Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 03/II/28 Januari-3 Februari 99
------------------------------

MEMENANGKAN GOLKAR DENGAN JPS

(PERISTIWA): Dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) mulai dikucurkan. Golkar
punya duit lagi untuk menggalang dan mempertahankan jumlah suaranya. Di
beberapa daerah dana itu sudah dikucurkan sebagai dana Golkar. Dosa lama
diulangi lagi.

Golkar tak hanya aman karena Rancangan Undang Undang Politik yang telah
disepakati menguntungkan partai yang berkuasa selama 32 tahun ini. Golkar
juga diuntungkan karena kini kendali uang negara berada di tangan mereka.
Dengan berbagai cara, uang negara dipelintir untuk, agenda yang belakangan
dikenal dengan politik uang. Mula-mula, pemerintah berhasil memaksa mantan
Presiden Soeharto menyerahkan dana yayasan-yayasannya sebesar Rp5 triliun
pada pemerintah. 

Memang, pemerintah yang girang menerima dana itu mengatakan akan
menggunakannya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat. Nah, dengan cara
itu pun, dana bebas yang tidak dimasukkan ke dalam pos penerimaan RAPBN
1999/2000 itu jadi lepas dari kontrol DPR. Anggaplah pemerintah jujur dan
menggunakannya untuk kesejahteraan masyarakat. Pemerintah jadi Sinterklas,
membagi-bagi duit itu kepada masyarakat, menyediakan beras gratis, pelayanan
kesehatan gratis, sekolah gratis. Lalu, siapa diuntungkan? Ya pemerintah
sendiri, dan di belakangnya, tentu saja Golkar. Misalnya, dana dari uang
perasan yayasan-yayasan Soeharto itu dibagikan dibelikan sapi, dibagikan
kepada jutaan petani dengan syarat, coblos dulu Golkar. Gampang, di zaman
susah begini siapa yang tahan dapat godaan seperti itu?

Kini, politik uang itu disuntik dana lagi sebesar Rp12 triliun. Beda dengan
dana dari yayasan-yayasan Soeharto itu, dana yang ini masuk dalam RAPBN.
Dana sebesar itu, yang dikemas dalam program Jaring Pengaman Sosial akan
ditebar di berbagai tempat di seluruh Tanah Air. Niatnya sih baik, dan
program ini dicetuskan IMF yang ingin pinjamannya sebesar US$30 miliar itu
sebagian dipakai untuk mengganjal perut rakyat banyak.

Niat baik IMF ini jadi tumpangan empuk untuk menebar pesona pemerintah, agar
rakyat tetap bersimpati. Nah, gebrakan JPS ini sudah mulai terasa. Banyak
penduduk desa di Tanah Air mulai kaget dengan tawaran-tawaran untuk membuat
proyek-proyek padat karya, yang melibatkan mereka dan para penganggur yang
butuh duit. Selain proyek padat karya, banyak penduduk miskin, baik di desa
maupun di kota-kota kecil kaget ketika didatangi perangkat kelurahan
setempat dan diberi kartu bebas berobat di rumah sakit pemerintah. "Katanya,
bebas berobat ini  merupakan program JPS," ujar Pardjo, seorang buruh
bangunan serabutan yang tinggal di Boyolali, Jawa Tengah. 

Lho, kok orang seperti Pardjo, yang televisi pun tak punya dan tak pernah
baca koran, karena tak sanggup beli koran itu tahu soal JPS? "Orang
Kelurahan yang kasih tahu," ujarnya kepada Xpos.

Bagi Pardjo, ayah dua anak ini, fasilitas gratis berobat semacam ini adalah
berkah di kala susah. Soalnya, karena krisis moneter, order membangun rumah
seret. Jadinya, ia lebih banyak nganggur. Beberapa waktu lalu anaknya kena
muntaber dan harus dirawat di rumah sakit. Kala itu ia belum punya kartu
bebas berobat yang juga berlaku untuk keluarganya. Jadi ia tahu betapa
berharganya katu itu. "Ya jadi ringanlah," tambahnya.

Pardjo pun jadi menghormati para aparat Kelurahan dan Kecamatan yang
mengurus kartu bebas berobatnya. Nah, kartu semacam itu tentu tak hanya
diterima Pardjo. Program itu memang diperuntukkan bagi penduduk miskin di
hampir 20 ribu desa yang akan menerima hujan duit dari dana JPS. Itu belum
program untuk anak-anak sekolah dasar (SD). Rencananya akan ada 171.582 SD
dengan 26,8 juta murid yang akan memperoleh beasiswa dari dana JPS ini. 

Kalau semua ini sudah tergarap, misalnya ada sekian ratus ribu keluarga yang
bisa bebas berobat dan sekian juta keluarga yang anaknya tak perlu putus
sekolah karena sekolah jadi gratis, pemerintah akan gampang mengendalikan
mereka. "Karena kami sudah baik kepada Anda, ya tolong bantu kami. Tak
sulit, cobloslah Golkar," itu saja kalimat yang akan dilontarkan.

Nah, keumungkinan itu yang dikawatirkan Partai Amanat Nasional (PAN), partai
baru pimpinan Amien Rais. PAN menemukan, terutama di Sukabumi, wilayah
penyelidikan mereka, warga desa ramai-ramai bikin proposal untuk
proyek-proyek padat karya. Karena tujuannya untuk mengumpulkan dukungan, tak
penting apakah proposal yang disusun kelompok-kelompok sasaran masuk diakal
atau tidak. "Ada proposal yang minta mobil untuk operasional proyek," ujar
salah seorang pimpinan PAN. 

Di Sukabumi itu pula, para aparat pemerintah tak segan-segan dan tanpa malu
meminta kelompok-kelompok masyarakat agar memilih Golkar jika mau menerima
dana bantuan. Sukabumi, nampaknya hanya sekedar contoh. Pemilihan umum masih
Juni mendatang, jadi masih ada banyak waktu menggalang pemilih dengan
cara-cara seperti itu, efektif karena gampang dan efisien karena menggunakan
duit negara, bantuan IMF dan dana rampasan dari yayasan-yayasan Soeharto.

Di luar dana-dana itu, masih ada dana untuk daerah otonom yang besar
jumlahnya, yang meliputi lebih dari Rp 50 triliun. Dana itu, juga dana JPS
akan didrop langsung ke daerah-daerah dan dikelola sepenuhnya oleh daerah.
Pengawasannya tak akan seketat yang kita kira. Sumber Xpos di Departemen
Keuangan mengkhawatirkan, kebocoran dana itu, yang akan dikorupsi aparat di
daerah akan menjadi rekor korupsi sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Namun, yang dikawatirkan banyak pimpinan parpol baru lebih dari itu. Dana
tak terhingga itu akan sangat mempengaruhi perolehan suara pemilihan umum
kelak. Soalnya dengan dana JPS dan sebagian dana untuk daerah otonom saja,
sebenarnya bisa membuat perut masyarakat miskin tak lagi berbunyi, anak-anak
remaja tanggung tak perlu ngamen di jalanan dan tak perlu ada pemerasan di
jalan-jalan Pantai Utara Jawa. "Dana itu cukup untuk membuat proyek padat
karya yang mempekerjakan para penganggur yang ada," ujar sumber di Depkeu tadi.

Bayangkan, betapa dahsyatnya kekuatan uang Golkar. Itu belum ditambah
sokongan dari para pengusaha Golkar dan upeti dari BUMN-BUMN gemuk. Nah,
parpai politik mana yang bisa menandingi Golkar dalam hal ini? Adakah PAN
punya kemampuan untuk membuat masyarakat miskin kenyang perutnya? Tak ada.
Jadi jangan banyak berharap bahwa partai-partai baru, bahkan PDI Perjuangan
pimpinan Megawati yang posko-poskonya di Jawa Tengah dan Jawa Timur mampu
membuat jalan-jalan jadi merah, akan dengan mudah mengalahkan Golkar. Di
zaman susah seperti ini, satu-satunya "tema kampanye" yang efektif untuk
menyedot massa yang itu tadi: uang. Dan Golkar memilikinya. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke