ikannya sungai di jakarta yg
> item dan bau busuk? trus makan apa si cekakak ini
> ya?
> 
> Soal punai gading (Treron vernans) itu gw ngeliatnya
> beberapa kali, dalam rentang waktu berbeda
> (berbulan-bulan). gw juga menduga itu burung
> lepasan, karena kok aneh ada burung sebagus itu
> secara alamiah ada di tengah kota. kecuali tekukur
> biasa yg memang bisa dijumpai di banyak tempat di
> jakarta, sampai ke kawasan2 permukiman, bukan cuma
> di taman/hutan kota.
> 
> Ady Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      
>   
> He he he, saya akan coba menjawab semua pertanyaan
> rekan-rekan.
>    
>   Buat Imam, di Jakarta sendiri Cinenen jawa lebih
> dominan dari daerah pesisir, perkebunan hingga taman
> kota, sedangkan cinenen kelabu hanya terbatas di
> daerah perkebunan dan mangrove. 
>    
>   untuk kasus kutilang dengan merbah cerukcuk,
> sejauh pengamatan saya, memang ada pemisahan relung
> diantara keduanya, yang sangat jelas terlihat di
> daerah Taman Suropati, dimana kutilang selalu berada
> di bawah lantai hingga ketinggian 10 m, sedangkan
> merbah cerukcuknya selalu berada di atas ketinggian
> 15 m. seperti yang bung hasto kemukakan, kutilang
> memang lebih bisa beradaptasi hingga aktifitasnya
> bisa dekat dengan manusia, namun cerukcuk masih
> menjaga jarak dengan aktifitas manusia. tetapi
> cerukcuk masih banyak dijumpai di hutan-hutan kota
> di selatan Jakarta. dikarenakan disana masih ada
> pohon-pohon yang tinggi tempat burung ini
> berlindung, berbeda dengan di monas yang pohonnya
> tidak terlalu tinggi jadi bukan karena ditangkepin
> he he he 
>    
>   Untuk listnya, memang ini list hingga awal tahun
> 2007, sedangkan untuk punai gading saya menemukannya
> pada pertengahan tahun 2007. punai gading sama
> seperti jalak suren dan satu jenis lagi yaitu puter
> atau dederuk jawa yang dilepas oleh dinas
> pertamanan. tetapi prinsip saya, burung tersebut
> akan saya cantumkan dalam list jika dia bertahan
> setidaknya dalam waktu 2 tahun. jalak suren sendiri
> telah dilepaskan dari sejak tahun 2000.
>    
>   Untuk raptor di Jakarta, seperti yang Jihad
> bilang. memang pada bulan-bulan tertentu jenis-jenis
> seperti sikep madu asia, elang alap cina, dan elang
> alap nipon datang dan berkunjung ke Jakarta,
> biasanya gampang terlihat pada bulan maret hingga
> april ketika mereka migrasi balik, sedangkan ketika
> awal migrasi yaitu pada bulan oktober - november,
> mereka memang ada tapi mereka hanya numpang lewat
> dan tebangnya pun tinggi sekali. untuk sikep madu
> asia, karena badannya yang besar mereka hanya
> melintas di daerah selatan, sedangkan untuk elang
> alap, mereka terkadang melewati daerah sudirman
> hingga utara ke muara angke, saya menemukannya pada
> awal 2007 elang alap cina yang sedang memangsa
> capung di daerah ITC kuningan, sedangkan teman saya
> yang ada di AC nielsen, melaporkan elang alap nipon
> sering bertengger di samping ruangannya di lantai 15
> kawasan sudirman.  
>    
>   Nah untuk alap-alap sapi atau kestrel, dahulu
> hoogerwerf melaporkan adanya perjumpaan dengan
> burung ini pada tahun 1936 hingga 1950an. namun
> semakin pesatnya perkembangan Jakarta memasuki tahun
> 1970an, banyak jenis-jenis yang hilang. kalo
> alap-alap capung sepertinya memang tidak pernah
> tercatat di Jakarta. untuk serak jawa (tyto alba)
> kita masih bisa menemukannya di daerah selatan
> seperti di hutan kota UI, dan hutan wisata kali
> pesanggrahan.
>    
>   Untuk Jakarta Birdwatcher's Community saat ini
> kita memang belum punya markas, namun sedang
> diusahakan tahun ini untuk ada. sebagai informasi
> pada tanggal 1 Juni besok JBC akan mengadakan
> pengamatan rutin di Kebun Binatang Ragunan,
> sedangkan pada tanggal 7 - 8 JBC berkerjasama dengan
> JGM kembali mengadakan monitoring burung di Angke,
> monggo jikalau mau bergabung.
>    
>   Semoga jawabannya bisa menjawab semua pertanyaan
> rekan-rekan, jika masih ada yang mau ditanyakan,
> mari kita diskusikan
>    
>   Ady Kristanto
> 
>   
> 
> 
>   
> 
>                            
> 
>        



      

Kirim email ke