orang awam ikutan nimbrung juga ah, kalau menurutku ada tiga hal yang musti dipersiapkan terlebih dahulu entah bertahap atau bersamaan. pertama tentang pemulihan daya dukung habitat, kedua perlindungan yang lebih baik dan ketiga membangun kesadaran masyarakatnya.
percuma kalau hanya sekedar pelepas liaran, trus gak diapa-apain, termasuk menggantungkan penjagaan hanya kepada petugas keamanan setempat. musti ada peraturan secara jelas yang melarang perburuan ditempat itu. trus habitatnya juga diperbaiki, kalau tidak paling2 tidak mati diburu tapi mati kelaparan, stres atau kena penyakit. penjagaan kawasan tidak cukup apalagi raptorkan daerah jelajah luas, jadi musti ada arus bawah yang membangun kesadaran masyarakatnya. sukur2 bisa melibatkan masyarakat secara langsung. misalnya setelah raptor cukup eksis, temen2 sering pengamatan bersama trus kalau jajan di sekitar lokasi jangan bawa bekal banyak2 dari rumah sebari sosialisasi kenapa temen2 disitu atau gimanalah caranya agar masyarakat juga merasa memiliki. Kalau di prambanan (untuk Gelatik Jawa/GJ) luas kawasan mencapai 80 Ha, secara fungsional merupakan taman wisata yang dipagari memutar, tiap2 akses masuk dijaga satpam, ada jadwal rutin patroli juga. tapi perburuan GJ masih juga ada, karena dilakukan di luar area. ketika sudah tahu siapa pemburunya, tidak bisa berbuat banyak karena perlindungan hukumnya tidak ada. toh kalaupun diadakan sekarang, perburuan adalah profesi tunggal mereka sejak dulu, so kalau melarang berburu juga musti mencarikan solusi alias pekerjaan donk. kemarin saja pas GJ yang saya pasangi transmiter ketangkap pemburu, musti nebus juga... gimana nich kalau menurut para "sesepuh" konservasi di milis ini? salam, Jarot ----- Pesan Asli ---- Dari: Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Rabu, 23 Juli, 2008 23:14:54 Topik: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? Kalau ada raptor bakal habis dtembakin pemburu burung di Monas? Kalo menurut gw mah enggak juga tuh, karena di Monas selalu dijaga 24 jam oleh Brimob dan Satpol PP yg secara reguler juga masuk sampe ke tengah2 taman, ke rerimbunan2 pohon yang tak kelihatan. Sehingga jangankan bawa senapan buat nembak (yg pasti keliatan gede), bawa plintheng aja pasti ketahuan. Karena amannya dari gangguan manusia (meski tiap hari ratusan orang masuk ke Monas), burung2 di Monas jadi gak takut pada manusia. Sampai2 tekukur banyak berjalan2 di tanah dekat dengan manusia yg duduk2, karena mereka telah lama belajar bahwa ternyata manusia di situ tak pernah ada yg mengejar2 mereka, padahal di tempat lain tidak. Di samping memantau gangguan terhadap satwa, satpol PP dan brimob di monas juga menjaga agar Monas tidak dimanfaatkan sebagai tempat mesum gratisan he hehe.. Karena di hari kerja (bukan hari libur), Monas lumayan sepi sehingga memungkinkan pasangan2 yg duduk di bangku2 tersembunyi di tengah taman melakukan hal2 yg ehm ehm horroorrr... tau sendirilah.. ..:) --- On Wed, 7/23/08, Irma Dana <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Irma Dana <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? To: [EMAIL PROTECTED] s.com Date: Wednesday, July 23, 2008, 3:45 AM kalo raptor di lepad di Monas...pasti di uber2 sama pemburung burung deh Mas Hasto:) di hutan aja abis di buru, apalagi di tengah kota ya....he...he. ..ini jawaban dari orang awam juga lho! Ayo teman-teman pencinta raptor...dijawab ya... peace, irma 2008/7/23 Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>: Mas2, Mbak2, dan Adik2 para aktivis n ahli perburungan di milis ini (kayaknya gw doang ya orang awam yg nyelonong jadi member milis ini?), gw mo nanya, mungkin gak sih melakukan reintroduksi (semacam pelepasliaran) spesies burung raptor yg telah punah di suatu daerah (dengan melepas burung yg berasal dari tempat lain) supaya populasi spesies itu kembali recover di tempat tersebut?? Selama ini gw udah liat berbagai daftar spesies2 burung yg hidup di monas, senayan, atau di kota bandung, tak pernah ada satu pun spesies raptor di dalamnya. Bahkan di pedesaan pun raptor adalah pemandangan yg sangat langka di indonesia, terutama raptor resident, bukan migrant. gw pikir para raptor itu tak dijumpai lagi di jakarta semata2 bukan karena daya dukung habitatnya tak lagi memadai untuk survival raptor, tapi terutama lagi karena campur tangan manusia (ditangkap untuk diperdagangkan, ditembak dll) yg menyebabkan kepunahannya. Jadi, menurut gw, populasi mereka sebenarnya bisa pulih seandainya ada uluran tangan/bantuan manusia. Misalnya dengan mereintroduksi spesies raptor yg dulunya ada tapi sekarang telah punah di tempat itu, dgn mendatangkan dari tempat lain kemudian dilepas di situ. Untuk di kota jakarta, terutama bisa dicoba untuk raptor2 kecil. Kalo raptor besar sih kemungkinan habitatnya memang tak mampu lagi mendukung kelangsungan hidupnya, karena ketiadaan mangsa berupa burung2 yg berukuran besar yg tinggal di kota. (Aneh juga soal ini, padahal di tempat2 lain, raptor besar semacam Falco peregrinus masih banyak bertahan hidup di kota2 besar, misal di kota2 Eropa sana. Juga di pedesaan Inggris, menurut video Return of the Eagle Owl keluaran BBC, di situ dikatakan rata-rata ada sepasang common buzzard tiap jarak 800 meter di sana. berarti densitas raptor di sana cukup tinggi) Memang gw awam dan belom pernah melakukan studi kelayakan apakah habitat semacam jakarta masih memungkinkah untuk hidupnya raptor kecil. Tapi saya memperkirakan, raptor2 kecil semacam alap2 capung (Microhierax fringilarius) pasti bisa bertahan hidup di jakarta, seandainya saja ia dihadirkan kembali. Sebab, mangsa yg merupakan makanan alap2 capung masih cukup banyak dan ada dimana2 dari kawasan permukiman sampai taman2 kota, misalnya burung gereja (Passer montanus) dan berbagai jenis bulbul (kutilang, cerukcuk dll) yg juga masih cukup banyak. Coba bayangin, andai saja si alap2 capung berhasil direintroduksi di kawasan Monas or Senayan, maka sembari duduk2 di taman kita bisa menyaksikan atraksi yg menarik: alap2 capung mengejar2 atau berburu burung gereja dan bulbul. Asyik, kan? Selama ini gw cuma bisa ngeliat foto raptor mini yg imut tapi kekar itu memangsa burung2 kecil sembari perching di kabel listrik. tapi itu kayaknya di thailand atau malaysia. Gw yakin di jakarta habitatnya juga masih mampu mendukung survival si elang kerdil ini. Hasto P. Irawan -- Irma Dana http://dawala. wordpress. com [lagi belajar nulis] http://www.friendst er.com/dawala ___________________________________________________________________________ Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas. Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang. http://id.messenger.yahoo.com
