Precedence: bulk
ACEH TERUS TETESKAN DARAHNYA ...............
Oleh: Bagus Ali (Anggota Forum Diskusi Kebudayaan Islam, Cina dan Yahudi di
SINGAPURA)
Maha suci Tuhan yang menciptakan alam beserta seluruh isinya sebagai
sumber pengetahuan yang tak pernah habis, bagi seluruh manusia tanpa
membedakan agama yang dianutnya ataupun ras yang dibawanya.
Betapa tingginya penghargaan Tuhan bagi orang2 yang menuntut ilmu demi
kedamaian , keadilan, kasih sayang guna terciptanya peradaban manusia
yang patuh terhadap hukum alam dan hukum Tuhan.
Tuhan akan memberikan akibat terhadap orang2 yang merendahkan,
memanipulasikan dan mengacuhkan, nilai-nilai keilmuan di tengah kehidupan
Masyarakat.
Apresiasi nilai ilmu dan pengetahuan yang rendah oleh ABRI dan
masyarakat Aceh telah mengakibatkan kehancuran peradaban masyarakat aceh
khususnya dan indonesia umumnya. Hal ini tentunya menimbulkan
keprihatinan dalam bagi orang-orang yang menginginkan hidup dalam suasana
cinta damai, kasih sayang , kejujuran dan keadilan. Sama halnya yang
terjadi pada masyarakat Irian Jaya, Timtim, Banyuwangi, Minoritas cina.,
dan tragedi yang menimpa mahasiswa.
Prilaku para elit politik orang aceh yang berada di daerah maupun di
Jakarta, pemerintahan daerah Istimewa Aceh, dan elit edukatif yang
berada di Universitas Syiahkuala hingga SD, yang relatif rendah dalam
mengappresiasikan nilai keilmuan di tengah kehidupan masyarakat aceh
sendiri, telah memberikan contoh dan konstribusi yang negatip bagi
kalangan masyarakat awam kebanyakan. Pada akhirnya masyarakat awam yang
tidak mempunyai panutan lagi mengambil tindakannya menurut jalan pikiranya
masing-masing yang harus dibayar dengan tetesan darah dan kematian.
Fakta tersebut dapat dilihat langsung betapa tingginya nilai-nilai
kebendaan, kekuasaan dan simbol kedudukan bagi elit aceh dewasa ini hingga
untuk memperoleh hal tersebut terjadilah benturan tradisi masyarakat Aceh
yang telah berkembang sejak dulu kala.
Lebih parah lagi hampir sebahagian besar elit Aceh, menganggap dirinya
paling hebat, paling kuat dan paling mampu, yang akibatnya hampir tidak
ada celah dihati dan pikirannya, untuk dikritik orang luar aceh ataupun
orang Aceh sendiri yang sadar, terlebih lagi si pengkritik itu orang
Kristen (kafe) meski kritikannya tidak semua jelek.
Memang sungguh tragis, akibat penyikapan pada nilai-nilai keilmuan yang
rendah elit Aceh dan elit ABRI, sejak rejim Soeharto telah menimbulkan
malapetaka yang sangat biadab pada rakyat kecil yang juga telah
menghilangkan marwah khususnya yang merasa dirinya orang Aceh dan umumnya
orang2 yang cinta damai dalam kehidupan kemasyarakatan yang majemuk..
Rezim Soeharto, telah meninggalkan sikap mental goblok pada berbagai
lapisan masyarakat di berbagai daerah propinsi Indonesia, hanya demi
menjaga supremasi Jakarta.
Imbauan khususnya bagi elit yang merasa dirinya orang aceh dan
masyarakat Aceh pada umumya, perlu diambil kebersamaan sikap terhadap
situasi saat ini dengan dasar untuk cinta damai dan marwah aceh tanpa
merasa diri paling pintar.
Meski banyak simpatisan datang terhadap tragedi ini, rakyat Aceh
harus mempertimbangkan pikiran sebagai berikut:
Jauhkan pikiran bahwa ICMI, KISDI, ataupun organisasi islam lainya akan
mengambil peran dalam kasus Aceh, alasanya meski umat Islam mayoritas
di RI tetapi sangat lah lemah, untuk menjalankan agenda mereka saja pun
terseot-seot, dikarenakan apresiasi keilmuan yg rendah dikalangan umat islam
sendiri di RI.
Lembaga yang menangani hak asasi yang ada di Aceh atau pun di Jakarta ,
seperti Komnas HAM, Kontras dan lain sebagainnya tetap diberi
penghargaan atas usahanya, tetapi ketahui lah bahwa saat ini sangat
banyak masalah yang harus mereka proritaskan dengan berbagai alasan
politis atau pun alasan lainya.
Amnesti Internasiaonal atau pun UNHCR, terlalu kecil untuk memikirkan
tentang aceh, banyak hal lain dibelahan dunia yang perlu ditanganinya.
Hanya masyarakat aceh yg sadar akan marwahnyalah yang dapat
mengembalikan nilai positip kehidupan masyarakat aceh ditengah
kemajemukan ras lainnya dengan dasar keilmuan bukan emosional ,
keadilan, kesabaran dan penuh keyakinan.
Untuk mempercepat perlu konsolidasi bagi elit Aceh dan simpatisan yang
cinta damai dalam mencari strategi penyelesaian masyarakat aceh.
Sosialisasi dan penerapan hasil pemikiran oleh para elit aceh ke sejumlah
daerah
rawan secara kontinyu mudah-mudahan akan mempercepat pulihnya luka masyarakat
gampong bukan omong-omong di Jakarta ataupun di lembaga2 dalam bentuk2
seminar dan diskusi saja.
Pada Gubernur Syamsuddin Mahmud perlu mencari tahu anak-anak muda Aceh
yang sedang studi di luar negri dan perlu dicanangkan program pemberantasan
kebodohan berpikir pada generasi muda Aceh dengan megirim para pemuda Aceh
yang brilyan ke berbagai negara dalam berbagai bidang pengetahuan tanpa
ada unsur KKN dalam pengirimannya.(Harus dijadikan prioritas untuk
mencegah darah rakyat aceh menetes sia-sia).
Semoga Tuhan memberkahi usaha orang yang menginginkan keadilan dan
kejujuran dalam rangka memerangi kebodohan.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html