WS. Rendra ternyata adalah seorang penyair yang peduli terhadap lingkungam. 
berikut sebuah puisi yang dikarang "Si Burung Merak" pada tahun 1977 lampau:

fur KIBC--> link-nya kok ya masuk ke baluran itu lo? hehehe...makasih...


Sajak Sebatang Lisong - W.S. Rendra

   
 
Menghisap sebatang lisong 
melihat Indonesia Raya, 
mendengar 130 juta rakyat, 
dan di langit 
dua tiga cukong mengangkang, 
berak di atas kepala mereka 
   
Matahari terbit. 
Fajar tiba. 
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak 
tanpa pendidikan. 
   
Aku bertanya, 
tetapi pertanyaan-pertanyaanku 
membentur meja kekuasaan yang macet, 
dan papantulis-papantulis para pendidik 
yang terlepas dari persoalan kehidupan. 
   
Delapan juta kanak-kanak 
menghadapi satu jalan panjang, 
tanpa pilihan, 
tanpa pepohonan, 
tanpa dangau persinggahan, 
tanpa ada bayangan ujungnya. 
………………… 
   
Menghisap udara 
yang disemprot deodorant, 
aku melihat sarjana-sarjana menganggur 
berpeluh di jalan raya; 
aku melihat wanita bunting 
antri uang pensiun. 
   
Dan di langit; 
para tekhnokrat berkata : 
   
bahwa bangsa kita adalah malas, 
bahwa bangsa mesti dibangun; 
mesti di-up-grade 
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor 
   
Gunung-gunung menjulang. 
Langit pesta warna di dalam senjakala 
Dan aku melihat 
protes-protes yang terpendam, 
terhimpit di bawah tilam. 
   
Aku bertanya, 
tetapi pertanyaanku 
membentur jidat penyair-penyair salon, 
yang bersajak tentang anggur dan rembulan, 
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya 
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan 
termangu-mangu di kaki dewi kesenian. 
   
Bunga-bunga bangsa tahun depan 
berkunang-kunang pandang matanya, 
di bawah iklan berlampu neon, 
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak 
menjadi gemalau suara yang kacau, 
menjadi karang di bawah muka samodra. 
……………… 
   
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. 
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, 
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. 
Kita mesti keluar ke jalan raya, 
keluar ke desa-desa, 
mencatat sendiri semua gejala, 
dan menghayati persoalan yang nyata. 
   
Inilah sajakku 
Pamplet masa darurat. 
Apakah artinya kesenian, 
bila terpisah dari derita lingkungan. 
Apakah artinya berpikir, 
bila terpisah dari masalah kehidupan. 
   
19 Agustus 1977 
ITB
 Bandung 
Potret Pembangunan dalam Puisi

Swiss
Baluran National Park
www.pratapapa81.wordpress.com
www.balurannationalpark.web.id


--- On Sat, 8/8/09, KIBC <[email protected]> wrote:

From: KIBC <[email protected]>
Subject: [SBI-InFo] Turut Berduka
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Saturday, August 8, 2009, 12:23 PM






 




    
                  Keluarga besar Kutilang Indonesia Birdwatching Club Turut 
berduka untuk si Burung Merak
.......http://www.balurann ationalpark. web.id/?row= 4mod=gallery&cmd=gallery_ 
detail_list&catid=3&proid=5&mod=gallery
W.S. Rendra (1935-2009)

      Kepiawaian Si Burung Merak
      
      

      Sastrawan WS Rendra meninggal dunia di RS Mitra 
                Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 6 Agustus 2009 
pukul 
                22.10. Ia menderita penyakit jantung koroner. Dimakamkan 
setelah shalat Jumat 7 Agustus 2009 di TPU Bengkel 
                Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok. 
                Sebelumnya, ia dirawat di Rumah Sakit Cinere sejak 
                25 Juni. Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Rendra 
lalu 
                dirujuk dirawat di RS Harapan Kita di Jakarta Barat, sebelum 
akhirnya ke 
                RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke