Konservasi Kakatua-kecil jambul-kuning di Kepulauan Masalembo

[image: 
Cetak]<http://www.gibbon-indonesia.org/index.php?view=article&catid=16%3Aberita-oks&id=78%3Akonservasi-kakatua-kecil-jambul-kuning-di-kepulauan-masalembo&tmpl=component&print=1&layout=default&page=&option=com_content&Itemid=42&lang=id>[image:
Surel]<http://www.gibbon-indonesia.org/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovL3d3dy5naWJib24taW5kb25lc2lhLm9yZy9pbmRleC5waHA%2Fb3B0aW9uPWNvbV9jb250ZW50JnZpZXc9YXJ0aWNsZSZpZD03OCUzQWtvbnNlcnZhc2kta2FrYXR1YS1rZWNpbC1qYW1idWwta3VuaW5nLWRpLWtlcHVsYXVhbi1tYXNhbGVtYm8mY2F0aWQ9MTYlM0FiZXJpdGEtb2tzJkl0ZW1pZD00MiZsYW5nPWlk&lang=id>Rabu,
10 Februari 2010 02:41

Kepulauan Masalembo yang berada di Kabupaten Sumenep mempunya kisah menarik
khusunya untuk konservasi Kakatua-kecil jambul-kuning.  Dudi Nandika, dari
Indonesia Parrot Project berbagi cerita di Obrolan Kamis Sore mengenai Upaya
Konservasi Kakatua-kecil jambul-kuning di Pulau Masakambing.

Pulau Masakambing juga salah satu bagian dari pulau-pulau yang ada di
wilayah Kabupaten Sumenep.  Jarak tempuh dari Sumenep  ke Pulau Masa Kambing
hampir 12 jam lamanya.

Luas Pulau asakambing *+*  500 hektar  dan digunakan sebagai pemukiman
dengan jumalah penduduk *+* 1.400 jiwa. Baik di tengah maupun di pinggir
pulau, ipenuhi dengan mangrove dan tambak. Sebagian besar juga perkebunan
kelapa, cengkeh dan palawija, seperti jagung.

Dudi menjelaskan bahwa penelitian kakatua berdasarkan baseline penelitian
BirdLife Internasional tahun 1994 – 1999. Dengan melakukan monitoring
status, Kakatua-kecil jambul-kuning anya bisa ditemukan di  Dusun Ketapang
(Barat Laut). Pada tahun 2008, ditemukan 10 ekor (4 pasang dan 2 anak). Dan
di ahun 2009 cenderung menurun, hanya  ditemukan 8 ekor (3 pasang dan 2
remaja).

Padahal banyak sekali pakan Kakatua kecil jambul kuning di Pulau
Masakambing, seperti:

1. Kelapa, *Cocos nucifera *à buah

2. Belimbing Wuluh, *Averrhoa bilimbi *à buah

3. Lontar,  *Brassus sp* à bunga jantan

4. Sukun, *Artocarpus communis *à bunga jantan

5. Kedondong, *Spondias pinnata *à buah & bunga

6. Kapuk, *Ceiba petandra *à bunga

7. Kelor, *Moringa oleifera *à buah

8. Tanjang, *Bruguiera ymnorrhiza *à buah (mangrove)

9. Keduduk, *Lumnitzera racemosa *à bunga (mangrove)

10. Galompe (nama lokal) à bunga

11. Asem, *Tamarindus Indica *à buah

12. Pidada, *S. alba* & *S. aseolaris* à buah (mangrove)

13. Jagung,* Zea mays* à tongkol/biji

14. Rumbia, *Matroxylon sp. *à bunga

Ternyata bukan karena pakan yang menyebabkan populasinya menurun, tapi
ancaman yang dilakukan oleh manusia, seperti: Pengambilan anak
kakatua untuk dijual; memotong pohon sarang dan pakan (kelapa), karena
dianggap ama terhadap kelapa, sehingga masyarakat tidak peduli terhadap
keberadaan Kakatua; rendahnya opulasi pohon-pohon berukuran besar; dan
kondisi alam yang ekstrim.

Untuk mengatasinya, ada upaya konservasi dengan melibatkan masyarakat lokal
dan mahasiswa. Antara lain dibuatnya perlindungan hukum, bahkan sudah
lengkap, sayangnya tidak berjalan baik. Memfasilitasi pembuatan peraturan
desa untuk melindungi kakatua. Sosialisasi dengan instansi pemerintah di
tingkat kecamatan dan tingkat lebih tinggi, termasuk sosialisasi perundangan
terkait seperti UU No. 5 tahun 1990. Bahkan di Kabupaten Sumenep sudah ada
peraturan daerah untuk perlindungan kakatua, namun tidak dilaksanakan.
Selain monitoring status Kakatua, dilakukan pula kunjungan ke sekolah. Hal
ini
dilakukan untuk menumbuhkan rasa bangga dengan adanya kakatua di sekitar
tempat mereka tinggal, juga dan menerangkan pentingnya Kakatua-kecil
jambul-kuning di alam dengan melakukan pengamatan burung. Terakhir, membuat
sarang kakatua buatan di tempat atau pohon-pohon yag biasa dihinggapi
kakatua.

Ada pertanyaan menarik dari ahrul, Burung Indonesia mengenai oknum penangkap
kakatua apakah sudah teridentifikasi, mengingat kawasan P. Masakambing tidak
terlalu luas dan kakatua semakin sedikit. Apakah mungkin menempatkan nest
box di kawasan lindung desa?

“Banyak oknum yang terkait, selain itu rendahnya kepedulian masyarakat
terhadap kakatua, karena masih dianggap hama. Pejabat-pejabat di kabupaten
pun sering minta oleh-oleh setelah kunjungan kerja. Atau upeti saat masuk
PNS. Banyak juga oknum yang memesan dari luar pulau. Selain itu, penangkap
kakatua sudah diidentifikasi dan telah didekati, diberi pengertian, termasuk
oleh aparat desa”, Dudi menjelaskan upaya-upaya pencegahan terhadap
berkurangnya populasi kakatua di Kepulauan Masalembo.

Dari upaya-upaya tadi, Camat Masalembo termasuk yang peduli, bahkan sudah
mengeluarkan ultimatum untuk menjaga kakatua. Dan pemberian bonus
sebesar satu juta rupiah bagi penduduk yang berhasil menjaga mulai dari
telur hingga kakatua hingga bisa terbang. Luar biasa upaya Camat Masalembo
untuk konservasi Kakatua-kecil jambul-kuning ini. [Irma Dana]


-- 
Irma Dana
http://dawala.wordpress.com [lagi belajar nulis

Kirim email ke