Sebelomnya gw mo komentar soal foto bango tongtong kang bas, kayaknya itu bango di kebun binatang kaleee.. soalnya sekelilingnya rumput rapi, seperti bukan habitat bangau:) Burung2 yg ada di sekitar rumah?? Oke deh gw mo cerita burung2 di sekitar rumah gw (tepatnya rumah ortu gw) di kampung di pinggiran sebuah kota kecil di Jateng, secara gw sekarang tinggal di jakarta. Rumah kuno dengan delapan kamar yg dulu pernah ditinggali seluruh anggota keluarga yg berjumlah 14 orang (bapak-ibu, sembilan anak, dua pembantu, dan satu orang adik ibu yg tinggal bersama kami) Gw mulai dari burung2 yg kecil yaa.. Di kebun samping rumah, ada pohon kelapa genjah, di situ banyak bergelantungan sarang manyar (Ploceus manyar), yg dibuat dari anyaman rumput bulat seperti bola yg tertutup di atas, dengan corong tempat keluar masuk yg memanjang ke bawah. Satu pohon kelapa itu biasanya ada 4-5 sarang. Trocokan (Pycnonotus goiavier) sesekali singgah, tapi tak bersarang di kebun itu. Di halaman depan, ada cemara hias kerdil. Kalau pagi, burung2 bondol (Lonchura maja) riuh datang dan pergi karena bersarang di situ, dengan ketinggian cuma 3 meteran dari tanah. Juga pipit jawa (Lonchura leicogastroides). DI pekarangan belakang, yg penuh dgn rumpun bambu dan pepohonan buah dan selalu teduh sepanjang siang, dimana juga terdapat kandang2 sapi dan kerbau, pohon sawo tua raksasa, anak2 seringkali bercanda memanggil si kepodang (Oriolus chinensis) yg dalam lidah lokal disebut "pudang". Anak2 akan berseru "pudang-pudang utange piro? (pudang utangnya berapa?)" Yg segera dijawab oleh si pudang dengan "pitungpuluh" (tujuh puluh), karena siulan si kepodang memang mirip ucapan "pitungpuluh" he he he...Kreatif juga si anak anak:). Seringkali juga, salah satu Kakak saya "mengunduh" anakan perkutut dari sarangnya di pucuk2 bambu yg tinggi untuk dilatih bersuara bagus, tapi selalu gagal. Ketika lewat tengah hari, suara panggilan kedasih (Cacomantis merulinus) dengan nadanya yg memilukan dan menyiratkan kesedihan itu, sering terdengar dari pekarangan belakang. Suara panggilannya yg khas itu memang bikin ngelangut dan sedih hati yg mendengarnya. itu sebabnya orang inggris menamakan si kedasih sebagai plaintive cuckoo alias si cuckoo yang sedih-murung (plaintive). DI tepi kolam ikan gurame persis di belakang rumah, ada pohon nangka besar. pohon nangka itu hanya beberapa meter dari jendela kamar biasa aku tidur. Kalo malam, hampir selalu ada suara burung hantu (dalam lidah lokal disebut "kokok beluk"), yg bikin suasana malam jadi eerie dan sedikit sereem...hiiiiii. Sementara itu, dederuk jawa sering bertengger dikala siang di pelepah kelapa tinggi menjulang yg tumbuh di ujung timur kolam ikan. Di waktu2 tertentu yg jarang terjadi, beberapa burung gagak (Corvus macrorhynchos) yang nyaris sebesar elang juga berkelepakan di pelepahnya, berkaok2 riuh dengan suaranya yg serak dan buruk. Dan orang2 tua pun bilang bahwa itu pertanda akan datang berita buruk/kematian. Sepelemparan batu dari rumah, di kebun yg luas di sebelah timur rumah milik kakekku, dimana terdapat kuburan kuda milik keluarga, ada beberapa pokok bayur tinggi menjulang. di waktu2 tertentu yg jarang juga terjadi, elang hitam melayang2 rendah nyaris menyentuh pucuk2 bayur, mengintai ayam2 kampung piaraan penduduk. begitu rendahnya sehingga keliatan betapa besar dan gagahnya si elang, begitu mayestik, membuat kagum dan terpesona siapa pun yg memandangnya. sayapun sering terkesima memandangnya dar bawah. Kalau sudah begitu, biasanya ayam2 akan segera mengeluarkan teriakan2 aneh (alarming call) tanda ada bahaya dan segera berlarian berlindung ke bawah semak2 begitu terliat kelebat bayangan besar melayang di atas pucuk2 pepohonan. induk ayam riuh memanggil anak2nya berkumpul. Hmm betapa indahnya hidup di rumah berbagi tempat dengan burung2, apalagi burung2 sebesar gagak dan elang... dan kita tak perlu ke hutan atau daerah terpencil untuk melihatnya... TAPIIIII, cerita di atas yg gw tulis itu bukan terjadi sekarang. itu semua terjadi waktu gw masih anak SD, puluhan tahun yg lalu, hiks! SEKARANG sudah begitu lama sejak terakhir kali burung2 itu hidup bersama kami. Puluhan tahun yang lalu mereka sudah lenyap. yg tersisa di kampung kami sekarang cuma beberapa burung gereja kurus jelek yg sesekali terlihat. bahkan pipit pun yg kecil sulit dijumpai. Apalagi gagak dan elang, keduanya sudah menjadi bagian dari sejarah yg tak mungkin kembali. Takkan ada keajaiban yg bisa mengembalikan mereka ke kampung kami, kecuali kalau ada mesin waktu untuk membawa kami kembali ke masa silam yg jauh dan nglangut itu. Hiks! Sekarang bahkan jauh lebih mudah menemukan burung di metropolitan jakarta dibanding di kampung kami, bahkan trocokan sekalipun susah ditemui. padahal di jakarta, ketilang bisa dijumpai dengan mudah. Kebun di samping rumah tempat manyar dulu biasa bersarang, sekarang sudah jadi rumah. rumpun2 bambu yg teduh di pekarang belakang sudah lenyap, berganti dengan rumah2 yg terbuat dari tembok tapi jelek dan tidak estetis, khas negara dunia ketiga yg dishevelled dan rustic. Kolam ikan di belakang rumah sudah lama kering karena sumber air dari sawah di pinggir desa juga mengering seiring dengan hilangnya sawah. pohon nangka itu sudah tua dan mati. pucuk2 bayur berganti dengan antena TV dan parabola, sementara hamparan teduh oleh pepohonan di bawahnya sekarang sudah tertutup rumah2 sepupu gw. Tak ada lagi tempat untuk burung. dan tak ada lagi pohon2. di mana2 tembok dan genteng. Kalopun ada pohon, cuma pohon2 jambu ato rambutan cangkokan yg rendah dan pendek. burung pun tak mungkin mau bersarang di situ. Sementara itu, jauh di pinggiran desa, sawah2 yg dulu hijau sudah jadi kompleks perumahan kelas bawah. Tak seperti kompleks perumahan mewah di jakarta yg biasanya menyisakan jalur untuk ditanami pohon di pinggiran jalan2nya, di kompleks perumahan kelas bawah kampung kami tak ada tempat tersisa untuk menanam pohon. Kalopun ada pohon, pohon2 itu selalu tumbuh kurus-kerdil dan jelek, dengan daun2 yg tumbuh jauh lebih kecil dari yg seharusnya karena kekurangan nutrisi. warnanya pun kusam pucat. Sebabnya, tanah tempat mereka tumbuh dulunya adalah bekas sawah, yg sudah berabad2 "dieksploitasi", sehingga sudah kehabisan unsur haranya. Tak seperti di jakarta, dimana pohon2 cenderung tumbuh besar dan subur meskipun akar2 mereka terkungkung, kepentok sana-sini oleh pondasi jalan, pondasi bangunan, terpotong oleh proyek selokan dan got, karena tanahnya bukan bekas sawah. Dan burung2 justru lebih banyak di metropolitan jakarta ketimbang di kampung kami. Sebuah ironi???? Mungkin. Anak2 yg sekarang tumbuh di kampung kami tak lagi bisa bercanda dengan kepodang, mengunduh sarang bondol dari pohon untuk diberi makan anaknya yg masih cindil (walo biasanya akhirnya mati karena kurang gizi lantaran cuma dikasih makan tepung beras dicampur air), atau melihat gagak dan gagahnya elang. Sekarang anak2 itu cuma bisa dengar cerita tentang mereka, atau melihat gambar-gambar mereka di buku cerita dan televisi. Hiks. Hasto P. Irawan
--- On Wed, 7/2/08, Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [SBI-InFo] Re: foto rumah To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Date: Wednesday, July 2, 2008, 9:53 AM Setelah hampir lebih dari satu minggu ternyata baru 3 orang yang punya cerita tentang burung disekitar rumah, Kang Dwi malah nyaranin riset....bagus juga nih temanya....trimakas ih ya buat kawan-kawan yang sudah berbagi cerita.... buat Nonie...itu rumah di jakarte' ye ? buat mbak Wulan...wah pasti mess nya di deket hutan ya....? nah, menarik ini dari pak Bas...bayangin kalau jaman dulu, dimana bangau tong-tong sama (mungkin) jalak uren berkeliaran disekitar rumah ini dapat terulang kembali sekarang.... .kelihatan kan dari jenis-jenis yang sekarang berkeliaran disekitar rumah, adalah jenis yang kecil-kecil. ...apa mengkeret ya ? karna global warming ? halah...wagu. ....hipotesanya. ...!! monggo-monggo dilanjut kalau masih ada yang mau urun cerita dan foto pastinya.... trimankasih. ... ige 2008/6/25 Kang Bas <[EMAIL PROTECTED] com>: Sampurasun.. . Ada Pak Lik... Tapi foto jadul (lagi) ki, piye? Laku nggak? Tapi lumayan untuk referensi to, bahwa jaman dulu sangat biasa bagi burung untuk berkeliaran di rumah orang. Tidak terbayang bagaimana dahsyatnya jaman dulu, si mbah botak Tongtong sangat umum jalan2 di halaman rumah, di Jakarta lho, dulu tapi.... Kalau jaman sekarang mimpi kali yee... Yang foto baru.... bongkar-bongkar gudang dulu ya Pak Lik... Kang Bas --- On Wed, 6/25/08, Yayasan Kutilang Indonesia <kutilangindonesia@ yahoo.com> wrote: request for help nih..... ada yang punya rumah dan disekitarnya masih bisa kita temui burung ? misalnya kutilang atau jenis yang lain..... nah, kalau ada yang punya rumah dan masih ada burung disekitar rumah nya, tolong di kirim foto nya lewat milist ini ya....syukur bisa kelihatan landscape rumahnya.... trims ya.... ige
