Precedence: bulk


ADA DUGAAN MARINIR SENGAJA DIKORBANKAN DI ACEH

        ACEH (MeunaSAH, 5/1/98), Untuk memperluas solidaritas semua komponen
ABRI dan masyarakat luas dan juga  memperluas kebencian terhadap aksi-aksi
perlawanan yang dilakukan sekelompok masyarakat Aceh, ada strategi untuk
menjadikan marinir sebagai umpan. Terbukti dari serangkaian serangan
sekelompok masyarakat Aceh terhadap ABRI di sana, sejumlah marinir menjadi
korbannya. Mayor (Mar) Edyanto Chairuddin (Komandan Satgas Marinir Bireuen)
sampai saat ini masih menjadi sandera.

        Sinyalemen tersebut makin diyakinkan dengan munculnya pernyataan
pimpinan Marinir yang tidak rela perwiranya dikorbankan dalam peristiwa
perlawanan masyarakat terhadap ABRI di Aceh beberapa hari terakhir. "Korps
marinir tidak mengerti dan merasa heran mengapa marinir jadi sasaran
penculikan, padahal marinir tidak punya dosa apa pun terhadap rakyat Aceh,
dan tidak pernah menyakiti hati rakyat di mana pun mereka berada," kata
Kolonel Noerdin, yang datang mewakili Komandan Komando Marinir dan juga
sebagai utusan resmi Kepala Staf TNI AL untuk melakukan negosiasi dengan
para penyandera.

        "Kembalikan dia kepada kami. Kami sanggup mengabulkan permintaan apapun
untuk menebusnya," tegas Nurdin.

        Sejumlah sumber menyebutkan bahwa peristiwa yang belakangan ini
terjadi di Aceh merupakan rekayasa internal ABRI untuk melanggengkan
keberadaannya di Aceh. Selain itu juga karena memang ada kejengkelan
masyarakat terhadap perilaku arogan anggota ABRI terhadap masyarakat di
Aceh. Terutama di masa lalu, di mana korps Baret Merah menerapkan perang
anti-gerilya dengan cara melakukan aksi pembantaian dan perkosaan massal
secara masif kepada rakyat Aceh yang dianggap memberikan dukungan pada para
gerilyawan.

        "Penghapusan DOM ABRI di Aceh tidak diikuti oleh pengusutan terhadap
perlakuan tidak manusiawi mereka. Itu juga membuat marahnya masyarakat
Aceh," ujar salah seorang tokoh masyarakat Aceh di Jakarta.

        Menurut sejumlah sumber, sebelum peristiwa penyerangan sekelompok
masyarakat terhadap ABRI yang terjadi di penghujung tahun lalu itu,
tersebar isu Ninja yang mengancam beberapa pimpinan pesantren di sana.
Bersamaan dengan isu tersebut memang di sejumlah wilayah  terdapat beberapa
orang mencurigakan yang berseliweran di kampung-kampung.

        Dengan inisiatif sendiri, akhirnya masyarakat sejak 29 Desember 1998
melakukan razia kepada orang-orang yang dicurigai untuk mencegah hal-hal
yang tidak diinginkan. Dari operasi pembersihan itu, mereka menemukan
sejumlah anggota ABRI.  

        "Karena kekesalan rakyat terhadap pemerintah yang tidak mengusut
tuntas kebiadaban ABRI di Aceh masa DOM, maka wajar bila rakyat sangat benci
melihat ABRI. Setiap ABRI yang lalu lalang ya dikerjain," ujar sumber SiaR.

        Di samping itu, menurut sumber ini, memang ada di sebagian masyarakat Aceh
yang hendak "tueng bila" (balas dendam) terhadap ABRI.  Jadi, gerakan ini
menurut sumber ini bukanlah merupakan bagian dari gerakan Aceh Merdeka
seperti digembar-gemborkan pimpinan ABRI, melainkan gerakan spontanitas
masyarakat Aceh yang kecewa terhadap kebijakan pemerintah RI dan ABRI.

        Koresponden SiaR di Aceh melaporkan bahwa setelah tiga hari menyisir Daerah
Aliran Sungai (DAS) Arakundoe, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, sejak
Jumat (1/1) aparat keamanan berhasil menemukan enam mayat yang diduga korban
tragedi sweeping massa di Desa Meunasah Leubok Lhoknibong. 

        Mayat yang pertama ditemukan adalah Praka R Sialagan. Ia diduga korban yang
digantung di atas pohon.  Korban kedua, Pratu Mangatas Turnip, ditemukan
Kamis (31/12) sekitar pukul 16.30 WIB yang dilihat Letda (Mar) Karno pukul
16.30 WIB dalam posisi tertelungkup di daerah dengan radius 100 meter dari
posko tim pencari di jembatan Arakundoe. Korban ketiga diperkirakan Prada
Marasil Sinaga, ditemukan Jumat pukul 10.00 WIB.  

        Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Ismed Yuzairi menegaskan saat ini
pihaknya mengerahkan empat SSK (sekitar 400 prajurit) dari Linud 100/PS,
Namusira-sira Binjai (Sumut) ke Aceh, untuk mengejar Ahmad Kandang yang diduga
sebagai "otak" di balik peristiwa berdarah Lhoknibong. 

        Sedangkan Asintel Kodam I/BB Kol Inf Liliek AS yang baru kembali dari
lokasi kejadian menjelaskan, Mayor (Mar) Edyanto Chairuddin (Komandan Satgas
Marinir Bireuen) dan Serka Syaefuddin anggota Babinsa Koramil 01/Aceh Utara
hingga kemarin belum diketahui nasibnya. Edyanto dan Syaefuddin diculik
sehari setelah kasus berdarah Lhoknibong.  

        Ismed juga membantah adanya isu yang mengatakan kerusuhan tersebut
merupakan rekayasan ABRI untuk mempertahankan status DOM di Aceh. "Tak ada
rekayasa," kata Ismet. 

        Isu ini sempat merebak setelah peristiwa berdarah Lhoknibong. Di Medan
sempat muncul isu yang mengatakan, ini semua rekayasa ABRI agar status DOM
bisa tetap dipertahankan. Sebab, kalau benar kejadian ini, keluarga korban
sudah banyak yang mengadu mencari keluarganya yang hilang. 

        Sebab, dari sederatan nama-nama yang menjadi korban, umumnya prajurit
asal Sumatera Utara yang bertugas di Yonif 113/Jaya Sakti, Bireuen, Aceh Utara.
Dilaporkan, hingga kini belum satupun adanya pengaduan keluarga hilang yang
diterima Kodam dan Polda Sumut. Namun Pangdam tetap meyakinkan masyarakat,
kejadian yang menimpa prajurit ABRI itu cukup memprihatinkan, apalagi
terjadi di bulan Ramdhan dan terjadi di daerah Serambi Makkah. 

        Ismet juga membantah adanya isu ninja yang memicu kerusuhan tersebut.
"Tak ada 'ninja' di Aceh," tegas Pangdam yang sepertinya marah dengan pertanyaan
seorang wartawan yang bernada menyudutkan ABRI.  Yang jelas, kata Pangdam I-BB
yang sekarang digantikan oleh Mayjen Abdul Rachman Gaffar ini, kasus tersebut
dilakukan sekelompok orang yang menginginkan adanya negara Aceh Merdeka.

        Sementara itu, perlawanan kelompok massa terhadap operasi Satgas Wibawa 99
di Lhokseumawe pada hari Minggu, ternyata telah  mengakibatkan 9 orang
tewas, 25 orang yang lain mengalami luka berat (10 orang dioperasi) dan  170
lainnya ditahan. Operasi yang dipimpin Kapolres Aceh Utara Letkol Pol
Iskandar Hasan ini dimaksudkan untuk membebaskan Mayor Edyanto yang diculik
massa Rabu lalu dan upaya  menegakkan wibawa pemerintah. Namun aparat
mengaku kesulitan karena operasi mereka dihadang oleh ibu-ibu dan anak-anak.

        Perlu diketahui, setelah pencabutan DOM ABRI di Aceh 1998 tahun lalu, semua
pasukan Baret Merah ditarik dari seluruh kawasan Aceh. Rakyat mengiringi
kepergian mereka dengan sumpah serapah dan caci-maki. Dan sejak itu sejumlah
satuan Marinir ditugaskan untuk menjaga keamanan bisnis petrodolar,
khususnya di Arun. Marinir yang tak tahu apa-apa, kini jadi tumbal semua
kekejaman yang pernah dilakukan satuan Kostrad dan Baret Merah.

        Korban Insiden Lhoksuemawe (penembakan massal operasi Satgas Wibawa
99) yang sempat teridentifikasi:

Korban Tewas:

1. Hamzah A.Jalil, 46, Pusong Baru.
2. Idrus Abdullah, 38, Pusong Baru, asala Blang Mangat
3. Asma, 15, Siswi MAN, pddk. Lr.I Pusong Lama Banda Sakti
4. Daud, 30, Simpang Kramat, Kuta Makmur
5. Akbar, 35, Simpang Kramat, Kuta Makmur.
6. Hasan, 32, idem
7. Hasbi, 35, Supir labi-labi, Dayah Tuha, Bayu.
8. 2 orang belum diketahui

Luka tembak (masih dirawat di Rsu Cut Meutia)

1. Ti Aminah, 60, Pusong lama, B.Sakti
2. Iskandar, 16, Pusong Baru, Banda Sakti.
3. Murdani, 20, Desa Lhok Cut, Buuloh blang Ara
4. Ibrahim Yasin, 30, Kuta Makmur
5. Rusli, 35, Simpang Kramat Kuta Makmur
6. Razali, 25, Desa Rangkilien
7. M.Husein, 30, Blang Awe Bayu
8. Sofyan, 18, Simpang Mulieng
9. Nurhayati, 18, Pusong
10. Muhammad, 19, simpang Kramat
11. Sulaiman, 19, Pusong Lama
12. Saiful Bahri, 26, Pusong lama
13. Faisal, 19, Pusong Baru
14. Sariyah, 65, Pusong lama
15. Fauziah, 27, Pusong Baru
16. Syahru, 20, Pusong Baru
17. Nanda, 17, Pusong Baru
18. M. Yadari, 23, Pusong lama
19. Al Musa, 76, Pusong
20. M. Nadir (balita 1 thn), Pusong
21. Fitriana, 9, Pusong Baru
22. M. Isa, 28, Desa Paya gandapura
23. Islahuddin, 27, Bayu. ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke