Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99 ------------------------------ Polling Soal Aceh: BICARAKAN SECARA TERBUKA (POLITIK): Masyarakat kelas mengenah Aceh menginginkan soal Aceh Merdeka dibicarakan secara terbuka. Apa yang kini terjadi di Aceh memang bukan hal yang mengejutkan. Ibarat bara dalam sekam, Aceh diam-diam terbakar dari pedalaman. Bara perlawanan yang dinyalakan Hasan Tiro, pencetus gagasan Aceh Merdeka sekitar 1976, kendati kecil namun nyalanya terus dipelihara. Siapa yang menjaga api itu agar tak padam? Tentu saja para pengikut Hasan Tiro yang kemudian meluas ke masyarakat Aceh yang merasakan penderitaan karena kemiskinan. Mereka merasa miskin di tanah mereka yang kaya. Di Lhokseumawe misalnya, yang kini menjadi daerah pergolakan antara pasukan ABRI melawan pasukan Ahmad Kandang, tokoh baru yang tiba-tiba muncul dari "sekam", adalah wilayah yang kaya akan minyak dan gas. Di wilayah yang sering disebut Petrodollar itu, PT Arun N.G.L. Co, dan Mobil Oil Indonesia, sebuah perusahaan Amerika, mengeduk minyak dan gas di depan mata masyarakat Aceh. Namun hasil kekayaan alam itu tak pernah menyentuh sebagian besar masyarakat Aceh yang tetap hidup sebagai petani. Itu tak hanya terjadi di Lhoksumawe namun juga di berbagai wilayah Aceh. Api dalam sekam itu pun tak mampu dipadamkan operasi yang bernama Jaring Merah I hingga VII yang menyebabkan Aceh jadi daerah operasi militer (DOM). Sumber api dalam sekam itu pun tak pernah ditemukan, apalagi dipadamkam. Nah, untuk mengetahui sikap masyarakat Aceh, Buletin Seureune, media cetak yang diterbitkan Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh, edisi Januari menurunkan sebuah hasil polling terhadap kalangan menengah di Aceh soal ide Aceh Merdeka. Berikut hasil pooling itu, yang dicuplikan Xpos untuk pembaca. Anggapan bahwa rakyat Aceh adalah orang yang paling setia pada republik, kini tak sepenuhnya bisa kita percayai. Berbagai aksi massa yang belakangan terjadi di Aceh Timur dan Aceh Utara adalah bukti rakyat Aceh sudah jenuh dengan berbagai ketidakadilan saat bergabung dengan Indonesia. Kata Aceh Merdeka pun tak lagi takut mereka ucapkan. Kalau aksi sweeping di Aceh Utara dan Timur bisa dijadikan acuan untuk melihat sikap rakyat Aceh di lapis bawah. Maka untuk melihat sikap kalangan menengah Aceh terhadap ide Aceh berdiri sendiri setelah upaya penyelesaian Kasus Aceh berjalan ditempat, Seuruene akhir Desember lalu, mengadakan jajak pendapat. Lokasi yang diambil adalah Banda Aceh dan Aceh Besar, karena di daerah inilah kalangan menengah Aceh berkumpul. Sedangkan kuisioner dibagikan pada kalangan mahasiswa, dosen dan LSM. Alasan pemilihan ketiga kalangan ini selain dinilai kritis, mereka juga dianggap lebih berani dalam menyampaikan pendapat. Ini terbukti dari 150 kuisioner dengan pertanyaan yang lumayan sensitif yang diedarkan, hanya lima yang tidak dikembalikan. Bahkan sebagian besar responden mencantumkan namanya pada kuisioner, padahal kolom nama yang ada tidak diharuskan untuk diisi. Dari 145 responden, hampir seluruhnya 80% miliki darah Aceh, sedangkan 29 orang pendatang sebagian besar telah menetap di Aceh lebih dari lima tahun. Angka Ini menunjukkan responden cukup punya keterikatan moral dalam menentukan nasib Aceh dikemudian hari. Dalam jajak pendapat ini, ada tiga pertanyaan ini yang diajukan. Pertama sikap responden dengan adanya ancaman Aceh akan berdiri sendiri bila kasus Aceh tidak dituntaskan. Pertanyaan ini dijawab 126 responden, sedangkan 19 (13%) responden memilih tidak menjawab. Sedang yang menjawab setuju dengan ancaman itu mencapai 70 responden (49%), dan yang menjawab sangat setuju terdapat 34 (23%) responden. Dan poin tidak setuju hanya dijawab oleh 22 (15%) responden. Untuk pertanyaan apakah responden setuju ide Aceh merdeka dibicarakan secara terbuka, sebagian besar 77 responden atau 55%, menjawab setuju. Bahkan 45 (35%) lainnya menjawab sangat setuju. Sedangkan yang tidak setuju hanya 14 (10%) responden. Alasan 13 dari 14 responden yang tidak setuju itu membicarakan ide Aceh merdeka secara terbuka karena akan mengacaukan penyelesaian persoalan lainnya. Sedangkan satu orang dengan alasan karena alasan masih tabu dibicarakan. Pertanyaan ketiga, dijawab dengan hati-hati oleh responden. Pertanyaan yang berbunyi, apakah Aceh berdiri sendiri/lepas dari RI merupakan alternatif untuk menyelesaikan persoalan yang ada di Aceh, dijawab benar oleh 59 (41%) responden. Sedangkan yang menjawab tidak setuju, hanya selisih dua responden. Tepatnya 57 orang (39%). Sedangkan yang memilih tidak menjawab cukup banyak, mencapai 29 orang (20%). Diantara yang setuju dengan Aceh Merdeka dijadikan alternatif untuk menyelesaikan persoalan di Aceh, sebanyak 44 orang (75 %) diantaranya, menganggap itu cara alternatif terakhir, dan 15 orang (25%) tidak setuju itu dijadikan alternatif terakhir. Dari hasil jajak pendapat itu dapat disimpulkan bahwa banyak pendapat atau aspirasi masyarakat, bahkan kelompok kritis belum muncul kepermukaan. Dan ini merupakan api dalam sekam bila pemerintah tetap mengabaikannya. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
