Precedence: bulk


FURKON MEMBELA PAM SWAKARSA BER"BAMBU-RUNCING"

Oleh: Sulangkang Suwalu

Ada ungkapan klasik "bila semua maling mengaku, penjara akan penuh".
Artinya, banyak maling yang tak mau mengakui dirinya sebagai maling dan
berusaha mencari alibi untuk tujuan menghindari pengakuan sebagai maling.
Kecuali bila tertangkap basah, atau bila tekanan yang keras dari pemeriksa
tak tertahankan oleh yang bersangkutan.

Demikian juga mengenai kehadiran Pam Swakarsa yang menggunakan senjata bambu
runcing saat SI MPR yang baru lalu. Hingga kini belum ada sebuah lembaga
yang mengakui bahwa lembaganyalah yang mendirikan atau mengkoordinasi Pam
Swakarsa. Karena mereka mengetahui massa rakyat menolak Pam Swakarsa yang
tidak konstitusional tersebut. Dalam rangka mengetahui siapa sesungguhnya yang
membentuk atau mengkoordinasi PAM Swakarsa itu sangat menarik bantahan H Nazri
Adlani dari Furkon.

FURKON MEMBANTAH

"Tidak benar PAM Swakarsa dibentuk Furkon. PAM Swakarsa itu tidak sama
dengan Furkon, tapi bersinergi dalam hal menyukseskan SI MPR," kata Ketua
Umum Furkon HA Nazri Adlani dalam jumpa pers di Aula Masjid Istiqlal
Jakarta, Sabtu 5/12 (Kompas, 6/12).

Selanjutnya Kompas memberitakan bahwa puluhan wartawan dalam jumpa pers itu
meminta klarifikasi Furkon, sehubungan berita yang beredar mengatakan Furkon
adalah koordinator PAM Swakarsa. Nazri menyangkal pemberitaan media massa.
Bahkan dikatakan, pers tidak proporsional dalam pemberitaan, karena tidak
sesuai dengan kenyataan yang ada. "Orang-orang yang mabok itu Furkon. Ini
tidak benar," kata Nazri yang didampingi Ketua Komaruddin Rachmat dan
Bendahara Eri Aziz.
Selanjutnya ditanyakan, benar kah Furkon merekrut sejumlah orang dari
berbagai daerah untuk dijadikan PAM Swakarsa? Nazri menyangkalnya dengan
mengatakan "Kita (Furkon) tidak punya uang. Furkon itu semata-mata gerakan
moral." Menjawab pertanyaan: siapa penggerak PAM Swakarsa sesungguhnya,
Nazri menjawab, "Saya tidak tahu."

Pers bertanya lebih lanjut: siapa yang paling berkewajiban mengamankan SI
MPR, ABRI atau rakyat? Apa kah PAM Swakarsa yang membawa bambu runcing itu
sesuai konstitusi? Nazri menjelaskan bahwa keberadaan Pam Swakarsa
sebenarnya dimungkinkan UUD 1945 bahwa upaya bela negara merupakan hak dan
kewajiban tiap warga negara. Soal bambu runcing? "Itu dalam rangka
peringatan Hari Pahlawan 10 November," kata Nazri.

Dapat kah setiap kelompok dalam masyarakat membentuk Pam Swakarsa dalam
upaya bela negara seperti yang ditentukan dalam UUD 1945? Benarkah Pam
Swakarsa bersenjatakan bambu runcing dalam rangka memperingati Hari Pahlawan
10 November, ataukah untuk digunakan menusuk gerakan mahasiswa yang menolak
SI-MPR?

PAM SWAKARSA TAK KONSTITUSIONAL

Bertolak dari pertanyaan wartawan: siapa yang paling berkewajiban
mengamankan SI MPR, semestinya Nazri menjawabnya: ABRI lah yang berkewajiban
dan bertanggung jawab mengamankan SI MPR itu. Karena ABRI adalah aparat
negara yang bertugas menjaga keamanan. Namun Nazri tidak menjawab demikian.
Dia mengelak menjawabnya secara langsung. Sebab, kalau dijawabnya demikian,
itu akan merupakan pukulan bagi Pam Swakarsa yang bersenjatakan bambu
runcing ikut menjaga keamanan SI MPR. Menjaga keamanan SI bukanlah kewajiban
Pam Swakarsa. Bahwa kehadiran Pam
Swakarsa itu tidak sesuai dengan ketentuan UUD 1945, dapat diketahui dengan
membaca pasal 30 UUD 1945, yang berbunyi:

1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan
negara.
2) Syarat-syarat tentang pembelaan negara diatur dengan UU.

Bertolak dari Pasal 30 UUD 1945 ini memang benar adalah menjadi hak dan
kewajiban setiap warga negara untuk ikut dalam upaya pembelaan negara. Hanya
bagaimana cara ikutnya dalam pembelaan negara, diatur oleh UU. Bukan setiap
orang terus saja memegang senjata dengan dalih turut dalam upaya pembelaan
negara, seperti dengan Pam Swakarsa. Dan yang terang belum ada UU yang
menentukan dibentuknya Pam Swakarsa untuk turut mengamankan SI MPR itu.
Pembentukan Pam Swakarsa untuk ikut mengsmankan SI MPR di samping tidak
konstitusional, juga berarti menghina ABRI. Sebab itu berarti menilai ABRI
tak mampu menjaga keamanan SI MPR.

Mungkin Furkon menjawab, "Kehadiran Pam Swakarsa atas persetujuan ABRI."
Bila benar kehadiran Pam Swakarsa atas persetujuan ABRI, itu berarti ABRI
tidak mampu menjaga keamanan situasi, dus tidak proporsional. Dan itu
berarti menjatuhkan citra ABRI sendiri.

BAMBU RUNCING SEBAGAI SENJATA

Menurut Nazri, Furkon sebagai suatu forum yang dibentuk ormas-ormas Islam
bersama MUI menganggap, perlu mengambil langkah-langkah untuk menetralisir
kegiatan-kegiatan yang inkonstitusional.

Dalam menegakkan konstitusi dan reformasi, Furkon tak berdiri sendiri tapi
bersinergi dengan kekuatan-kekuatan pendukung konstitusi lainnya. Maka untuk
mencegah kelompok nasional, Furkon melakukan kegiatan berupa penyelenggaraan
apel akbar umat Islam di Istiqlal (30/9), apel akbar di parkir timur Senayan
(1/10), KUII (3-7/10) dan serta unjukrasa ke DPR.

Menurut "Teropong" DUTA (19/11) mobilisasi besar-besaran di kalangan umat
Islam dilancarkan. Baik pemimpin (ulama, kiayi, guru ngaji) maupun massa
dikerahkan: apakah itu bernama KUII, Pam Swakarsa maupun fatwa MUI yang kini
lagi ramai diminta untuk mengamankan posisi Habibie yang dianggap "sah dan
konstitusional".
Selanjutnya Nazri mengemukakan bahwa untuk menjiwai peringatan 10 November
1998, sebagian massa memakai bambu runcing sebagai perlengkapan, namun tidak
ada satu orang pun massa atau mahasiswa anti SI MPR terluka atau mati akibat
bambu runcing. Namun 4 orang Pam Swakarsa dibunuh dengan keji oleh massa
anti SI MPR pada 13 November di daerah Cawang. 

Dengan tak disadari, ucapan Nazri itu mengandung pengakuan bahwa bambu
runcing itu semula sebagai perlengkapan memang mau dihunjamkan kepada kepada
massa dan mahasiswa anti-SI MPR, bila massa dan mahasiswa itu terus
melancarkan gerakan mereka. Namun hal itu tak sampai terjadi, karena massa
rakyat lebih dulu bertindak melucuti dan mengejar Pam Swakarsa yang tidak
konstitusional itu dan bisa mengganggu keamanan lingkungan. Akhirnya aparat
keamanan menyelamatkan Pam Swakarsa dari amukan rakyat yang lebih besar. 

KESIMPULAN

Jadi, bila pada awalnya Nazri dari Furkon membantah bahwa bukan Furkon yang
membentuk PAM Swakarsa, akan tetapi dengan pembelaannya atas kehadiran PAM
Swakarsa dengan perlengkapan bambu runcing, membukakan belangnya saja. Bahwa
Furkon lah yang berdiri di belakang kehadiran PAM Swakarsa. Furkon hendak
menyembunyikan mukanya, tapi pantatnya mencuat kepermukaan sebagai pembela
PAM Swakarsa.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke