Precedence: bulk


OPERASI WIBAWA 99 LEBIH KEJAM DIBANDING DOM

        LHOKSEUMAWE (MeunaSAH, 13/1/99), Kekejaman dan kebrutalan anggota 
ABRI di Lhokseumawe, Aceh Utara saat  ini justru melebihi ketika DOM di Aceh 
berlaku di Aceh. Belum dua minggu menapak tahun 1999 ini, sudah tewas 
puluhan orang dan ratusan lainnya luka-luka  karena dianiaya maupun ditembak
pasukan ABRI.

        Tokoh Forum Peduli HAM Aceh Ir Abdul Gani Nurdin mengatakan, tindak 
kekerasan dan pelanggaran HAM di Aceh, eksesnya lebih ganas dibanding 
persoalan dasarnya. Walaupun ketika diberlakukan DOM dengan Operasi 
Jaring Merah di Aceh, menurut Abdul Gani, kekejaman dialami  di sebagian 
besar rakyat di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Pidie dan Operasi Wibawa 99 
hanya dialami warga dari beberapa desa saja, tapi menurutnya justru 
setiap hari rata-rata dua orang dinyatakan tewas di tangan anggota ABRI. 
Dan 20 orang lainnya, setiap hari mendapat penganiayaan berat maupun 
ringan. Padahal selama berlaku DOM, menurut Abdul Gani Nurdin, frekuensi 
korban pelanggaran HAM rata-rata satu orang per desa, atau 5 orang dalam satu
kecamatan.

        Kenyataan bahwa Operasi Wibawa '99 yang lebih brutal dari kondisi
sebelumnya itu lah, kata Gani, sebaiknya jajaran ABRI menarik pasukan. Selain
itu, jelas karena sasaran untuk menegakkan wibawa ABRI tidak berhasil
diwujudkan. Bahkan telah menimbulkan luka dan persoalan baru di masyarakat Aceh.

        Seperti diberitakan SiaR sebelumnya, kondisi Aceh makin memburuk 
setelah ABRI melakukan operasi kembali dengan membentuk Satgas Wibawa 
99. Operasi yang konon dimaksudkan untuk menegakkan wibawa pemerintah 
dan ABRI yang remuk akibat pemberlakuan DOM beberapa waktu lalu itu, 
ternyata telah membawa ekses luar biasa di dalam masyarakat. Apalagi 
dengan ditemukannya sejumlah anggota ABRI yang  tewas dan kabar adanya 
dua orang lagi yang disandera sekelompok masyarakat yang disebut-sebut 
dipimpin Ahmad Kandang itu telah membuat ABRI semakin berbuat tak 
terkendali. Sweeping di kampung-kampung dan hutan-hutan terhadap anggota 
"kelompok Ahmad Kandang" itu dinilai justru membuat rakyat semakin 
ketakutan dan benci terhadap ABRI. 

        Sebab, menurut sejumlah sumber, ketika melakukan operasi, ternyata
yang dianggap pemberontak oleh ABRI itu adalah masyarakat "biasa" yang tidak
tahu menahu duduk persoalannya. 

        "Penangkapan terhadap 40 orang Sabtu lalu, bukanlah anggota Aceh
Merdeka atau pengacaiu seperti tuduhan ABRI. Tapi mereka adalah masyarakat yang
diundang oleh Bupati untuk audiensi," kata Munir SH dari Kontras.

        Yang lebih parah lagi, ternyata ketika menunggu interogasi yang tidak 
jelas itu, datang sekelompok pasukan ABRI tak berseragam dan menganiaya 
tahanan itu secara membabi buta. Dari peristiwea ini 4 orang tewas dan 
puluhan lainnya luka-luka.

        Berikut adalah kronologinya:

Sabtu (9/1) pukul 04:30 WIB, pasukan Satgas Wibawa 99 yang dipimpin
Letkol Pol Drs Iskandar Hasan melakukan sweeping di Desa Meunasah Blang, 
Kemukiman Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Aceh Utara. Namun, 
dalam operasi ini mereka kembali gagal menemukan kelompok Ahmad Kandang. 

Sekitar pukul 09:45 WIB, Satgas Wibawa kemudian menangkap dan 
mengamankan 40 orang (7 dari Desa Meunasah Blang, dan 33 lainnya dari 
Kutablang) warga setempat yang diduga simpatisan Ahmad Kandang. Ke 40 
orang tersebut ditangkap di persimpangan Kutablang, Lhokseumawe ketika 
massa sedang bersama-sama berjalan ke arah Kota Lhokseumawe. Padahal, 
menurut Munir SH (Kontras), mereka bermaksud menghadiri undangan Bupati 
setempat untuk audiensi. 

Pukul 10.00 WIB, 38 orang di antaranya ditahan di Gedung KNPI di Jalan 
Iskandar Muda, dekat Makorem 011/Lilawangsa, dan dua lainnya dibawa ke 
RSU Lhokseumawe karena menderita luka-luka. Masing-masing Zulkifli 
Mahmud (35), warga Desa Meunasah Blang Kandang yang mengalami luka 
tembak. Sedangkan temannya, Herman Husin (27) mengalami luka robek pada 
bagian badan dan kepala dan akhirnya meninggal. 

Pukul 10.30, tahanan mulai diperiksa tim penyidik dari Polres Aceh 
Utara. Tapi bersamaan dengan itu, dikabarkan, sejumlah anggota ABRI 
secara sembunyi-sembunyi melakukan pemukulan terhadap tahanan. Dari 38 
orang yang diperiksa, polisi menemukan sepuluh orang di antaranya 
memenuhi syarat untuk diproses lebih lanjut dan dibawa ke Mapolres Aceh 
Utara.

Pukul 18:45 WIB, tiba-tiba datang sekitar 50 anggota ABRI menyerbu 
Gedung KNPI dan melakukan pemukulan serta penganiayaan terhadap para 
tahanan secara membabi-buta.

Pukul 21.00 WIB, para tawanan dievakuasi ke RSU Lhokseumawe. Beberapa 
jam kemudian dua korban, yaitu Saifuddin Ibrahim dan Murthala meninggal 
karena luka yang cukup mengenaskan. Disusul Minggu dini hari, dua 
tahanan lagi, yaitu Hamzah Muhammad dan Herman Husen juga meninggal 
dunia.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke