Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99
------------------------------

PEJABAT TELKOM "MEMAKAN" PROYEK

(EKONOMI): Direktur Utama PT Telkom, A.A. Nasution dan sejumlah petinggi PT
Telkom dituduh terlibat dalam proyek-proyek perusahaan negara itu. KKN baru?

Gencarnya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) ternyata tak
membuat keder para pejabat di berbagai badan usaha milik negara. KKN-KKN
lama, atau KKN-KKN yang diperbaharui, namun tetap KKN ternyata terus saja
berlanjut. Pertamina misalnya, kendati telah memutus hubungan dengan
keluarga Soeharto dan kroni-kroninya, masih melanjutkan KKN dengan Bakrie
Grup dalam pengangkutan minyak dan gas milik Pertamina yang dulu dikuasai
Perta Oil Ltd dan Permina Oil Ltd milik Bambang Trihatmodjo dan Tommy Soeharto.

Masih banyak KKN-KKN lainnya, misalnya di proyek jalan tol. Misalnya, proyek
anak-anak mantan menteri dan pejabat Departemen Pekerjaan Umum masih jalan
dan para pejabat Departemen Pekerjaan Umum masih memungut komisi dari
proyek-proyek kerjasama operasi dengan swasta. Bahkan, menurut hitungan
Badan Pemeriksan Keuangan dan Pembangunan, selama reformasi ini, korupsi di
pemerintahan mencapai ratusan miliar. Di PLN mark-up pun masih terjadi, yang
paling baru terjadi adalah mark-up tiang listrik beton.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++
STATUS KEPEMILIKAN PERUSAHAAN-PERUSAHAAN KSO PT TELKOM (31 Desember 1996)
----------------------------------------------------------------------------
------------
PT. Pramindo Ikat:                      PT. Aria West International:
- France Cable et Radio S.A, 35%        - US West International BV, 35%
- PT. Astratel Nusantara, 59,5%         - PT. Artimas Kencana, 52,5%
- Partner lokal lainnya, 5,5%           - Asian Infrastructure, 12,5%

PT. Mitra Global                        PT. Daya Mitra Malindo:
Telekomunikasi Indonesia:               - Cable and Wireless, 25%
- Telstra Global Ltd, 20%               - PT Intidaya Sistelindo, 29%
- Nippon Telephone and Telegraph, 15%   - PT Alatief Nusakarya Corporation, 24,2%
- PT Indosat, 30%                       - TM Communications (Hongkong) Ltd, 9,7%
- PT Widya Duta Informindo, 15%         - American International Assurance, Co.
Ltd, 9,8%
- PT Krida Salindo Sentosa, 10%         - Partner lokal lainnya, 2,4%
- Partner lokal, 10%

PT Bukaka Singtel
- Singapore Telecom, 40%
- PT Bukaka Telekomindo International, 60%
----------------------------------------------------------------------------
------------

Nah, PT Telkom, badan usaha milik negara (BUMN) tak luput dari
praktek-praktek KKN di zaman reformasi ini. Memang menggemaskan karena kini
tak kurang media massa menghajar para pejabat yang terbukti melakukan
praktek KKN. 

Baru-baru ini BPKP menemukan indikasi terjadinya korupsi dalam pelaksanaan
proyek-proyek pembangunan jaringan telekomunikasi mitra kerja sama operasi
(KSO) PT Telkom. Salah satu yang dipertanyakan BPKP dalam laporan itu adalah
perubahan pembagian penghasilan antara mintra KSO dan PT Telkom dari 70% dan
30% menjadi 90% dan 10%.

Para mitra KSO ini menurut sumber-sumber Xpos di Departemen Perhubungan
adalah PT Pramindo Ikat Nusantara (mengerjakan proyek KSO wilayah Sumatera),
PT Aria West Indonesia (Jawa Barat), MGTI (Jawa Tengah dan Yogyakarta), Daya
Mitra (Kalimantan) dan Bukaka Singtel (Indonesia Timur). Perusahaan yang
terkahir disebut ini adalah perusahaan patungan yang sebagian sahamnya
dimiliki pengusaha Fadel Muhammad, pemilik Grup Bukaka, salah satu pengurus
DPP Golkar, yang di zaman Orde Baru dulu sangat pro Soeharto.

Sesuai ketentuan yang seharusnya berlaku, PT Telkom akan menerima tiga jenis
pembayaran dari para pelaksana proyek KSO, yakni: pertama, biaya kompensasi
yang dibayarkan di muka. Kedua, pendapatan minimum PT Telkom, berupa
pembayaran per bulan. Ketiga, Distributable Telkom Reveneu berupa 30% laba
bersih proyek KSO itu. Nah, yang terjadi adalah jenis pembayaran ketiga jadi
hanya 10%. Angka yang terlalu kecil inilah yang menimbulkan kecurigaan
terjadinya korupsi.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
JUMLAH SAMBUNGAN YANG DISEDIAKAN KSO (31 Desember 1996)
----------------------------------------------------------
+ Pramindo Ikat: 517.487 sambungan
+ Aria West International: 500.000 sambungan
+ Mitra Global Telekomunikasi Indonesia: 400.000 sambungan
+ Daya Mitra Malindo: 237.000 sambungan
+ Bukaka Singtel: 403.000 sambungan
----------------------------------------------------------

Menariknya, ini menurut sumber di PT Telkom sendiri, para pejabat PT Telkom,
termasuk istri Direktur PT Telkom, A.A. Nasution, terlibat dalam
proyek-proyek KSO itu. "Istri Nasution  memiliki perusahaan yang terlibat
dalam KSO," ujar sumber itu.

Entah benar entah tidak. Pengecekan soal ini memang sulit dilakukan. Namun
menurut sumber itu, keterlibatan istri Nasution dan para pejabat lainnya
bukan lagi menjadi rahasia. "Orang-orang PT Telkom tahu semua. Itulah
sebabnya kami tak menyukai Pak Nasution," tambah sumber itu. Sayangnya,
sumber itu enggan menyerahkan daftar perusahaan para pejabat PT Telkom yang
memiliki perusahaan yang mendapat proyek KSO itu. "Salah-salah saya nanti
yang kena," ujarnya.

Karena dugaan korupsi itu pemerintah membentuk tim khusus untuk
menyelidikinya. Tim ini terdiri dari para pejabat di lingkungan Direktorat
Jendral Pos dan Telekomunikasi. 

PT Telkom, sejak lama memang sudah menjadi lahan empuk yang dikeduk hasilnya
oleh keluarga pejabat, terutama anak-anak Soeharto. Proyek-proyek
pengembangan jaringan telekomunikasi di masa lalu selalu jatuh ke tangan
keluarga presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu. Namun, penghisapan itu
mulai berkurang sejak PT Telkom mulai masuk bursa saham, sehingga harus
menjadi perusahaan terbuka, yang neracanya bisa dibaca siapapun. Kendati
begitu, bukan berarti PT Telkom bebas dari jarahan kelurga pejabat dan
kroni-kroninya. Buktinya, proyek-proyek KSO PT Telkom toh masih jatuh di
tangan para pejabat Telkom dan pengusaha Orde Baru macam Fadel Muhammad.

Kalau PT Telkom terus digerogoti, maka tak heran jika kinerjanya memburuk,
merugi hingga miliaran rupiah di tahun lalu dan terpaksa menaikkan tarif
pulsa hingga 24 persen. Gilirannya nanti publik tak akan percaya dan harga
saham PT Telkom yang juga dijual di sejumlah bursa saham internasional akan
jeblok. Akhirnya, ya bankrutlah perusahaan negara yang seharusnya untung
besar itu. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke