Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 02/II/14-20 Januari 99 ------------------------------ ADI SASONO VS BANK DUNIA (EKONOMI): Bank Dunia mengirim tim untuk memantau program redistribusi aset produktif yang dijalankan Adi Sasono. Akankah mempengaruhi bantuan? Kantor berita Inggris, Reuters, Senin, 10 Januari lalu menulis, sebuah tim Bank Dunia dikirim dari Washington, Amerika Serikat untuk memantau program redistribusi aset produktif. Program ini adalah salah satu program konsep Ekonomi Kerakyatan yang kini secara resmi telah dijalankan pemerintah. Ekonomi Kerakyatan merupakan konsep pemberdayaan ekonomi rakyat yang berhasil didesakkan Adi Sasono, Menteri Koperasi/Pengusaha Kecil dan Menengah. Salah satu program Ekonomi Kerakyatan, yang kemudian berhasil disusupkan ke Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 1999/2000 adalah redsitribusi aset. Apakah gerangan redistribusi aset produktif? Rumusan sederhananya gampang, yakni membagi-bagikan lagi sumber-sumber daya ekonomi yang kini dikuasai para pengusaha besar kepada para pengusaha kecil, koperasi dan petani. Jadi, kalau jaringan distribusi minyak goreng dan beras dikuasai hanya oleh sejumlah kecil pengusaha, maka harus direbut dan jalur distribusi itu dibagi-bagikan kepada ekonomi rakyat. Soal redistribusi aset jaringan distribusi ini sudah dijalankan. Pemasaran 60% minyak goreng produksi PT Perkebunan Nusantara, sebuah badan usaha milik negara, sudah disaluran melalui Koperasi Distribusi Indonesia yang kemudian membagi-bagikannya kepada ribuan koperasi distribusi di seleuruh Indonesia. Nah, kalangan pengusaha besar di Indonesia, belakangan ini memang ngeri mendengar kata redistribusi aset, sama ngerinya ketika para tuan tanah di Indonesia, tahun 1960-an mendengar kata land reform. Apalagi, program redistribusi aset produktif seperti didukung dengan akan lahirnya Undang-Undang Anti Monopoli. Dalam undang-undang itu, pangsa pasar produk tertentu akan dibatasi hanya 30% dari pangsa pasar nasional. Itu artinya, Indomie, mie instan produksi PT Indofood Sukses Makmur, yang selama ini menguasai 80% produksi dan pangsa pasar mie instan nasional harus mengurangi pemasarannya. Kalau Indomie tak diekspor maka Indofood harus mengurangi produknya hingga hanya boleh memasok 30% saja. Tentu saja penyusutan produksi ini tak bisa diterima para pemilik perusahaan itu. Pemilik terbesar Indofood adalah Sudono Salim. Makanya, Salim beberapa waktu lalu menjual 50% saham PT Indofood Sukses Makmur kepada Nissin Co. Ltd, perusahaan serupa di Jepang. Menurut sejumlah pejabat teras di Salim Grup, penjualan ini merupakan cara yang efektif untuk melawan redistribusi aset dan Undang-Undang Anti Monopoli itu. Kalau separo PT Indofood Sukses Makmur milik asing, bagaimana pemerintah akan mengeksekusi pangsa pasar dan meredistribusi asetnya kepada pengusaha kecil dan koperasi? Kengerian tak hanya dialami PT Indofood, namun juga perusahaan-perusahaan lainnya yang pangsa pasarnya melebihi 30% pangsa pasar. Taruhlah perusahaan batu baterei merek ABC yang menguasai 70 persen pangsa pasar nasional. Begitupun minyak goreng Bimoli (Salim Grup) dan Filma (Sinar Mas). Kengerian kalangan kapitalisme Indonesia ini nampaknya ditangkap Bank Dunia, lembaga dana yang selama tiga puluh tahun terakhir ini membantu pembangunan Indonesia dengan pinjaman-pinjamannya. Nah, kata Reuters, tim Bank Dunia itu akan tiba minggu ini juga. Mereka ingin tahu persis apa yang dimaksud Adi Sasono dengan redistribusi aset. "Bank Dunia ingin mengetahui apakah program redistribusi aset produkstif bertentangan dengan mekanisme pasar atau tidak," tulis Reuters. Tak ditulis oleh Reuters, apa yang akan dilakukan Bank Dunia setelah mengetahui maksud sebenarnya proram ini. Misalnya, kalau diketahui, ternyata program ini memang melawan pasar bebas, akankah Bank Dunia memangkas pinjaman untuk Indonesia misalnya? Yang sudah bertindak bukan hanya PT Indofood Sukses Makmur, yang menjual 50% sahamnya kepada perusahaan Jepang, Bank Dunia yang mengirimkan tim, namun juga para pengusaha besar lainya, yang umumnya keturunan Cina. Kabarnya mereka mulai memindahkan modalnya ke Singapura, Hongkong, Cina Daratan dan Australia. Salim sendiri nampaknya juga bersiap-siap hengkang ke luar negeri. Bagi Salim ini tak masalah. Soalnya bisnis keluarganya memang sudah malang melintang di seluruh dunia. Langkah pertama yang ditempuh PT Indofood dengan menjual 50% sahamnya, nampaknya hanya langkah awal. Tunggu saja, kalau Salim mulai melego banknya, BCA, bank swasta terbesar di Indonesia, itu tandanya, imperiumnya akan hengkang ke luar negeri. Lippo Grup dan Sinar Mas pun nampaknya siap melakukan hal serupa. Lippo misalnya, bisnisnya juga berkembang di Hongkong dan Amerika Serikat. Jadi tak soal jika mereka harus hengkang dari Indonesia. Nah, inikah yang diharapkan Adi Sasono? Nampaknya ini juga yang ditangkap Bank Dunia. Tak heran jika Far Eastern Economic Review menyebut Adi sebagai The Most Dengerous Man in Indonesia dan Asiaweek menulis: Wacht This Man di sampulnya. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
