Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99 ------------------------------ UJIAN BAGI LIBERALISME (EKONOMI): Ekonomi liberal sedang mengalami ujian akibat resesi global. Inilah hasil polling dari lembaga Kanada, Angus Reid dan majalah The Economist. Dalam sejarahnya, resesi selalu berhubungan erat dengan proteksionisme, sikap menutup diri dari luar. Di masa jayanya, berbagai negara lebih senang dengan sistem perdagangan terbuka. Namun, di masa sulit, mereka cenderung tergoda untuk mengatasi rasa sakit dengan proteksi. Pertanyaan terpenting saat ini adalah, apakah liberalisme ekonomi yang telah berlangsung di berbagai negara sejak tahun 80-an hingga 90-an bisa bertahan dari kemunduran. Sepanjang 1998, ancaman tersebut berkembang dalam skala regional, dan tahun ini, bisa menjadi ancaman global. Macan-macan Asia tiba-tiba berubah menjadi kucing jinak di tahun 1997, dan tahun lalu resesinya jadi lebih mendalam. Begitu pula dengan Rusia. Bursa saham dunia tiba-tiba anjlok. Diramalkan, tahun ini pertumbuhan ekonomi dunia akan sangat tipis. Mudah diduga, suara-suara pro-proteksionisme kembali mengemuka. Banyak orang yang percaya bahwa kesalahannya terletak pada pasar uang yang terlalu bebas. Bahkan, George Soros, orang yang memperoleh kekayaannya dari pasar seperti itu, menerbitkan buku yang berjudul The Crisis of Global Capitalism. Dan masih banyak lagi orang yang menginginkan perlindungan terhadap berbagai pekerjaan di dalam negerinya dari sejumlah pesaing dari luar negeri atau tekanan dari krisis ekonomi negara tetangga. Di Amerika maupun Asia, politisi mulai 'menjual' isu proteksionisme sebagai alat kampanye. Meskipun begitu, ternyata, dibandingkan tahun lalu, dukungan terhadap proteksionisme dalam skala global tak menunjukkan peningkatan. Dalam jajak pendapat yang melibatkan 12.000 orang dewasa di 22 negara, disimpulkan bahwa proporsi pendukung proteksi tidak berubah: 48% tahun lalu dibandingkan 47% tahun ini. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah: "Mana dari dua pendekatan berikut ini yang Anda pikir merupakan jalan terbaik untuk mengatasi masalah ekonomi dan pekerjaan di negara ini -memproteksi industri lokal dengan membatasi impor, atau menghilangkan batasan impor untuk meningkatkan perdagangan internasional?" Dengan pertanyaan semacam ini, dapat disimpulkan, negara-negara Asia seperti Malaysia masih cenderung proteksionis. Bahkan, di negara-negara Asia yang secara tradisional mempraktekkan perdagangan bebas seperti Taiwan, dukungan terhadap perdagangan bebas mengalami penurunan. Tahun 1997, penganut perdagangan bebas mengungguli penganut proteksionisme dengan rasio tiga banding satu. Sekarang, rasionya dua banding satu. Namun, proteksionisme sepertinya hanyalah indikator sementara ketimbang kecenderungan permanen. Sebab, dukungan terhadap perdagangan bebas dari Masyarakat Eropa justru meningkat tajam. Di Perancis pun, perdagangan bebas hanya sedikit diungguli oleh para proteksionis. AS juga demikian. Kendati mayoritas orang AS adalah proteksionis hingga kini (56% banding 37%), namun dukungan terhadap proteksionisme selama tahun lalu tidak berkembang. Jajak pendapat ini juga dimaksudkan untuk mengetahui dukungan pada liberalisme dengan cara kedua, yaitu melihat kebijakan ekonomi internal masing-masing negara. Pertanyaan yang diajukan: "Mana dari pilihan berikut yang lebih Anda sukai? Lebih banyak kebebasan dan keterbukaan persaingan antara penyuplai barang dan jasa, atau lebih banyak kontrol, subsidi dan peraturan dari pemerintah?" Jelas, bahwa pertanyaan ini cenderung membawa pada jawaban bernada liberalisme. Secara global, ekonomi liberal unggul dua banding satu, dengan pertanyaan ini. Di Amerika Utara, mayoritasnya mendekati empat banding satu. Di Asia penganut liberalisme mengalahkan saingannya dengan dua banding satu. Mereka juga menjadi mayoritas di Eropa Barat, demikian pula secara tipis di Amerika Latin. Meskipun dukungan terhadap kompetisi terbuka mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, namun tak terlalu signifikan. Lebih jauh, jajak pendapat ini juga bermaksud menggali dimensi ketiga liberalisme ekonomi: dukungan terhadap pergerakan modal secara bebas. Pertanyaannya: "Ada diskusi baru-baru ini tentang apakah seharusnya dilakukan pengetatan pembatasan arus modal antar negara. Beberapa orang mengatakan mesti ada pembatasan yang lebih ketat. Sementara yang lainnya menganggap tidak perlu. Bagaimana menurut Anda?" Secara menyeluruh, jawaban dari pertanyaan ini merupakan preferensi bagi para pendukung kontrol lebih ketat. Rasionya 49% banding 37%. Sementara 14% lainnya, tidak tahu. Hanya Spanyol dan Italia dari negara-negara yang di-survey memiliki masyarakat yang mendukung pergerakan modal secara bebas. Di negara-negara Asia, kebanyakan menolak hal ini. Lalu, tentang keberadaan institusi internasional seperti IMF dan Bank Dunia yang merupakan pilar liberalisme, dianggap sebagai kelemahan tata ekonomi internasional. Misalnya IMF. Kebijakannya yang memaksa disiplin anggaran dan reformasi berbasis pasar mendapatkan dukungan dari kebanyakan ekonom-ekonom kapitalis -kendati negara-negara berkembang tidak begitu antusias. Namun, dukungan ini tidak tercermin dalam opini publik. Hanya satu responden di antara 20 yang mengatakan bisa mempercayai IMF. Hanya India dan Filipina yang memiliki lebih dari satu orang di antara 10 yang percaya pada IMF. Begitu pula dengan Bank Dunia. Sesungguhnya, kebanyakan responden lebih percaya AS bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah ekonomi dunia daripada hanya mendukung organisasi tertentu yang berurusan dengan masalah ini. Bagi pembuat keputusan di tahun 1999, ini merupakan bahan pemikiran yang menarik untuk didiskusikan. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
