Precedence: bulk REFORMASI, REVOLUSI ATAU INVOLUSI Oleh: Sulangkang Suwalu Mahasiswa S3 ilmu politik Ohio State University, Denny JA, menulis tentang reformasi revolusi atau involusi di Kompas. Dalam tulisannya itu, Denny JA menunjukkan tiga jalan untuk reformasi bisa mengungguli revolusi atau involusi. Mungkin kah tiga jalan reformasi yang ditunjukkan Denny JA itu akan bisa dilakukan, atau kah pada akhirnya jalan revolusi yang harus ditempuh guna menyelesaikan konflik yang terjadi di Indonesia dewasa ini? TIGA KEMUNGKINAN POLITIK Menurut Denny JA berdasarkan masa transisi yang terjadi di negara lain, ada tiga kemungkinan politik yang akan terjadi di negeri kita. Tiga jalan politik tersebut sebagai berikut: l.Berlanjutnya Reformasi Reformasi berarti perubahan sistem politik (demokrasi), baik secara cepat atau gradual melalui cara-cara konstitusional dan melalui lembaga pemerintahan yang ada. Reformasi akan terjadi, jika ada aliansi kelompok perubahan (soft liners) di pemerintahan dan kalangan moderat di oposisi, mengalahkan baik elit garis keras (hardliners) atau pun kelompok radikal di kalangan oposisi. Mereka dapat memenangkan pertarungan elite ini dengan merekrut atau mengadopsi beberapa program politik kalangan radikal agar mendapat dukungan dari sebagian kelompok radikal. Reformasi akan terus bergema dan menjadi mainstream. Namun reformasi belum pasti terealisasi jika terjadi fragmentasi dan persaingan kepemimpinan di kalangan pendukungnya. 2. Terjadinya Revolusi Revolusi juga berarti perubahan sistem politik, namun secara cepat dan total melalui cara-cara di luar konstitusi dan pengingkaran atas lembaga pemerintahan. Revolusi akan terjadi jika kelompok radikal yang memenangkan pertarungan elite. Ini dapat terjadi, jika legitimasi pemerintahan yang ada begitu parahnya, serta munculnya tokoh nasional populer ataupun kharismatik yang memimpin revolusi. Akibatnya kelompok moderat di kalangan oposisi terkooptasi dan menyatukan diri dengan kelompok radikal. Aspirasi revolusi akan terus hidup selama masih tingginya ketidak percayaan atas lembaga pemerintah dan masih bercokolnya kelemahan konstituen yang ada. Namun revolusi tidak akan menjadi pilihan yang dominan selama tak adanya tokoh nasional yang sangat populer yang memimpin revolusi itu. 3. Berlangsungnya Involusi Involusi berarti terjadinya berbagai perumitan aksi dan manuver politi namun tidak berujung pada perubahan sistem politik yang substansial, alias status quo. Involusi ke status quo, juga masih mungkin terjadi. Secara konseptual memang status quo telah kehilangan daya tariknya. Namun aspirasi ini masih terus hidup selama kekuatan politik utama masih mendukungnya. REFORMASI UNGGULI REVOLUSI DAN INVOLUSI Menurut Denny JA agar reformasi terlaksana, yaitu perubahan politik substansial dengan menggunakan mekanisme konstitusi yang ada, kelompok pendukung reformasi harus bertindakan di tiga jurusan. Pertama, mereka harus menyelesaikan fragmentasi dan persaingan ke pemimpin di kalangan mereka sendiri. Hal ini mungkin dapat dilakukan dengan mencari platform bersama dan kepemimpinan kolektif. Deklarasi Ciganjur yang ditanda-tangani 4 tokoh adalah awal yang baik bagi konsolidasi kekuatan reformasi. Namun agar mampu merekrut kalangan radikal, deklarasi ini harus dipertajam. Ke dua, mereka harus mengurangi daya tarik revolusi, sehingga revolusi menjadi daya mainstream aksi perubahan. Daya tarik revolusi hanya berkurang jika terjadi perubahan yang substansial dalam lembaga pemerintahan dan konstitusi. Jika lembaga pemerintah semakin dipercaya kesungguhannya, dan kostitusi diperbaiki kelemahannya, revolusi serta merta kehilangan personalnya. Ke tiga, tekanan terhadap garis keras pemerintahan secara intensif terus dilakukan dengan menggunakan semua sarana yang dibolehkan konstitusi. Pembentukan opini publik, demonstrasi massa secara damai, serta negosiasi di kalangan elite dapat dilakukan secara serentak. Tekanan ini akan semakin bergema jika ada platform bersama pendukung reformasi, serta berbagai kekuatan pro perubahan menyatukan diri. Mekanisme konstitusi dan jalan non-kekerasan harus menjadi kerangka gerakan. RINTANGAN YANG MENGHADANG Mungkin kah reformasi akan terlaksana dengan melalui 3 jalur yang di kemukakan Denny JA? Jika bisa terlaksana tentu daya tarik revolusi akan semakin kendur, juga involusi. Mari lah kita cermati. a. Pertajam Deklarasi Ciganjur Kenyataan menunjukkan setelah kelompok Ciganjur mengeluarkan Deklarasinya, maka tak terdengar lagi kegiatan platform bersama itu. Apalagi untuk mempertajam isi Deklarasi. Padahal Deklarasi Ciganjur itu sangat mengecewakan mahasiswa yang memprakarsai terbentuknya kelompok Ciganjur. Karena isi nya tak sepenuhnya mewakili aspirasi mahasiswa yang menghendaki reformasi secara total. Karena itu mudah dimengerti bila H Ubaidillah SH melalui "Suara Pembaca" harian Merdeka(26/11) antara lain mengatakan "Sayangnya salah satu kehendak rakyat tidak terakomodir di dalam pertemuan Ciganjur (yang dimotori Amien Rais, Gus Dur, Megawati, Hamengku Buwono X). Pertemuan Ciganjur pada substansialnya hanya mempertegas usul-usulan yang sudah disampaikan fraksi-fraksi di MPR/DPR. Sejarah kelak mencatat, pertemuan Ciganjur itu cuma sebuah "dagelan politik yang sama sekali tidak lucu". Dengan kata lain jalur pertama ini kecil kemungkinan bisa diwujudkan b. Krisis Kepercayaan Makin Besar Begitu pula jalur kedua, yaitu supaya lembaga semakin dipercaya oleh masyarakat. Suatu hal yang tidak mudah. Eko H Mudjiharto melalui Suara Merdeka (1/12) mengemukakan bahwa Ghalib sejak dilantik tiga bulan yang lalu hanya menjadi "Jaksa Akan". Menurut Amien Rais, dia hanya menjadi jaksa yang hanya akan mengusut, akan memeriksa akan mengadili, dan akan-akan yang lain, tanpa bertindak apa-apa. Dalam konteks itu lah, persoalan yang serius bangsa ini adalah "hukum" tak pernah ditegakkan. Maka wajar bila mahasiswa Yogyakarta mengadukakan nasib mereka kepada para penghuni kebun binatang karena manusia tidak lagi bisa dipercaya. Ketidakpercayaan makin besar, begitu kasus Marsinah dan Udin tak pernah terungkap. Juga Insiden Trisakti, Kasus Banyuwangi, Tragedi Semanggi, Kasus ketapang dan kasus lain seperti hilang ditelan bumi. Dan kita tidak tahu lagi, apakah krisis ini bisa dipulihkan kembali, karena krisis kepercayaan memang sulit disembuhkan. Dalam ungkapan Melayu ada kata-kata "sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya". Nah, penyelenggara negara ini sudah berkali-kali lancung ke ujian. Jadi untuk mengembalikan kepercayaan, luar biasa berat bagi mereka. c. Tekanan Pemerintah Makin Keras Bagaimana pula jalur ke tiga, yaitu jalur supaya tekanan terhadap pemerintah melalui unjuk rasa di jalan-jalan secara damai mungkin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya? Jalur melalui unjuk rasa di jalan-jalan secara damai, telah ditolak oleh Presiden Habibie dengan mengatakan, "Reformasi tidak mungkin bisa dilaksanakan masyarakat memilih menggunakan jalur di jalan-jalan." Habibie tampaknya pelupa benar, bahwa dirinya kini menjadi Presiden adalah berkat unjuk rasa mahasiswa di jalan-jalan guna reformasi secara total. Setelah hari panas, kacang lupa dengan kulitnya. Sementara itu Faisal Reza dari PRD melalui wawancaranya dengan tabloid Oposisi (No 18) antara lain mengemukakan bahwa pernyataan Menhankam/Pangab Wiranto soal kelompok-kelompok yang memaksakan kehendak itu menunjukkan usaha pengkambing hitaman. Mencari lagi sasaran yang bisa mereka tembak secara politik untuk menanggung akibat politik yang menimpa ABRI terakhir ini. ABRI kan menganggap bahwa penembakan terhadap mahasiswa sebagai akibat radikalnya mahasiswa. Dengan kata lain Wiranto lebih menekan mahasiswa agar jangan meneruskan unjuk rasa di jalan-jalan. Dalam rangka menekan mahsiswa tak kalah menariknya apa yang dikatakan Fauny Hidayat dalam harian Merdeka (2/12) tentang menyampaikan sebuah desakan pada pemerintah. Menurut Fauny Hidayat memang serba salah menyampaikan sebuah desakan kepada pemerintah. Inginnya cepat-cepat bekas Presiden Suharto diperiksa, eh malah dituding revolusioner oleh yang terhormat Jaksa Agung Andi H Ghalib. Dia juga "ngambek" tak akan mau memeriksa Soeharto kalau harus dengan cara cara yang disebutnya sebagai revolusioner. Pemeriksaan seperti itu kurang arif, serta mengesampingkan hukum yang ada. Bila Ghalib memahami "desakan" sebagai "revolusioner", maka artinya pemerintah ini jangan didesak-desak, dia bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Kalau rakyat mendesak, rakyat revolusioner dan itu salah dimata pemerintah. Rakyat selalu salah, pemerintah selalu benar. Sudah menjadi kelaziman alam Indonesia selama 32 tahun Soeharto berkuasa pejabat tak bisa disalahkan dan tak akan salah. Apalagi bersedia menyalahkan dirinya sendiri. Jelasnya tiga jalur yang dikemukakan Denny JA supaya reformasi terlaksana, dimana-mana rintangan menghadang. Bila mahasiswa hendak menekan pemerintah melalui jalan unjuk rasa secara damai di jalan-jalan, sebaiiknya pemerintah semakin menekan mahasiswa supaya menghentikan jalan unjuk rasa dijalan-jalan itu. Unjuk rasa dianggap radikal, dianggap revolusioner dan itu pantangan bagi pemerintahan Habibie. Untuk menekan gerakan mahasiswa lebih lanjut, Presiden BJ Habibie minta aparat jangan ragu-ragu bertindak (MI, 10/12). Sedang Ketua DPA Baramuli menasehatkan "tembak saja, massa yang memaksakan kehendak" (DUTA, 10/12). Sementara itu Habibie - Wiranto menyiapkan 70 ribu pasukan "rakyat terlatih" (Tajuk, No 21). Tampaknya pasukan "rakyat terlatih" ini mengembangkan ide Pam Swakarsa. JALAN REVOLUSI Saling tekan antara pemerintah dengan gerakan mahasiswa akan berjalan terus, hingga salah satu pihak memenangkannya. Bila mahasiswa dengan gerakan reformasinya memenangkan pertarungan ini, maka reformasi secara total akan dapat diwujudkan. Dan itu berarti kekuasaan fasis Habibie-Suharto dapat diganti dengan kekuasaan rakyat yang demokratis. Sebaliknya bila penguasa yang menang, hingga gerakan mahasiswa makin tertekan, maka daya tarik jalan revolusi akan makin meninggi. Bahwa mahasiswa tidak akan mundur dari gerakan reformasinya dapat diketahui dari pernyataan Mixil dari Forkot yang mengatakan, "Penguasa sekarang ini kalau tidak ditekan (pressure) terus, akan mempunyai pikiran, wah mahasiswa sudah tidak aksi lagi, berarti sudah tidak ada yang menyeleweng. Padahal kalau dilihat utangaya, kan masih banyak terhadap rakyat (INTI Jaya No 2195). Yang dimaksud utang tersebut ialah tuntutan "Adili Soeharto", "Hapus Dwifungsi ABRI", "Bentuk Komite Rakyat Indonesia untuk pemerintahan transisi". Jalan revolusi yang dimaksud Denny JA bukanlah "revolusi sosial" seperti yang dimaksud Gus Dur, yaitu "satu keadaan di mana rakyat akan berontak terhadap segalanya dan tak ada lagi pemerintahan serta penguasa"(Kompas, 7/12). Meski Denny JA tidak menyebutkan watak revolusinya, yang jelas revolusinya ialah revolusi rakyat, revolusi demokrasi rakyat. Dimana bergantinya kekuasaan dari penguasa fasis yang anti demokrasi dan rakyat kepada rakyat yang terdiri dari kaum buruh, tani, rakyat pekerja, pengusaha nasional, di dalamnya termasuk pemuda, mahasiswa, perempuan Dan sebagainya. Diamati dari penempatan kedudukan golongan-golongan dalam revolusi demokrasi rakyat, maka benar apa yang dikatakan Denny JA bahwa dewasa ini belum ada pemimpin nasional populer, yang kharismatik. Sebelum ada pemimpin yang demikian, maka revolusi belum akan terjadi. Ini sesuai dengan penilaian RM Mustadjab Latip, "Sedangkan mengenai pemimpin yang utuh dan dipercaya semua lapisan masyarakat, kini sedang ditunggu-tunggu masyarakat." Meski kini sebagian dari syarat-syarat untuk menangnya suatu revolusi sudah tersedia. Seperti keadaan ekonomi yang sudah akut. Penguasa tidak mampu lagi meneruskan kekuasaan dalam bentuk yang lama. Sehingga untuk mengamankan SI MPR diperlukan Pam Swakarsa. Hanya yang belum siap, yang belum tersedia ialah faktor subjektifnya, yaitu pimpinan yang akan mengoper kekuasaan dari penguasa fasis tersebut. Dari kalangan rakyat yang mana pimpinan revolusi itu akan lahir, dala rangka ini adalah menarik tulisan Bung Karno 65 tahun yang lalu, yang berjudul "Marhaenisme dan Proletar". Di mana Bung Karno antara lain mengatakan, "Kaum proletar sebagai kelas adalah hasil langsung daripada kapitalis dan imperialisme. Mereka adalah kenal dengan pabrik, kenal akan mesin, kenal akan listrik, kenal akan cara produksi kapitalisme, kenal akan segala kemoderernnya abad dua puluh. Mereka adalah pula lebih langsung menggenggam mati hidupnya kapitalisme di dalam mereka punya tangan, lebih direct mempunyai gevechtswaarde anti kapitalisme. Oleh karena itu adalah rasional jika mereka yang di dalam perjuangannya anti kapitalisme dan imperialisme berjalan di muka, jika mereka yang menjadi pandu, jika mereka yang menjadi voor-looper, jika mereka yang menjadi pelopor."(DBR, 1963, hal 255 ) KESIMPULAN Pemimpin nasional populer, yang kharismatik seperti yang dimaksud Denny akan lahir dalam proses perjuangan untuk revolusi demokrasi rakyat. Perjuangan untuk kembalinya kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat. Oleh rakyat, dengan rakyat dan untuk rakyat. Perjuangan ini akan berjalan lama. Penuh onak dan duri. Gerakan mahasiswa dan rakyat untuk reformasi secara total akan mengantarkan rakyat ke jalan revolusi demokrasi rakyat. Pada akhirnya jalan revolusi demokrasi rakyat itu lah yang akan menyelesaikan krisis yang menimpa Indonesia dewasa ini. Baik berhasilnya 3 jalur reformasi seperti yang dikemukakan Denny JA, yang pada ujungnya bergantinya kekuasaan dari kaum fasis kepada rakyat, maupun tidak berhasilnya 3 jalur Denny JA, yang akan meningkatnya daya tarik untuk revolusi.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
