Precedence: bulk


KISDI ADUKAN THEO SYAFEI KE POLDA JAYA

        JAKARTA (SiaR, 5/1/99), Banyak Jalan Menuju Roma, banyak cara menggem-
bosi PDI Perjuangan. Setelah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
diterpa isu gender dan agama, maka giliran salah seorang Ketuanya Theo Syafei,
Selasa (5/1) ini diadukan Achmad Sumargono dari KISDI ke Polda Metro Jaya
dengan tudingan melakukan ceramah yang memojokkan umat Islam.

        Terhadap pengaduan KISDI tersebut, maka tanggapan sejumlah fungsionaris PDI
Perjuangan dan pakar politik terpecah dua. Ada yang menilai tuduhan dan
pengaduan KISDI tersebut sebagai bagian dari upaya pihak-pihak tertentu yang
"bakal kalah" dalam Pemilu 1999 mendatang. Hal ini untuk mendiskreditkan PDI
Perjuangan, yaitu partai yang akan berganti nama dan lambang pada peringatan
HUT PDI, 10 Januari 1999 mendatang. Yang lainnya menilai ada kesengajaan
dari Theo Syafei sendiri untuk memperuncing sengketa antaragama di
Indonesia, seperti ditegaskan pakar politik UI Arbi Sanit.

        Theo Syafei yang Mayjen TNI (Purn) itu diadukan KISDI sehubungan ceramahnya
berdurasi 75 menit di Kupang pada November 1998 lalu, yang diasumsikan KISDI
menjadi penyulut terjadinya Kerusuhan Kupang. Isi ceramah itu menyebutkan
adanya manuver sejumlah ormas Islam seperti KISDI, KAHMI, CIDES, MUI, HMI,
dan ICMI yang berniat mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Juga, dalam
ceramah itu, adanya upaya Theo Syafei yang membanding-bandingkan Kitab Suci
Al Quran dan Alkitab dalam posisi yang sangat menghina umat Islam

        Terhadap keberatan KISDI tersebut, anggota Litbang PDI Perjuangan Suko
Sudarso menanggapinya sebagai upaya membelokkan opini masyarakat yang
mensinyalir rekayasa kerusuhan yang terjadi selama ini, yang dilakukan
pihak-pihak yang ingin mempertahankan "status-quo" dan menghidupkan kembali
kekuatan Soehartoisme. Menurut catatan SiaR, Ketua Umum KISDI Ahmad
Sumargono memang memiliki "kedekatan emosional" dengan mantan Pangkostrad
Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang menantu mantan presiden Soeharto itu.

        Lagi pula, lanjut Suko Sudarso, menghubungkan ceramah tersebut dengan
akibat terjadinya kerusuhan di Kupang, sebagai diibaratkan dengan kebiasaan
rezim Soeharto dahulu membredel, memberangus, atau membubarkan suatu acara
diskusi, ceramah, talkshow, atau melarang beredarnya buku, yang dinilai
dapat melahirkan pemberontakan massa terhadap pemerintahan yang sah.

        "Apa parameternya, suatu ceramah yang tertutup dengan akibat melahirkan
suatu kerusuhan massa, kalau tidak ada rekayasa konkrit secara fisik di
lapangan?" katanya bertanya.

        Theo Syafei sendiri selain dikenal sebagai salah seorang Ketua DPP PDI
Perjuangan, juga aktif di Barisan Nasional, dan selama ini
dihubung-hubungkan sebagai "kaki-tangan" Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani
yang secara tradisional selalu menjadi "sasaran tembak" ormas-ormas seperti
KISDI dan CIDES, yang terakhir ini sebuah lembaga riset milik ICMI.

        Berbeda dengan Suko, pakar politik UI Arbi Sanit, justru mencurigai dapat
beredar luasnya kaset ceramah yang awalnya dilakukan tertutup untuk kalangan
terbatas itu. "Siapa yang menyebarluaskan copy kaset ceramah itu, kalau
tidak dari kalangan dalam sendiri? Lalu, apa motif orang itu dibalik
penyebaran kaset ceramah yang sensitif itu?" ujar Arbi Sanit.

        Menurut Arbi Sanit, ada kesengajaan untuk memperuncing sengketa antar
agama yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban di kalangan minoritas Kristen,
sehingga melahirkan keuntungan secara internasional bagi kalangan Kristen
"tertentu" seperti di awal Orde Baru, yang menguasai kembali perpolitikan
nasional setelah berkoalisi dengan kalangan militer nasionalis. 

        Analisis Arbi ini ditolak salah seorang Ketua DPP PDI Perjuangan, Hasyim
Wahid yang lebih melihat pengaduan KISDI tersebut sebagai upaya
mendiskeditkan PDI Perjuangan dengan menjual isu agama. 

        "Itu kan ceramah tertutup untuk kalangan terbatas. Pak Theo sewaktu
menjabat Dansesko ABRI juga sering melakukan ceramah yang jauh lebih kritis
dan keras dari itu, tapi tak ada masalah karena ceramahnya selalu tertutup
dan terbatas. Mengapa sekarang tiba-tiba ada kelompok yang mempersoalkan,"
tandasnya.

        Adik kandung Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid itu lalu
mencontohkan, banyaknya kaset-kaset dan buku-buku perbandingan agama yang
dijual bebas di toko-toko buku dan kaset di Jakarta dan kota-kota besar
lainnya. 

        "Isinya pun memojokkan agama tertentu, dan mungkin sangat
menyakitkan hati kalangan agama tertentu. Tapi, jangankan diperkarakan oleh
umat agama bersangkutan yang notabene minoritas; institusi-institusi yang
berkepentingan seperti kejaksaan pun acuh tak acuh saja," tukasnya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke