Precedence: bulk


Pernyataan DPP GRI dan Pesan Tahun Baru 1999.

RAPATKAN BARISAN DAN KONSOLIDASI UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN POLITIK  1999

Tahun  1998  kita  tinggalkan, kita masuki tahun 1999  dengan  semangat  baru, 
semangat  penuh  tantangan  bagi semua kekuatan reformis  dan  pro  demokrasi. 
Banyak  pelajaran  berharga ditahun 1998, seperti jatuhnya rezim  Suharto  dan 
berpindah pada Presiden baru Habibie.

Jatuhnya Suharto yang berkuasa 32 tahun terasa begitu cepat dan agak mendadak- 
gerakan reformasi dan demokrasi nampaknya terbilang lalai, kehilangan arah dan 
sasaran.  Reformasi  tuntas  semua  benteng  orde  baru,  baik  di  eksekutif, 
legislatif  maupun di judikatif, belum sepenuhnya berhasil.  Itulah  pelajaran 
penting dan paling berharga.

Perpindahan  Presiden  dari  tangan Suharto ke  Habibie  hanyalah  perpindahan 
kekuasaan  dari  satu klik kepada klik lainnya dari kekuasaan yang  sama  orde 
baru,  sekalipun  pemerintahan Habibie sekarang ini menamakan  orde  reformasi 
pembangunan.  Format  dan sistim politik, ekonomi dan hukum,  sepenuhnya  sama 
"orde baru".

Mengharapkan  perubahan  sistim  yang mendasar  dalam  waktu  relatif  singkat 
rasanya  belum  dan  masih jauh. Itulah sebabnya banyak  masalah   mulai  dari 
penculikan para aktivis, penembakan Trisakti, dukun santet Banyuwangi, dstnya, 
semuanya ngambang belum terungkap.

Tapi   pelajaran  berharga  lainnya,  rakyat  sendiri  telah   menemukan   dan 
mengibarkan benderanya paling asasi, kebebasan menyatakan pendapat, lisan  dan 
tulisan,  berserikat  dan  berkumpul. Pengibaran  bendera  paling  asasi  ini, 
bukanlah hadiah ataupun anugerah penguasa, melainkan sebagai akibat dan bagian 
perjuangan   massa  rakyat,  sehingga  toleransi  terpaksa   diberikan   untuk 
menenangkan rakyat.

Demonstrasi, protes dan aksi mahasiswa menuntut pembatalan Sidang Istimewa MPR 
yang  baru lalu di Jakarta dan diikuti hampir di semua kota besar dan  penting 
di  seluruh  negeri,  memang benar dan beralasan, sebab  Ketetapan  MPR  hasil 
Sidang Istimewa itu dibuat dan dihasilkan oleh anggota MPR produk Pemilu  1997 
yang  tidak jujur, tidak adil dan tidak demokratis. Anggota MPR  ini  sebagian 
besar pengabdi setia orde baru Suharto. Sayang, protes dan aksi mahasiswa yang 
didukung  massa rakyat itu, ditindak represif dan menimbulkan  banyak  korban. 
Bahkan tokoh-tokoh tua BARNAS  yang menandatangani "komunike bersama" menuntut 
hal yang sama, merombak MPR, ditindak lebih jauh dengan tuduhan makar.

DPP  GRI  menilai,  bahwa tindakan mempertahankan status  quo  tercermin  pula 
dengan dihadirkannya PAM Swakarsa yang dikutuk rakyat itu. Dengan maksud  yang 
sama dihadirkannya UU No. 2O 1998 (tentang menyatakan pendapat di muka  umum), 
selanjutnya  dibentuk  Dewan  Penegak Keamanan dan Sistim  Hukum  (DPKSH)  dan 
kemudian  rencana  pengadaan  RATIH (rakyat  terlatih),  yang  kesemuanya  itu 
dikecam  keras  oleh kekuatan pro demokrasi. Kita  melihat  tindakan  represif 
mengekang kebebasan rakyat terus dan akan berlanjut. Dan patut dicermati bahwa 
kekuatan  pendukung  klik  penguasa lama Suharto yang  terguling,  mulai  pula 
memainkan peranannya dengan berbagai teror dan provokasi yang bernuansa  SARA, 
mengadu  domba antar suku dan agama. Kasus dukun santet Banyuwangi,  peristiwa 
Semanggi,  kasus  Ketapang  dan Kupang, diduga  banyak  orang  dilakukan  klik 
penguasa lama tersingkir itu.

Dengan demikian warna kekuatan yangg mendominasi perpolitikan di tanah air  di 
tahun 1999 mendatang, diperkirakan sebagai berikut :
- Kekuatan  represif  dan mempertahankan status quo, mereka ini  berada  dalam 
  sistim.
- Kekuatan lama klik orde baru tersingkir, eksistensinya teror dan provokasi.
- Kekuatan bersatu mahasiswa dan rakyat.
  Kekuatan  mahasiswa  dan  rakyat  merupakan  kekuatan  maha  besar  dan
jika 
  terorganisasi  dan  bersatu dengan baik merupakan kekuatan tak
terkalahkan  - 
  mereka mampu menjawab dan menangkal apapun represif dan kekerasan.

Salah  satu mengelola konflik adalah "demokrasi", demikian pendapat  DPP  GRI. 
Karena  itu  niat dan langkah dialog tokoh reformis pro demokrasi  dan  dengan 
beberapa  petinggi negara termasuk dengan mantan Presiden  Suharto,  dipandang 
DPP  GRI  merupakan  kemunduran. Dialog nasional minus  Suharto,  itulah  yang 
dikehendaki  rakyat. Dialog nasional (plus) dengan semua kekuatan yang  pernah 
disingkirkan selama kekuasaan orde baru berjaya dan berkuasa  adalah tepat dan 
benar.  Personifikasi Suharto selama 32 tahun berkuasa dipandang rakyat  telah 
merusak  tatanan politik, hukum, ekonomi dan sosial budaya.  Dampak  pertemuan 
tokoh  reformis  itu  memang  sementara  membingungkan  rakyat  dan   terkesan 
mengaburkan  sasaran,  tetapi  hal itu dianggap DPP GRI  hanya  dan  merupakan 
manuver  politik biasa. Dosa Suharto terlalu besar dan DPP GRI  menolak  semua 
niat  dan pikiran yang menganggap Suharto tidak pantas diadili karena  jasanya 
besar.

DPP GRI menyatakan bahwa dialog nasional (bukan rekonsiliasi) tepat dan  harus 
dilakukan  sesegera  mungkin,  karena ini  merupakan  bagian  atau  alternatif 
mencari  solusi  mengatasi krisis berkepanjangan  segala-galanya  di  Republik 
tercinta kita ini  dan  niat baik Gubernur Lemhanas patut  didukung  sepanjang 
menguntungkan bangsa.

Demikian gambaran pintas keadaan politik tahun 1998 yang kita tinggalkan  ini. 
Kekuatan  mahasiswa  dan rakyat yang memperjuangkan  reformasi  dan  demokrasi 
seutuhnya,  nampaknya  di tahun 1999 mendatang ini akan  menghadapi  tantangan 
besar  -  berhadapan  langsung dengan kekuatan status quo  dalam  sistim,  dan 
kekuatan  klik  lama Suharto serta pendukungnya. Belum  lagi  penjernihan  dan 
klarifikasi  berbagai  masalah  besar tahun 1998 mulai  dari  kasus  kekerasan 
penculikan,  penembakan  Trisakti, kasus Banyuwangi,  Semanggi,  Ketapang  dan 
Kupang dstnya, termasuk kejahatan politik dan ekonomi yang dilakukan orde baru 
selama berkuasa.

Rakyat  menunggu  dengan  penuh kepastian perangkat  hukum  dan  undang-undang 
Pemilu   mendatang.   Memang  Pemilu  salah  satu  sarana   berdemokrasi   dan 
berkedaulatan  rakyat,  tetapi  Pemilu  itu  sendiri  harus  jujur,  adil  dan 
demokratis.   DPP  GRI memandang soal Pemilu ini merupakan agenda  yang  perlu 
dicermati  dan  diantisipasi.  Pemilu-Pemilu  sebelumnya  menyakitkan  bangsa, 
diselenggarakan  dengan  penuh kebohongan, kepalsuan  dan  kecurangan.  Golkar 
tidak  boleh  lagi menjadi penentu atau pengambil keputusan di  Republik  ini. 
Golkar harus dikalahkan, digembosi dan sekaligus minoritas.  Mewaspadai  semua 
kendaraan  politik Golkar dan institusi atau organisasi pendukungnya  termasuk 
partai-partai  baru  tetapi  sesungguhnya  pendukung  status  quo,   merupakan 
pekerjaan utama kekuatan reformasi dan demokrasi saat ini.

Menarik  pengalaman dan pelajaran di atas - kita tinggalkan tahun 1998,  untuk 
itu   DPP   GRI  berseru,  bahwa  mengembangkan   gerakan   reform   sekaligus 
memenangkannya  merupakan  upaya  besar mencapai  tujuan  -  pemerintahan  dan 
masyarakat madani (sipil) yang demokratis. Konsolidasi dan merapatkan  barisan 
semua  komponen gerakan, menyatukan visi, platform dan langkah bersatu  dengan 
massa rakyat luas terorganisasi merupakan kata kunci.
Jangan  ragu, rapatkan barisan dan konsolidasi diri sebagai jaminan menuju  ke 
kemenangan.


Jakarta, akhir Desember 1998.

DPP GERAKAN RAKYAT INDONESIA
Ketua Umum,

MEGA SUHANTARA, SE

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke