Precedence: bulk


Radio Nederland, Gema Warta 12 Jan. 1999.

JAKARTA DISERUDUK KANGGURU DARI BELAKANG

Pemerintah  Indonesia  dalam  pernyataan resminya menyatakan sangat
menyesalkan perubahan sikap Australia terhadap soal Timor Timur. Kami
prihatin dan khawatir perubahan  itu  akan mempengaruhi perundingan segitiga
tentang Timor Timur yang sedang berjalan. Demikian Direktur Penerangan
Departemen Luar Negeri RI Ghaffar Fadyl.  Pemerintah  konservatif  Australia
yang  dulu mengakui integrasi Timor Timur ke dalam RI, sekarang mendukung
perlunya referendum untuk penentuan nasib sendiri.  Suatu  perubahan  yang
mengejutkan,  dan dapat membantu penyelesaian konflik  Timor  Timur,
apabila skenario Jamsheed Marker dapat terlaksana. Tapi bagi  Jakarta,
Negara  Kangguru  itu  seolah menusuk dari belakang. Lebih jauh ulasan
redaksi di Hilversum...

Reaksi  Jakarta  itu  cukup  mengejutkan. Australia yang merupakan satu
satunya negara  Barat  dan negara terpenting yang mengakui aneksasi dan
integrasi Timor Timur  ke  dalam  RI,  selama  ini sangat dekat dengan
Indonesia, baik di zaman Soeharto  maupun  sejak  Mei  lalu.  Oleh  karena
itu  banyak pengamat menduga perubahan  sikap  Canberra  itu  paling  tidak
sudah  diisyaratkan atau bahkan dirembug  lebih  dulu  dengan  Jakarta,
tetapi ini pun ternyata tidak. 

Hal itu tampak  dari  reaksi  Deplu  yang  mengkahawtirkan  dampak
perubahan  itu bagi perundingan  segitiga  tentag  Timor Timur. Bahkan
Menteri Sekretaris Negara Akbar Tanjung yang tidak  pernah  berbicara
mengenai  Timor Timur, mendadak menunjuk bahwa usulan  Indonesia  memberi
otonomi  luas  kepada  Timor Timur itu tidak dimaksud agar disusul  dengan
kemerdekaan.  Baru  beberapa hari lalu Menteri Luar Negeri Ali Alatas
menegaskan hal itu, sambil melancarkan kritik terhadap Portugal sebagai
penguasa  kolonial  paling  buruk, dan mengkritik secara keras wakil
perlawanan Timor Timur Jose Ramos Horta.

Sekarang  tanpa  diduga  Jakarta seolah ditusuk dari belakang oleh pihak
ketiga yang  selama  ini loyal kepada Indonesia, yaitu tetangga Kangguru.
Sejak menang pemilu  dua tahun lalu pemerintah konservatif Australia di
bawah PM John Howard melanjutkan persahabatan dengan Jakarta yang dirintis
oleh PM Paul Keating yang sering   disebut  sebagai  sahabat  Soeharto.
Sejak  jatuhnya  Soeharto,  peran pengritik  dalam negeri Australia
melancarkan tekanan kuat kepada Canberra agar mengubah kebijaksanaannya,
tetapi Canberra tidak bergerak. Pemerintah bayangan yang  disiapkan  Kim
Beasley  dari  oposisi  Partai  Buruh sementara itu sudah menegaskan  akan
merombak  politik  luar  negeri  Kangguru, terhadap Indonesia berkenaan
dengan soal Timor Timur, jika menang pemilu nanti.

Sekarang  pemerintahan  konservatif menggembosi desakan dan kritik dari
oposisi dalam  negeri  maupun  kritik  kritik internasional terhadaap
Australia. Dengan menyatakan  mendukung  hak hak penentuan nasib sendiri
bagi Timor Timur melalui referendum,   maka   Menteri   Luar  Negeri
Australia  Alexander  Downer  kini menempatkan negaranya dalam jajaran
terhormat dunia internasional terhadap soal Timor  Timur.  Selama  ini  baru
Afrika  Selatan sejak Presiden Nelson Mandela bertemu  Xanana  Gusmao  dan
PBB  di  bawah  Sekjen  Kofi Annan yang mendukung penyelesaian  soal  Timor
Timur  dengan  menekan  Indonesia  dengan  kuat agar membebaskan pemimpin
perlawanan tsb.

Dengan  masuknya  Australia  dalam kancah kelompok penekan Indonesia dalam
soal Timor  Timur,  maka  apa yang dikhawatirkan Jakarta bisa terjadi, yaitu
tekanan makin  meningkat  untuk  mengarahkan  penyelesaian  soal  Timor
Timur  ke arah referendum.  Ini  berarti  dukungan  akan bertambah kuat bagi
Utusan Sekjen PBB Jamsheed  Marker  yang  mengupayakan otonomi luas, melalui
suatu pemilihan umum bebas  untuk  membentuk  pemerintah  daerah  dan
parlemen  daerah Timor Timur, sebagai  satu tahap panjang  menuju solusi
jangka panjang. 

Dengan bantuan kehadiran dan pengawasan PBB, pemerintah daerah Timor Timur,
harus menyiapkan Timor Timur yang  mandiri,  dengan  polisi  lokal yang
menggantikan ABRI, dan membuka pintu bagi  partai  partai politik Timor
Timur untuk ikut serta dalam suatu pemilihan umum tersendiri bagi Timor
Timur. Apakah skenario Jamsheed Marker yang didukung Xanana  Gusmao  itu
akan terlaksana, masih banyak hambatannya, terutama situasi keamanan di
dalam Timor Timur sendiri.

Situasi  kacau  balau  pro-kontra referendum di Timor Timur makin
mencurigakan, seolah-olah  memberi  kesan  ada  kalangan  Indonesia  dan
elite Timor yang pro Jakarta, yang ingin membela status quo sekuat tenaga
dengan jalan apapun. 

Jadi, di  satu  pihak,  usulan otonomi luas dari Indonesia yang dikembangkan
Jamsheed Marker  bisa  membuka  pintu  bagi  persiapan  kemandirian,
demokratisasi  dan pelaksanaan  referendum  bagi  Timor Timur pada jangka
panjang. Tetapi, di lain pihak,  tampaknya  ada  usaha usaha untuk menjegal
proses itu dengan membiarkan keadaan  kacau  balau terus, sampai Uskup Dili
Carlos Belo baru baru ini merasa perlu  untuk bertemu dengan seluruh danrem
di Timor Timur. Tidak jelas apa saja skenario  yang dikembangkan dari
Jakarta, tetapi jika ada usaha menjegal usulan PBB, yang pada jangka panjang
dapat membuahkan referendum itu, maka bahaya masih terus mengintip Timor Timur.

Walhasil,  apapun hasil perundingan segitiga Indonesia dan Portugal bulan
bulan mendatang,  jika  pemilu  Indonesia  Juni nanti jujur dan adil, maka
pemerintah baru  Indonesia  yang  demokratis,  harus memulihkan jalan
demokratis bagi Timor Timur,  yaitu  jalan  referendum.  Untuk itu, tetangga
Kangguru sekarang sudah  bisa  ikut  memperkuat  tekanan  masyarakat
internasional agar Indonesia menuju ke arah itu.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke