Precedence: bulk
PARA OPERATOR DAN TIM TUJUH PENDUKUNG LASKAR CENDANA
JAKARTA (SiaR, 7/1/99), Setelah Soeharto lengser ternyata Mbak Tutut
dan Bambang Tri mengupah operator politik yang dikenal dengan Tim Tujuh yang
bertugas mengoperatori segala operasi khusus dari laskar Cendana. Tim yang
kebanyakan beranggotakan para wartawan itu langsung berkoordinasi dengan Ka
BIA yang baru Mayjend Tyasno Sudarto dan Pangdam Jaya Mayjend Jaja Suparman.
Setelah sukses dengan Satgas Tebas dan tentara sipil maka Mbak Tutut
dan Bambang Tri membentuk Tim Tujuh guna menunjang operasi-operasi khusus
selanjutnya. Tim tersebut adalah SSp dan HSRS (wartawan Media Indonesia),
Sgt (wartawan Forum Keadilan), Srt (anggota BAKIN yang ditempatkan di
Depdikbud), Dr (wartawati Tabloid Wanita Indonesia), RT (wartawan Kompas)
dan seorang wartawan media elektronik yang belum teridentifikasi.
SSp bertugas penghubung dan membina barisan mahasiswa lewat isu
Rekonsiliasi Nasional agar melibatkan Soeharto dan kroni. Selain itu tangan
kanan Mbak Tutut ini juga bertugas menseleksi dan mengatur agenda wawancara
bagi para wartawan yang ingin mewawancarai Mbak Tutut. Bekas aktivis
mahasiswa periode 90-an ini bertugas membina tentara sipil lewat YAKMI dan
bertiga dengan Sgt dan Srt mengkonsep ide rekonsiliasi nasional dan
melontarkannya lewat sejumlah aksi mahasiswa yang mendukung ide tersebut
setelah dibiayai seperti aksi Himpunan Mahasiswa Muslim Asal Sumatra Utara
(Hamas) di Medan, dan belakangan ide itu mulai digulirkan operator mereka
dari sejumlah kampus kecil di Bandung.
Sgt yang dikenal sebagai mantan aktifis GMNI adalah keponakan dekat
almarhum Ny. Tien Soeharto dan bertugas meradikalisasi gerakan gerakan
mahasiswa di Jakarta khususnya. Dengan mendirikan posko logistik di daerah
Tulodong dan Jalan Kerinci( yang kebetulan berlokasi di rumah almarhum
mantan Menteri Soesilo Soedarman). Sementara Srt yang anggota BAKIN di
Depdikbud itu, bertugas untuk mencari dana bagi operasi khusus tersebut dan
menghubungi konglomerat kroni Cendana seperti Wanandi Group (Group CSIS),
Liem Sioe Liong dan lain-lain yang masih mempunyai koneksi dekat dengan
keluarga Cendana.
Trio operator Laskar Cendana ini masih dibantu oleh sejumlah wartawan
untuk tetap menjaga opini yang terbangun dari serangan media masa yang
menyerang keluarga Cendana. Lewat Srt, tim ini membuat koordinasi yang
bersifat person to person dengan beberapa pejabat ABRI seperti Mayjen Tyasno
Sudarto Ka BIA sekarang yang mantan Pangdam Diponegoro itu. Memang sudah
menjadi rahasia umum bahwa sejak era Soeharto dulu, posisi Pangdam
Diponegoro harus diisi orang-orang yang loyal pada Soeharto, sama halnya
dengan posisi ajudan Presiden.
Sementara itu teka-teki yang beredar sejak Mei 1998 tentang isu
penyelundupan senjata dari laut selatan digunakan untuk apa dan oleh
kelompok mana, terjawab dengan fenomena tentara sipil milik keluarga
Cendana yang direkrut lewat Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia
(YAKMI) yang berkantor di perumahan Permata Pamulang, Serpong, Tangerang.
Yayasan yang didanai Mbak Tutut dan Bambang Tri itu sudah mempunyai tentara
sipil sebanyak 40 ribu orang hasil pelatihan di Rindam Jaya, Condet. Setelah
sukses dengan Satgas Tebas maka kegiatan YAKMI makin berkembang dengan
kucuran dana sekitar Rp 20 milyar, Demikian menurut sumber SiaR.
Kantor sekretariat yayasan yang semula hanya 1 kapling rumah
tersebut, dalam waktu kurang lebih 6 bulan bertambah menjadi 5 kapling rumah
yang dimiliki yayasan secara pribadi di lingkungan perumahan Permata
Pamulang tersebut. Info yang diperoleh SiaR menyebutkan, penambahan jumlah
anggaran yang dikucurkan Cendana ke YAKMI untuk mempersenjatai tentara sipil
yang merupakan tentara bayaran keluarga Cendana.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html