Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99 ------------------------------ TEROR UNTUK MAHASISWA (POLITIK): Polisi mengumumkan telah menemukan ratusan ketapel dari sebuah kampus di Tangerang. Langkah lanjutan teror terhadap gerakan mahasiswa? Pada bulan Ramadhan ini, gerakan mahasiswa menahan diri untuk tidak turun jalan lagi. Sebagai bentuk toleransi dan supaya tidak dibenturkan dengan kelompok lain. Namun begitu, aksi teror tetap dilakukan oleh militer untuk menekan gerakan mahasiswa. Misalnya saja soal isu penemuan ketapel di kalangan mahasiswa dan pemanggilan terhadap sejumlah aktivis. Isu penemuan ratusan ketapel tersebut diumumkan Polda Metrojaya tanggal 4 Januari 1999. Menurut Polda, mereka menemukan ketapel tersebut setelah berhasil menggerebek sebuah kampus di daerah Serpong, Tangerang. Penggerebekan tersebut menurut Polda dilakukan setelah menerima informasi bahwa ada sekelompok mahasiswa melakukan latihan demonstrasi dan pemakaian senjata dalam menghadapi aparat keamanan. Setelah digerebek, katanya, diketemukan ratusan ketapel impor. Namun, kepolisian tidak mau menyebutkan di kampus mana barang-barang itu ditemukan. Pengumuman oleh Polda tersebut cukup membuat geli kalangan aktivis mahasiswa, terutama mahasiswa Institut Teknologi Indonesia, satu-satunya kampus yang selama ini mahasiswanya aktif demo dan berlokasi di dekat Serpong, Tangerang. Menurut sejumlah aktivis ITI, pernyataan Polda tersebut tidak masuk akal. Sebab, menurut mereka kegiatan di Kampus ITI telah terhenti sejak 24 Desember 1998. "Dan tidak benar ada pelatihan atau penggerebegan di sini. Itu mengada-ada," tegas salah seorang mahasiswa. Tetapi mereka tidak kaget dengan tuduhan tersebut, sebab hanya dengan begitulah mereka punya alasan untuk masuk ke dalam kampus. "Tampaknya memang itu yang dikehendaki," kata sumber ini. Ia juga mencontohkan sejumlah peristiwa penangakapan terhadap aktivis pro demokrasi, terutama aktivis Timtim, juga sering memakai cara-cara demikian. Tapi menurut beberapa rektor perguruan tinggi di Jakarta, apapun alasannya, militer tidak diperbolehkan seenaknya melakukan sweeping ke kampus-kampus. "Sebab bagaimana pun ini adalah wilayah kami. Kalau mau masuk, ijin dulu keperluannya apa," kata Soebroto, Rektor Universitas Pancasila. Bekas menteri di masa Orde Baru ini tidak percaya dengan isu yang diterbarkan bahwa gerakan mahasiswa sudah membahayakan kehidupan berbangsa. "Kalau cuma ketapel saja tidak ada masalah. Apakah itu sudah dianggap sebagai senjata untuk melawan tentara atau polisi yang membawa senapan? Kan nggak. Dalam peraturan, saya kira ketapel bukanlah barang senjata yang dilarang," tegas Soebroto. Hal senada juga diungkap aktivis pro reformasi yang lain. Mereka cenderung tidak menyalahkan mahasiswa, jika benar dalam demonstrasinya membawa ketapel. Sebab, menurut mereka, selama ini mereka melakukan demonstrais tak pernah memakai senjata. Tetapi sebaliknya, aparatlah yang menghadang dan menghadapi demonstran dengan senjata. "Wajarlah, kalau mereka akhirnya punya ide membawa ketapel," kata mereka. Sumber lain menyebut, bahwa "perang urat saraf" antara aparat keamanan dengan mahasiswa memang terus berlangsung pada bulan puasa ini. Teror-teror tersebut dilakukan militer untuk meredam gerakan mahasiswa yang diperkirakan akan semakin besar seusai lebaran nanti. Sebaliknya, ditubuh mahasiswa sendiri juga sedang melakukan "pembersihan" terhadap sejumlah mahasiswa yang diduga intel yang disusupkan. Pembersihan ini, konon dilakukan setelah peristiwa berdarah di Gatot Soebroto beberapa waktu lalu, dimana sejumlah mahasiswa melakukan perlawanan dengan menggunakan bambu dan besi. "Ada beberapa mahasiswa yang dalam demonstrasi terlalu radikal, ternyata bagian dari provokator yang disusupkan oleh militer," kata sumber di Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED). "Tapi telah berhasil kami keluarkan dari jaringan gerakan," tegasnya. Sementara itu, teror juga dilakukan dalam bentuk pemanggilan kepada sejumlah aktivis mahasiswa oleh kepolisian. Sarbini yaitu salah seorang ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), misalnya. Mahasiswa Universitas Tujuh Belas Agustus, Jakarta ini diteror dengan pemanggilan ke dua kalinya ke Mapolda Metro Jaya, tanggal 28 Desember 98. Dalam surat panggilan itu disebutkan berkaitan dengan tuduhan makar para penandatanganan Komunike Bersama di Hotel Sahid 13 November 1998. Sarbini mengaku diperiksa tiga perwira Polisi dengan berbagai pertanyaan yang menggiring ke arah tuduhan bahwa ia terlibat aktif sejak awal dengan Yopie Hidayat, salah seorang penggagas Komunike Bersama. Ia juga mengaku dijebak pertanyaan tentang mekanisme pendanaan FKSMJ, termasuk hubungannya dengan beberapa tokoh yang belakangan disebut-sebut sebagai tokoh reformasi. "Teror melalui apapun, bukanlah masalah bagi kami. Kalau pemerintah ini tidak pernah mau membuka telinganya, maka massa tetap akan turun ke jalan. Sampai kapan pun" kata salah seorang aktivis. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
