Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 03/II/28 Januari-3 Februari 99 ------------------------------ TARUHAN (LUGAS): Pemilihan umum mendatang ibarat taruhan politik. Karenanya, setiap calon kontestan mati-matian mempersiapkan agar menang besar. Setidaknya, itu terlihat dalam pembahasan RUU Politik-UU Pemilu, UU Partai Politik, dan UU Susunan dan Kedudukan DPR/MPR -yang berlangsung alot. Perdebatan seru dan lobbying tingkat tinggi mewarnai sidang-sidang pembahasan di gedung parlemen. Hingga menjelang deadline, 28 Januari, tiga soal krusial belum berhasil digolkan: tentang netralitas pegawai negeri sipil, jumlah kursi ABRI di DPR, dan varian sistem proporsional. Ketika akhirnya UU Politik itu disahkan, masalah-masalah itu masih mengecewakan banyak kalangan. Soal wakil ABRI di DPR, misalnya, diputuskan 38 orang. Padahal, banyak kalangan politik -termasuk partai besar seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN)- menghendaki perwakilan ABRI dihapus saja. Atau kalaupun ada hanya dalam jumlah kecil dan tidak punya hak voting. Singkat cerita, UU Politik yang dihasilkan pemerintah dan DPR itu masih "cacat politik" alias belum memenuhi aspirasi mayoritas rakyat. Nuansa reformasi yang dipancarkan masih setengah-tengah. Yang justru menonjol adalah semangat status quo birokrasi Orde Baru. Itu semua makin mengukuhkan tesis bahwa para pendukung status quo sebenarnya masih kuat bercokol di kursi elit penguasa. Bagi orang-orang ini, reformasi -yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa puluhan mahasiswa dan ribuan rakyat Indonesia- hanyalah "kuda tunggaan" untuk melanggengkan kekuasaannya. Karena itu, reformasi hanya pantas diteriakkan, bukan dilakoni sepenuh hati. Dengan situasi seperti itulah, kita harus menghadapi pemilu. Tak ada jaminan pemilu yang akan datang akan berlangsung lebih jurdil daripada pemilu sebelumnya. Malah, ada kemungkinan lebih kotor. Sebab, kaum status quo jelas akan melakukan segala cara untuk terus menduduki kursi kekuasaannya. Berbagai kecurangan atau politik uang jelas menghantui pemilu mendatang. Soalnya kemudian, siapkah kaum reformis sejati mengantisipasi kecurangan tersebut? Tanpa kesiapan yang baik, tak ubahnya kita menyerahkan kembali negeri ini ke pelukan rejim otoriter. Memang, sebuah taruhan politik yang besar. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
