Benar,,,,dia sungguh seorang penyair besar Indonesia yang karya-karyanya laik dikenang sepanjang masa.....Hebat! Kita kehilangan dia sungguh.....
Salam, ED --- On Sat, 8/8/09, swiss winnasis <[email protected]> wrote: From: swiss winnasis <[email protected]> Subject: Re: [SBI-InFo] Turut Berduka To: [email protected] Date: Saturday, August 8, 2009, 4:08 AM WS. Rendra ternyata adalah seorang penyair yang peduli terhadap lingkungam. berikut sebuah puisi yang dikarang "Si Burung Merak" pada tahun 1977 lampau: fur KIBC--> link-nya kok ya masuk ke baluran itu lo? hehehe...makasih. .. Sajak Sebatang Lisong - W.S. Rendra Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanya anku membentur meja kekuasaan yang macet, dan papantulis-papantul is para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang, tanpa pilihan, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan, tanpa ada bayangan ujungnya. ………………… Menghisap udara yang disemprot deodorant, aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya; aku melihat wanita bunting antri uang pensiun. Dan di langit; para tekhnokrat berkata : bahwa bangsa kita adalah malas, bahwa bangsa mesti dibangun; mesti di-up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor Gunung-gunung menjulang. Langit pesta warna di dalam senjakala Dan aku melihat protes-protes yang terpendam, terhimpit di bawah tilam. Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian. Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya, di bawah iklan berlampu neon, Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau, menjadi karang di bawah muka samodra. ……………… Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata. Inilah sajakku Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. 19 Agustus 1977 ITB Bandung Potret Pembangunan dalam Puisi Swiss Baluran National Park www.pratapapa81. wordpress. com www.balurannational park.web. id --- On Sat, 8/8/09, KIBC <kibcz...@yahoo. com> wrote: From: KIBC <kibcz...@yahoo. com> Subject: [SBI-InFo] Turut Berduka To: burungpemangsa_ indonesia@ yahoogroups. com, kadangkukila@ yahoogroups. com, sbi-i...@yahoogroup s.com Date: Saturday, August 8, 2009, 12:23 PM Keluarga besar Kutilang Indonesia Birdwatching Club Turut berduka untuk si Burung Merak .......http://www.balurann ationalpark. web.id/?row= 4mod=gallery&cmd=gallery_ detail_list&catid=3&proid=5&mod=gallery W.S. Rendra (1935-2009) Kepiawaian Si Burung Merak Sastrawan WS Rendra meninggal dunia di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 6 Agustus 2009 pukul 22.10. Ia menderita penyakit jantung koroner. Dimakamkan setelah shalat Jumat 7 Agustus 2009 di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok. Sebelumnya, ia dirawat di Rumah Sakit Cinere sejak 25 Juni. Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Rendra lalu dirujuk dirawat di RS Harapan Kita di Jakarta Barat, sebelum akhirnya ke RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.
