Precedence: bulk

PPP MERUPAKAN WADAH POLITISI TANPA IDEOLOGI
Oleh Alam Tulus

ISTIQLAL (16/12/98) Menurut "Teropong" ( DUTA, 3/12/98) sebagaimana halnya
Golkar, PPP pun emoh meminta maaf. Alasannya tak jauh beda dengan alasan
Golkar. "Ini merupakan dosa kolektif," ujar Buya Ismail Hasan Metareum di
sela-sela Muktamar. Dengan mengatakan dosa kolektif atau kesalahan bersama,
maka itu berarti kita semua berdosa, sehingga tidak relevan lagi menyebut
orang ini berdosa, dan yang lainnya tidak. "Bukankah ini sebuah bentuk baru
untuk lari dari tanggungjawab," tulis Teropong.

Terlepas dari manuver politik, sentimen untuk menarik pendukung atau sekedar
bermain mata, orangpun berhak meragukan siapa sebenarnya  kita, siapa pun
yang pernah menikmati hidup enak di masa kekuasaan Suharto, tidak pernah
beranjak jauh dari pola pikir dan mental Orde Baru.
Bagaimana pula tanggapan tokoh-tokoh lain sekitar permintaan maaf PPP yang
kemudian dicabut kembali oleh Muktamarnya? Marilah kita amati seperti yang
bisa kita temui dalam harian DUTA yang sama .

PENGAKUAN DOSA, IKHLAS APA TIDAK?

Duta menulis, pernyataan PPP tentang permintaan maaf, ternyata tidak berumur
panjang. Baru kemarin mantan Ketua Umum PPP Ismail Hasan Metareum menyatakan
PPP meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas dosa-dosanya selama
ini yang mendukung rezim Orde Baru, akhirnya batal menjadi pernyataan
politik Muktamar. Ismail Hasan Metareum menyatakan permintaan maaf atas
dukungan mereka dalam SU MPR Maret 1998 untuk menjabat Presiden ke-7 kalinya
bagi Suharto.

Poin permintaan maaf itu akhirnya dihapus atas usulan Aisyah Aminy. Menurut
Aisyah pernyataan Buya Ismail Hasan itu tidak perlu diulangi. Permintaan
maaf itu sudah diucapkan oleh Buya dalam Laporan Pertanggunganjawaban.
Kenapa mesti mengulanginya. Dukungan itu secara sadar dilakukan warga PPP
secara keseluruhan, bukan suatu dukungan oleh DPP sendirian.

Pernyataan Aisyah Aminy ini mendapat tantangan dari Yusuf Syakir, yang
mengatakan, "Apakah cukup permintaan maaf ini diucapkan dalam Laporan
pertanggunganjawab Buya IHM?"

Aisyah Aminy menyanggah pernyataan Yusuf Syakir itu, dengan mengatakan
permintaan maaf itu sudah cukup. Dukungan PPP dalam pencalonan Suharto
beberapa waktu yang lalu itu adalah sikap yang terpaksa ditempuh karena
memang kondisi politik tidak mendukung untuk suara berbeda. "Selain tidak
ada untungnya, bila kami tidak ikut-ikutan mencalonkan Suharto, maka itu
akan menyulitkan partai," ujar Aisyah. Aisyah nampaknya ingin yang aman
saja, tidak mau ambil resiko dalam mempertahankan suatu sikap. Itu bukanlah
suatu watak seorang  pejuang.

TIDAK KRITIS, PPP BERDOSA

Lain pula tanggapan Kacung Marijan, MA, pengamat politik dari Universitas
Airlangga, Surabaya. Menjawab pertanyaan DUTA ( 5/12) Kacung mengatakan:
yang pasti, PPP merupakan bagian dari Orde Baru dan muncul sebagai hasil
rekayasa Orde Baru. Dosa itu antara lain, PPP kurang kritis terhadap
kebijakan pemerintah. Krisis ekonomi dan moneter itu tidak lepas dari
kebijakan PPP. Inpres yang memihak kelompok tertentu, UU yang menekan
rakyat. Artinya, itu adalah kebijakeanaan pemerintah. Dan PPP seharusnya
kritis pada kebijakan-kebijakan pemerintah ini. Kebijakan itu mempunyai
konsekuen yang besar kepada masyarakat. Jadi meskipun dosa PPP tidak secara
langsung, jelas PPP punya keterkaitan secara langsung terhadap kebijakan
pemerintah yang tidak benar pada masyarakat.

Dosa kedua, sambung menurut Kacung, ialah kontrol kekuasaan yang dilakukan
PPP sangat lemah. Termasuk kenapa Soeharto dipilih kembali. Ini juga
berimbas pada situasi saat ini. Demokratisasi tidak tumbuh. Ini karena tidak
adanya kontrol kekuasaan. Oke, PPP memang kecil, tapi partai yang punya
komitmen pada rakyat dan tidak semata-mata mempertimbangkan keselamatan
partainya, dia tetap harus kritis.

Akan halnya Laode Ida, pengamat politik Islam, menjawab pertanyaan DUTA
mengatakan: "Saya melihat dosa PPP sama dengan dosa partai-partai politik
lainnya yang dibangun oleh Orde Baru, seperti Golkar, PDI Budi Hardjono.
Namun secara spesifik, dosa PPP itu antara lain memilih Suharto sebagai
Presiden, menandatangani hasil pemilu 1997 padahal pemilu itu penuh
kecurangan, dan yang terbesar barangkali memecat Sri Bintang Pamungkas dari
PPP."
Dikatakan dosa terbesar, sebab PPP tidak menghendaki anggota yang kritis,
padahal daya kritis anggota partai ini merupakan modal dalam sebuah partai
politik. Partai bisa hidup hanya bila partai tersebut mempunyai daya kritis.
Jika yang kritis disingkirkan, ini pertanda partai tsb tidak memiliki visi
kepartaian.

RAKYAT TIDAK PERLU PERCAYA PADA PPP

Mengenai permintaan maaf DPP PPP dalam Laporan Pertanggungjawaban, yang
kemudian dibatalkan Muktamar, Laode Ida mengatakan permimtan maaf itu hanya
manuver cerdas PPP untuk mengelabui masyarakat. Berkali-kali PPP melakukan
manuver, namun ujungnya hanya untuk mendukung status quo. Termasuk upaya PPP
yang berani tampil beda dalam SI MPR kemarin yang mendukung gerakan
mahasiswa dan menyuarakan aspirasi rakyat. 

Manuver-manuver PPP sengaja dilakukan agar rakyat percaya bahwa PPP berjuang
untuk kepentingan rakyat. PPP dikenal ssring melakukan manuver politik, tapi
ia justru tidak serius dalam menindaklanjuti dan bahkan selalu mengecewakan.
Akhirnya timbul kesan bahwa PPP hanya mencari popularitas demi kepentingan
partai.

Laode Ida menjawab pertanyaan DUTA  tentang apakah rakyat akan terkecoh
dengan manuver PPP, mengatakan, itu tergantung pada rakyat sendiri, apakah
bisa membaca atau tidak manuver-manuver PPP. 

"Rakyat tidak perlu percaya pada PPP," sambung Laode Ida. Misalnya ketika
PPP memperjuangkan penghapusan Dwi fungsi ABRI, ternyata hanya berupa
manuver cerdas PPP. Saya kira praktek manuver cerdas gaya PPP akan terus
berlanjut. Salah-salah rakyat akan tertipu dengan gaya PPP ini. 

SEMUA KARENA FAKTOR SUHARTO?

Adalah menarik tanggapan Dr Komaruddin Hidayat, Direktur Perguruan Tinggi
Agama Islam Depaetemen Agama, yang juga menjabat Direktur Eksekutif Yayasan
Paramadina mengenai kesalahan-kesalahan atas dosa-dosa PPP ini. Komaruddin
mengatakan hal yang sama.

"Kesalahan-kesalahan masa lalu yang dilakukan partai politik, terutama pada
era Orde Baru, saya pikir lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal
yang sangat kuat. Kekuasaan Suharto demikian mendominasi sendi kehidupan
politik, sehingga sedemikian sebuah partai politik tidak akan mampu
melepaskan diri dari lingkaran kekuasan tsb. Demikian juga yang terjadi
dalam di PPP, seperti banyak disorot belakangan ini. PPP mencalonkan kembali
Suharto sebagai presiden, serta menanda-tangani hasil pemilu yang banyak
diasumsikan  bersifat korup. Dan sekian kesalahan-kesalahan lainnya," ujar
Komaruddin.

Pemikiran Komaruddin ini terkesan hendak melemparkan semua dosa atau
kesalahan PPP pada Suharto. Seakan-akan PPP tidak punya kesalahan atau
dosanya sedikit sekali dalam hubungan dengan sikapnya yang mendukung  Suharto. 

Komaruddin benar, bahwa faktor eksternal tentu akan mempengaruhi sikap
politik PPP. Tetapi faktor eksternal bukan faktor yang menentukan. Faktor
yang menentukan adalah faktor internal. Sekiranya PPP adalah partai yang
berjuang menegakkan keadilan dan senantiasa memihak kepada kepentingan
rakyat yang lemah, tentu PPP tidak akan mendukung Suharto jadi Presiden
untuk ketujuh kalinya, karena pemerintahan Suharto adalah pemerintahan yang
melecehkan cita-cita keadilan dan kepentingan rakyat. PPP siap untuk memikul
segala resiko dari sikapnya yang memegang teguh prinsip tersebut.

Dan hal itu tidak terjadi. Karena faktor internal PPP seperti dikatakan
Laode Ida, bahwa PPP merupakan partai yang tidak mempunyai identitas dan
tanpa ideologi yang jelas. PPP hanya merupakan wadah bagi para politisi
tanpa  ideologi, dalam arti, mereka berpolitik hanya untuk meraih
kemenangan. Karena  itu PPP hanya cenderung mendukung status quo, berjuang
demi meraih kemenangan untuk kepentingan partainya sendiri.

KESIMPULAN

Jelas kiranya, bahwa PPP itu merupakan wadah politisi tanpa ideologi. Malah
KH Ma'ruf Amin, Ketua bewan Syuro PKB  mengatakan, sejak dulu PPP tidak
jelas. Memang mereka pertama berasas Islam, namun ke Islamannya tidak
terumuskan dengan jelas. "Islam yang bagaimana? Kalau NU itukan Islam-nya
jelas, yaitu menonjolkan nilai-nilai Islam dan memberikan kehidupan di
tengah pluralitas. Kalau Islamnya PPP apa ya, Saya belum tahu. Jangan-jangan
hanya nama saja untuk meraih dukungan massa Islam," ujar Ma'ruf.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke