Precedence: bulk
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99
------------------------------
MEMBUNUH DEMI CENDANA
(POLITIK): ABRI tidak berhasil menangkap kelompok Ahmad Kandang. Tapi
menangkap dan menganiaya penduduk sipil hingga tewas. ABRI lindungi aset
Cendana?
Sabtu (9/1) pukul 04:30 WIB, pasukan Satgas Wibawa '99 yang dipimpin Letkol
Pol Drs Iskandar Hasan melakukan sweeping di Desa Meunasah Blang, Kemukiman
Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Aceh Utara. Namun, dalam operasi ini
mereka kembali gagal menemukan kelompok Ahmad Kandang. Tetapi sekitar pukul
09:45 WIB, Satgas Wibawa kemudian menangkap dan mengamankan 40 orang (7 dari
Desa Meunasah Blang, dan 33 lainnya dari Kutablang) warga setempat yang
diduga simpatisan Ahmad Kandang. Ke 40 orang tersebut ditangkap di
persimpangan Kutablang, Lhokseumawe ketika massa sedang bersama-sama
berjalan ke arah Kota Lhokseumawe. Padahal, menurut Munir SH (Kontras),
mereka bermaksud menghadiri undangan Bupati setempat untuk audiensi.
Sekitar pukul 10.00 WIB, 38 orang di antaranya ditahan di Gedung KNPI di
Jl. Iskandar Muda, dekat Makorem 011/Lilawangsa, dan dua lainnya dibawa ke
RSU Lhokseumawe karena menderita luka-luka. Masing-masing Zulkifli Mahmud
(35), warga Desa Meunasah Blang Kandang yang mengalami luka tembak.
Sedangkan temannya, Herman Husin (27) mengalami luka robek pada bagian badan
dan kepala dan akahirnya meninggal.
Setengah jam kemudian, tahanan mulai diperiksa tim penyidik dari Polres Aceh
Utara. Tapi bersamaan dengan itu, dikabarkan, sejumlah anggota ABRI secara
sembunyi-sembunyi melakukan pemukulan terhadap tahanan. Dari 38 orang yang
diperiksa, polisi menemukan sepuluh orang di antaranya memenuhi syarat untuk
diproses lebih lanjut dan dibawa ke Mapolres Aceh Utara.
Namun setelah makan malam, pukul 18:45 WIB, tiba-tiba datang sekitar 50
anggota ABRI menyerbu Gedung KNPI dan melakukan pemukulan serta penganiayaan
terhadap para tahanan secara membabi-buta.
Baru sekitar pukul 21.00 WIB, para tawanan dievakuasi ke RSU Lhokseumawe.
Beberapa jam kemudian dua korban: Saifuddin Ibrahim dan Murthala meninggal
karena luka yang cukup mengenaskan. Disusul pada Minggu dini harinya, dua
tahanan lagi: Hamzah Muhammad dan Herman Husen meninggal dunia.
"Ini sudah keterlaluan dan ini bentuk ketololan yang luar biasa. Kalaupun
hewan yang tertawan di suatu ruangan dan tidak mengancam dengan sengatan
atau bisanya, rasanya tidaklah pantas dia dimatikan," ujar Prof Bahrein T
Sugihen MA sosiolog Unsyiah, Banda Aceh.
Jebolan Lousiana University, AS ini yakin bahwa tindakan penganiayaan
beramai-ramai seperti itu tidak mungkin kalau tidak dimufakatkan lebih awal.
Buktinya, semua mereka sengaja datang tanpa mengenakan seragam, datang
berbarengan sekitar 50 orang dan dari berbagai kesatuan. Pasti ada aktor
intelektualnya.
Seperti dalam pemberitaan Xpos sebelumnya, Aceh kembali bergolak setelah
sejumlah anggota ABRI dikabarkan tewas dan hilang oleh kelompok yang oleh
ABRI disebut sebagai kelompok Ahmad Kandang. Peristiwa itu menjadikan ABRI
kembali aktif melakukan penggeledahan ke kampung-kampung yang dihuni
penduduk. Sejumlah kampung di Aceh Utara dikosongkan dan sejumlah tempat
diobrak-abrik untuk mencari jejak "Ahmad Kandang". Namun, anehnya, sampai
dua minggu pencarian dan penyisiran rumah-rumah penduduk, ABRI belum satu
bisa menangkap anggota kelompok Ahmad Kandang.
Sejumlah isu yang beredar di Aceh menyebutkan, bahwa aksi-aksi brutal
pasukan ABRI belakangan ini merupakan manifestasi konflik kepentingan di
antara elit ABRI sendiri. Pencopotan sejumlah jenderal dengan digantikan
orang-orang yang dekat Wiranto, termasuk penggantian Pangdam I Bukit Barisan
Mayjen Ismed Yuzairi kepada Mayjen Abdurahman Gaffar konon justru semakin
membuat rumitnya kondisi di Aceh. "Bukan hal yang mustahil, tentara yang
setia dan sakit hati jika bosnya diganti juga pasti ada. Jadi, di Aceh
inilah mereka ingin memburukkan muka Wiranto," kata sumber Xpos.
Sedangkan isu yang lain, menyebutkan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi
belakangan memang diciptakan sebagai alasan ABRI untuk tetap berada di Aceh.
Sebab selain banyak lahan empuk buat ABRI sendiri, terutama para
pimpinannya, karena banyaknya industri besar. Dan, juga karena di Aceh
terdapat aset milik keluarga Cendana yang cukup besar nilainya. PT Aromatik
yang bergerak di bidang petrokimia, misalnya, adalah perusahaan yang diduga
kuat kepunyaan Bambang Trihatmodjo. Juga PT Kertas Kraft, penyuplai bungkus
semen terbesar yang dimiliki kroni Soeharto, yaitu Bob Hasan.
"Logikanya, kalau ABRI tetap di Aceh, maka lahan Cendana akan selamat," kata
sumber itu.
Kecurigaan masyarakat semakin menjadi-jadi setelah hampir dua minggu dan
hampir seluruh jengkal wilayah Kandang disisir, tak ditemukan jejak Ahmad
Kandang dan kelompoknya. "Sebagian orang Aceh mengatakan itu rekayasa.
Walaupun saya belum menyimpulkan, namun indikasi ke arah itu ada," kata
Hasballah M Saad, sekretaris Komite Solidaritas HAM Aceh.
Tapi yang jelas, fiktif atau tidaknya Ahmad Kandang, sekarang ia telah
menjadi pujaan masyarakat Aceh yang terus-terusan sengsara karena kehadiran
ABRI. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html