Precedence: bulk


TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
oleh A. Yuswara

Jelas, bahwa transkrip ceramah Theo Syafei yang menghebohkan itu merupakan
ekspresi jujur perasaan seorang yang bukan-Muslim, di tengah meningkatnya
tekanan terhadap kalangan Kristen -- tekanan yang dilakukan oleh grup yang
mengatasnamakan Islam, khususnya KISDI.

Bahwa suara itu datang dari seorang purnawirawan ABRI, dan antara lain
mengungkapkan ketegangan antara kelompok agama di kalangan militer,
menunjukkan betapa gawatnya hubungan Islam-Kristen di masa terakhir
Soeharto. Kita mungkin tidak akan dapat menentukan secara persis sejak
kapan pimpinan ABRI menjadi rusak (malahan mungkin retak) karena perbedaan
agama di kalangan para jenderal.

Ada yang mengatakan, ini bermula dari masa ketika Jenderal Benny Moerdani
memegang peran penting dalam "intelligence community" Indonesia, baik
sebagai Ass Intel Pangab maupun sebagai Kepala BAIS.  Jenderal Benny seorang
Katolik, dan sangat mungkin -- berbareng dengan kuatnya kecurigaan kepada
ekstremisme Islam di masa itu -- ia punya bias untuk tidak menyukai, atau
mencurigai, banyak hal yang berwarna Islam. Mungkin saja ia dengan sengaja
menyingkirkan perwira yang latarbelakang Islamnya kuat, misalnya yang dulu
di SMA, sebelum masuk AKABRI, jadi anggota organisasi pelajar Islam.
Menurut seorang bekas perwira intel yang aktif masa itu, "pembersihan" ini
terutama berlangsung di dinas intel.

Waktu itu pandangan ABRI terhadap aktivis Islam memang negatif, karena
pengalaman lama dengan gerakan Darul Islam di hutan, juga karena ketakutan
akan radikalisme yang diilhami, dan mungkin didorong, oleh Lybia dan Iran.
Banyak yang belum lupa, bahwa di masa dinas Benny sebagai orang intel No.1,
terjadi "Peristiwa Woyla", ketika sejumlah anak muda Islam membajak Pesawat
"Woyla". Mereka berhasil dilumpuhkan di airport Bangkok, oleh tim Kopassus
(Detasemen 81) yang sudah disiapkan untuk melawan terorisme. Ada indikasi
bahwa kelompok anak muda ini, yang memang "fanatik", dipancing oleh militer
untuk berbuat nekad, memakai jalan kekerasan tapi tidak siap benar, sehingga
mudah digebuk. Dalam pengadilan, diketahui ada seorang intel ABRI yang
diselundupkan ke dalam gerakan yang dipimpin Imron itu. Setelah diadili, mereka
dilenyapkan. Kemungkinan dibunuh.

Cara keras ABRI masa itu terhadap aktivisme Islam mencapai puncaknya ketika
ada demonstrasi massal di Tanjung Priok, yang kemudian dikenal sebagai
"Peristiwa Priok". Diperkirakan 100 sampai dengan 300 orang ditembak mati
oleh satuan-satuan KODAM JAYA dan jenazahnya dikuburkan entah di mana.

SAKIT HATI

Kecurigaan kepada radikalisme Islam tidak terbatas di situ. Bias negatif
terhadap (aktivisme) Islam juga dirasakan pengaruhnya di kalangan perwira
ABRI yang masih sedang naik jenjang karirnya waktu itu. Memang masih perlu
diteliti, sejauh mana bias itu mempengaruhi promosi mereka. Tetapi
perkembangan setelah Benny Moerdani berhenti menunjukkan memang ada
sejumlah perwira yang sakit hati oleh cara seleksi masa itu. Umumnya mereka
datang dari keluarga Islam santri, atau yang di masa SMA pernah jadi
anggota Pelajar Islam Indonesia. (Di antara perwira tinggi memang ada yang
punya latarbelakang itu, misalnya Jenderal Subagio, KASAD yang sekarang).

Mereka yang tersingkir ini kemudian mendapatkan kesempatan membalas ketika
Benny Moerdani dan orang kepercayaannya turun. Apalagi setelah ada
ketegangan antara Benny dan Presiden Soeharto, dan terutama ketika Prabowo
Subianto naik. Banyak versi yang menjelaskan kenapa demikian, tapi belum
diketahui mana yang benar. Yang pasti, Prabowo menjadi motor penggerak
tindakan "de-Benny-isasi" yang kemudian terjadi.

Prabowo membenci Benny dengan berapi-api. Perlu ditelaah lebih lanjut, apa
yang menyebabkannya. Sifat Prabowo memang emosional, tak bisa mengendalikan
perasaan benci atau dendam. Tetapi ia tidak dikenal sebagai aktivis Islam;
ia datang dari ayah Jawa abangan (Prof. Sumitro) dan ibu Kristen. Mungkin
ada konflik pribadi antara Prabowo dan Benny, mungkin Prabowo ingin
mengambil simpati Islam untuk ambisi politiknya, mungkin pula Prabowo hanya
mencoba menyenangkan mertuanya, Presiden Soeharto -- yang waktu itu sudah
tidak suka lagi kepada Benny, entah mengapa.

Pokoknya dengan naiknya Prabowo, ada semacam gerakan balasan: perwira yang
bukan Islam disingkirkan. Temperamen Prabowo sangat berpengaruh dalam cara
penyingkiran ini, yaitu terang-terangan menggunakan kriteria agama. Sistem
dan prosedur promosi dan mutasi yang normal praktis dirusak. Ini pun
melahirkan rasa sakit hati di kalangan para perwira yang beragama Kristen,
dan dampaknya masih terus sampai Prabowo jatuh. Pembatalan pengangkatan
Johny Lumintang hanya beberapa jam setelah ia menggantikan Prabowo sebagai
Pangkostrad, (Mei 1998), menunjukkan bahwa PANGAB Jenderal Wiranto juga masih
harus hati-hati untuk mempromosikan seorang Kristen ke posisi strategis.

Singkatnya, pimpinan ABRI tidak lagi seperti dulu, yang membanggakan naik
turunnya perwira berdasarkan "merit" atau prestasi, bukan berdasarkan
agama. ABRI tidak lagi imun dari konflik antargolongan. Ini memang
mencemaskan, dan agaknya suara Theo Syafei -- sebagai mantan perwira tinggi
-- mencerminkan frustrasi dan keprihatinan tentang keadaan itu.

SIAPA MEMOJOKKAN ABRI DAN DWI FUNGSI ABRI

Tetapi jika kita baca transkrip ceramah Theo Syafei, kita akan melihat juga
bagaimana seorang yang berani berbicara jujur belum tentu juga berbicara
benar. Transkrip ceramah itu menunjukkan macam-macam salah data dan salah
analisa.

Salah data yang mencolok misalnya tentang Zacky Makarim, Kepala BIA yang
pekan ini baru diganti. Menurut Theo Syafei, (ceramahnya diucapkan bulan
September, sebelum Sidang Istimewa), Zacky Makarim, meskipun teman dekat
Prabowo, tidak juga dicopot oleh Wiranto, karena kakak Zacky adalah Anwar
Makarim, seorang Ketua ICMI. Padahal kakak Zacky Makarim adalah Nono Anwar
Makarim, seorang lawyer yang lebih banyak tinggal di AS, bekas pemimpin
redaksi Harian KAMI, yang tidak pernah masuk organisasi Islam apapun.
Sementara itu Wiranto tahu, menurut sebuah sumber, bahwa sebetulnya
hubungan antara Zacky dan Prabowo tidak sedekat diduga. Sebelum mencopot
Prabowo dari Kostrad, justru Wiranto berembug dengan Zacky, dan Zacky tidak
membela Prabowo.

Theo Syafei juga menunjukkan ketidak-mengertiannya tentang Islam, terutama
peta bumi kalangan Islam di Indonesia. Ia tidak sepenuhnya memahami posisi
Qur'an dan Hadith serta ijitihad dan kitab-kitab kuning dalam yurisprudensi
Islam maupun sebagai pedoman hidup ummat Islam.

Ia melihat perbedaan antara NU dan Muhammadiyah lebih dari segi mana di
antara keduanya yang punya akar pada sejarah Indonesia, dengan kesimpulan
seakan-akan Muhammadiyah kurang bersifat Indonesia dibanding NU. Ia tidak
melihat adanya latar belakang kelas sosial ataupun unsur sosiologis lain
dalam perbedaan kedua organisasi itu. Dalam hal ini pandangan Theo tipikal
pandangan ABRI, dengan menitikberatkan pada dikotomi antara "asing"
("luar") atau "asli" ("Indonesia").

Tipikal pandangan ABRI pula ketika Theo Syafei melihat ancaman akan
berdirinya "Republik Agama Islam" nanti, yang oleh Theo dikesankan sebagai
sebuah agenda politik rahasia dari ICMI, KISDI dan seterusnya.

Theo Syafei hanya melihat dua kelompok Islam. Yang satu NU (yang ia
identikkan dengan Gus Dur yang pluralis -- padahal ada pelbagai faksi dalam
NU, dan tidak semuanya pas dengan semangat pluralis Gus Dur). Yang lainnya
ICMI, KISDI, Muhammadiyah dan seterusnya (yang ia anggap semuanya satu --
padahal dalam ICMI saja terdapat pelbagai jenis pemikiran). Theo Syafei
tidak menyebut bagaimana pandangan Nurcholish Madjid, M. Dawam Rahardjo,
Muslim Abdurrahman, dan lain-lain yang bukan "NU", tetapi jelas diametral
bertentangan dengan KISDI.

Tipikal pandangan ABRI, yang "hitam-putih", Theo Syafei tidak mengerti
nuansa perbedaan antara PPP dan Bulan Bintang, Bulan Bintang dan Partai
Keadilan, Partai keadilan dengan Masyumi. Belum lagi memahami liku-liku PKB
dan PAN. Seperti dalam briefing-briefing militer, pandangan Theo pratiks
berdasar pada analisa kasar dan simplistis.

Tipikal pandangan ABRI pula, untuk melihat kekuatan di Indonesia kini
terdiri atas "ekstrim kanan" (yaitu Islam yang bukan-NU) dan "Pancasilais"
(yang dijaga oleh ABRI). Dengan pandangan ini, Theo Syafei menilai,
kalangan Islam ekstrim kanan itulah yang terus menerus berkampanye
memojokkan ABRI, dan ingin menghabisi Dwi Fungsi ABRI. Menurut Theo, semua
usaha itu dibuat agar ABRI yang sudah mengalami demoralisasi itu tersingkir
dan negara Pancasila kita diganti oleh "Republika" ("Republik Agama").

Kesimpulannya ialah:  ABRI jangan dipojokkan, Dwi Fungsi harus dipertahankan,
agar "Negara Islam" tidak jadi berdiri.

Benarkah itu? Di sini Theo Syafei keliru sama sekali. Yang menentang "Dwi
Fungsi" ABRI bukan hanya mereka yang sejalan dengan "desain Republika"
(kalau pun desain ini ada). Yang menentang "Dwi Fungsi" adalah mereka yang
melihat bahwa doktrin ini menghalalkan supremasi ABRI dalam politik.
Tujuannya bagus, tetapi pengalaman menunjukkan, bahwa sebuah kekuatan
sosial-politik yang memegang senjata mau tak mau akan punya posisi di atas
dibandingkan yang lain. Sudah punya bedil, punya kursi di DPR dan di
kedudukan lain.

Pengalaman menunjukkan, bahwa ABRI, dalam posisinya yang praktis berada di
atas kekuatan lain, bahkan di atas hukum, telah menghasilkan perilaku
politik yang bergelimang darah. Indonesia, sejak tahun 1965, menyelesaikan
konflik-konfliknya dengan pembunuhan. Dan setiap kali,yang disalahkan dan
dihabisi adalah kekuatan sipil. Baik itu anggota PKI, atau aktivis Islam,
atau gerakan rakyat yang tak puas di Aceh, di Timor Timur, atau di Irian Jaya.

Sebagai penutup, saya ingin menyimpulkan, bahwa meskipun Theo Syafei itu
mengeluarkan ekspresi yang jujur, pandangannya menyesatkan. Saya anggap
ketakutan akan berdirinya "Negara Islam" itu dilebih-lebihkan, dan ini
adalah khas propaganda ABRI. Dalam kenyataan, cukup banyak kekuatan di
kalangan Islam sendiri, dan itu tidak hanya Gus Dur, yang menolak ide
"Negara Islam". Theo Syefei serta para jenderal lain sebaiknya membuka mata.

Ide negara agama yang membahayakan hak asasi manusia justru harus diatasi
dengan mengukuhkan kekuatan rakyat penjaga hak asasi. Bukan dengan
mengukuhkan dan menghalalkan intervensi militer dalam politik, yang telah
mengamburadulkan Indonesia selama ini. Mudah-mudahan, itu yang (akan) jadi
platform PDI Perjuangan, yang kini dimasuki oleh Theo Syafei.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke