Mencari Penanda Perubahan Habitat Melalui Burung dan Kupu-kupu

[image: 
PDF]<http://www.gibbon-indonesia.org/index.php?view=article&catid=16%3Aberita-oks&id=79%3Amencari-penanda-perubahan-habitat-melalui-burung-dan-kupu-kupu&format=pdf&option=com_content&Itemid=42&lang=id>[image:
Cetak]<http://www.gibbon-indonesia.org/index.php?view=article&catid=16%3Aberita-oks&id=79%3Amencari-penanda-perubahan-habitat-melalui-burung-dan-kupu-kupu&tmpl=component&print=1&layout=default&page=&option=com_content&Itemid=42&lang=id>[image:
Surel]<http://www.gibbon-indonesia.org/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovL3d3dy5naWJib24taW5kb25lc2lhLm9yZy9pbmRleC5waHA%2Fb3B0aW9uPWNvbV9jb250ZW50JnZpZXc9YXJ0aWNsZSZpZD03OSUzQW1lbmNhcmktcGVuYW5kYS1wZXJ1YmFoYW4taGFiaXRhdC1tZWxhbHVpLWJ1cnVuZy1kYW4ta3VwdS1rdXB1JmNhdGlkPTE2JTNBYmVyaXRhLW9rcyZJdGVtaWQ9NDImbGFuZz1pZA%3D%3D&lang=id>Rabu,
10 Februari 2010 02:49

Nurul Winarni, yang baru saja menyelesaikan gelar Doktornya berkenan berbagi
cerita tentang penelitiannya di Obrolan Kamis Sore, edisi Januari 2010,
bertajuk “Mencari Penanda Perubahan Habitat Melalui Burung dan
Kupu-kupu.”Penelitian yang dilakukan Nurul dari tahun 2005 – 2007, tepatnya
di Lambusangu, Buton adalah bagian dari Program Konservasi Hutan dari
Wildlife Conservation Society.


“Penelitian ini program penelitian lanjutan untuk mengetahui, apakah
montoring burung dan kupu-kupu dapat dijadikan penilaian dari kesuksesan
tersebut? Intinya, selama tiga tahun, apakah bisa mendeteksi perubahan
habitat?” demikian Nurul membuka Obrolan Kamis Sore.

Sebetulnya, waktu tiga tahun sangatlah pendek, biasanya monitoring perubahan
habitat dilakukan kurang lebih sela

ma tujuh tahun. Waktunya yang cukup panjang, tiga tahun belum bisa terlihat
keberhasilannya. Kegiatan ini merupakan hal baru bagi Nurul.


“Gampang-gampang susah melakukannya, bagaimana metode pengamatan burung
diterapkan pada pengamatan kupu-kupu, beginilah hasilnya,” sambil terkekeh
Nurul kembali menekankan proses penelitian tentang penanda perubahan
habitat.


Sebetulnya banyak sekali satwa yang dijadikan sebagai penanda kejadian alam
ataupun adanya gangguan. Misalnya saja, burung Kedasih, dipercaya  sebagai
pertanda adanya kematian. Sementara perubahan drastis yang terjadi di alam,
biasanya terbentuknya gap dan hilangnya pohon-pohon besar.  Dan gangguannya
juga bersifat macam-macam, mulai dari yang kecil, menengah hingga gangguan
besar. Dan biasanya tidak terlihat langsung pada struktur vegetasi.


Perubahan pada struktur vegetasi tidak mudah terlihat oleh mata, sehingga
menyulitkan kita untuk memastikan lokasi berubah atau tidak. Sehingga perlu
mencari sesuatu yang dijadikan sebagai indikator. Untuk gangguan yang
sifatnya kurang drastis, seperti mengambil rotan, enau, kayu untuk bahan
bakar dan berburu oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup sehari-hari.


Lantas, kenapa burung dan kupu-kupu yang dijadikan penanda perubahan
habitat? Karena burung mempunyai ukuran relatif besar, warna dan perilakunya
mencolok. Selain itu, suara atau volume,  pola frekwensi mudah dikenali,
secara taksonominya juga informasinya sudah lengkap. Sedangkan kupu-kupu,
ukuran relatif besar dan warna dan pola mencolok.


Menurut Nurul, dua taksa ini paling umum dijadikan indikator. Banyak
kupu-kupu yang dijadikan makanan oleh burung. Orang-orang di luar negeri
sudah banyak mengembangkan pengamatan kupu-kupu. Di Indonesia, jenis
kupu-kupu sangat banyak, sementara di luar negeri sangat sedikit jenisnya.
Tiap daerah di Indonesia mempunyai sub-species.


Burung karakternya bisa digunakan, tinggal menyederhanakan saja. Untuk
kupu-kupu, karena tidak punya suara, jadi warna dan ukurannya yang
digunakan. Dan kupu-kupu yang menjadi penanda perubahan habitat di
Lambunsango, Buton adalah jenis Idea blancbardi, bagaikan saputangan,
melayang-layang. Jenis ini, di Buton ditemukan di daerah-daerah yang tidak
terganggu.


“Saya terusik dengan judulnya, perubahan habitat. Apakah perubahan
ekosistem, atau perubahan secara keseluruhan?” tanya Evi Indraswati dari
PILI.

“Sedikit kurang, lebih banyak ke antropogenic disturbance, gangguan yang
disebabkan oleh  perilaku manusia,” pendek saja jawaban Nurul.

“Apakah hasil pengamatan lapangan terhadap kupu-kupu Idea, dapat menjadi
indikator menemukan daerah yang masih bagus?” tanya Dimar dari Universitas
Indoensia.


“Bisa, kalau kita buat generalisasi di seluruh Indonesia, untuk biasanya
akan berbeda untuk tiap habitat. Bisa saja di satu tempat Idea nya tidak
banyak. Tidak semudah burung, model pengamatan burung di sini sudah lebih
terbentuk. Kalau kupu-kupu masih lebih susah. Kalau dicoba di Bukit Barisan
Selatan, yang situasinya berbeda dengan di Buton, akan perlu waktu untuk
mengenali jenis di situ,” papar Nurul menjawab Dimar.


Menyambung pertanyaan Dimar, Hasudungan Pakpahan dari YGI menanyakan, apa
yang dijadikan parameter, apakah kelimpahannya? Jawabnya, benar kelimpahan
Idea, bisa membuat catatan dan menjadikannya indikator.

“Jika suaru indikator mewujudkan sesuatu, seperti Planaris,  indikator air
masih bersih, kalau kupu-kupu indikator apa?” singgung Panca Oktawarini.


“Planaris memang sebagai indikator air bersih. Burung dan kupu-kupu agak
sulit. Tapi bisa dicoba dengan kelimpahan, harus membandingkan dengan
beberapa habitat yang terkena gangguan, seberapa banyak kelimpahan, apakah
berubah setiap tahunnya,” Nurul menanggapi pertanyaan Panca.


Muncul juga pertanyaan, apakah kupu-kupu Idea ini bisa menjadi indikator
untuk daerah lain, misalnya daerah tidak terganggu. Seperti yang dilontarkan
oleh Ani Sudasmo.



Nurul menjawab dengan singkat, secara kebetulan di Buton kupu-kupu Idea ini
berada di daerah yang tidak terganggu. Dan saat di Lampung juga sama, ada di
tempat yang bukan kawasan terbuka, tetapi ini belum diuji.

“Bisa saja untuk daerah lain, indikatornya adalah species lain, saat ini
baru bisa bilang penanda di Buton,”  kata Nurul.

Diskusi semakin menarik saja, tatkala Tukirin dari Lembaga Ilmu Pengetahuna
Indonesia [LIPI] menegaskan bahwa memang secara umum itu terdapat di
daerah-daerah yang tidak terganggu. Idea


“Kepekaannya lambat. Selain kupu-kupu, ada species lain yang peka terhadap
perubahan habitat, yaitu ngengat. Di Museum Biologi LIPI, sudah menerbitkan
keterangan tentang indikator perubahan habitat untuk air,” papar Tukirin di
tengah diskusi.


“Saya kira memang perlu ditentukan, mau menggunakan ngengat atau kupu-kupu.
Masih sedikit informasinya, terutama untuk Indonesia. Tetapi juga arah
taksonomi dikembangkan. Banyak yang belum dikaji, tertarik sekali untuk
mendalaminya. Sekarang baru ada buku kupu-kupu Sulawesi dan Jawa saja,”
Nurul pun tak segan untuk menanggapi Tukirin, ahli tumbuhan dari LIPI ini.
Sungguh Obrolan Kamis Sore yang menarik di awal tahun 2010. Membicarakan dua
jenis hewan yang mudah kita temukan di sekitar lingkungan rumah. [irma dana]


-- 
Irma Dana
http://dawala.wordpress.com [lagi belajar nulis

Kirim email ke