Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 03/II/28 Januari-3 Februari 99 ------------------------------ AWAS, BRI BANGKRUT! (EKONOMI): BRI terancam bangkrut karena kredit para konglomerat yang melampaui BMPK, macet. Siapa menanam angin, akan menuai badai. Itulah peribahasa yang tepat untuk Bank Rakyat Indonesia (BRI), salah satu bank milik negara. Bank yang bertugas mem[erbaiki perekonomian rakyat kecil itu kini terjerat kredit macet dan pelanggaran batas minimal pemberian kredit (BMPK). Buntutnya, per Oktober 1998, BRI mengalami kerugian sebesar Rp3,689 triliun. Kerugian ini akan mengancam bangkrutnya bank yang didirikan tahun 1897 itu karena per Oktober 1998 modal BRI hanya sebesar Rp2,7 triliun. "Dari kerugian itu Rp2,12 triliun diantaranya berasal dari pinjaman yang diberikan kepada konglomerat," ujar Martono, Ketua Komite Reformasi BRI. Gara-gara kredit macet itu, The Ning King, pemilik Argo Manunggal, grup produsen textil terbesar di Indonesia, harus diperiksa Kejaksaan Agung. Begitupun Direktur Utama BRI, Djokosantosa Moeljono, harus berurusan dengan aparat hukum karena dinilai bertangungjawab terhadap pelanggaran BMPK, kejahatan bank yang diatur dalam UU Perbankan. The Ning King menganggap kredit macetnya bukan tindak pidana melainkan perdata. Ia berjanji akan membayarnya. Sebenarnya Argo Manunggal hanya melampaui BMPK sebesar Rp108,3 miliar, jauh di bawah Texmaco Group yang sebesar Rp795,3 miliar. Selain The Ning King, pemilih PT Damatex dan PT Timatex itu, Ir. Ciputra, raja real eastet Indonesia juga terjerat kredit macet di BRI. Kreditnya bahkan melampaui BMNPK sebesar Rp389,5 miliar. Tabel1. Daftar Debitur BRI yang Melanggar BMPK (Dalam juta rupiah) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Nama Pengutang BMPK Jumlah Kredit Pelanggaran -------------------------------------------------------------------- Nugraha Sentosa Group 539.651 1.200.814 661.163 Texmaco Group 539.651 1.334.957 795.306 Ispat Group 539.651 1.215.205 675.554 Argo Manunggal 539.651 649.038 108.387 Kahatex Group 539.651 880.343 340.692 Ciputra Group 539.651 929.209 389.558 Inti Group 539.651 610.450 70.799 Ongko Group 539.651 964.429 424.778 Dharmala Group 539.651 793.342 253.691 PLN 539.651 776.689 237.038 Radian Hypar Enginering 539.651 698.059 158.408 Total 10.052.535 4.116.372 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Sejak 1996, BRI dari banknya ekonomi rakyat kecil, memang berekspansi dengan memberikan kredit kepada para konglomerat. Pada 1996, kredit untuk pengusaha besar sudah mencapau Rp6,7 triliun. Tahun berikutnya mencapai Rp10,2 triliun dan melonjak lagi pada 1998, yakni sebesar Rp15,6 triliun. Lonjakan ini mengejutkan, sekaligus mencurigakan. "Kami mencium adanya kongkalikong antara Direksi dengan para konglomerat itu," ujar sumber Xpos di BRI. Kongkalikong itu, menurut sumber tadi, nampak dari mudahnya Direksi mengucurkan kredit bahkan di saat krisis moneter yang menjerat para konglomerat. Seharusnya, ujar sumber tadi, Direksi tahu, karena jeratan krisis moneter para konglomerat tak akan sanggup mengembalikan pinjamannya. "Kalau tak ada kongkalikong, bagaiman amungkin Direksi, dalam hal ini Djokosantoso begitu mudah mengucurkan kredit bagi konglomerat, bahkan dengan skema pengembalian yang berisiko sekalipun?" tambahnya. Selain kongkalikong itu, BRI juga diterpa kongkalikong lainnya dengan penyaluran kredit sebesar Rp128,4 miliar kepada PT Kresna Diadra Marga, pemborong proyek jalan tol Kali Malang. Proyek milik Bambang Trihatmodjo itu diduga fiktif dan kini kreditnya macet. Tabel 2. Kredit Macet di BRI per Oktober 1998 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++ Kelompok Pengutang Kredit Disalurkan Kredit Macet ---------------------------------------------------------------------------- ----- 1. Kredit untuk konglomerat Rp 15,67 triliun Rp 8,42 triliun 2. Kredit untuk bisnis komersial Rp 4,04 triliun Rp 2,21 triliun 3. Kredit untuk pertanian/perkebunan Rp 1,50 triliun Rp 292,3 miliar 4. Kredit untuk koperasi dan pengusaha Rp 6,34 triliun Rp 1,27 triliun 5. Lemah Kredit untuk bisnis unit (ekonomi lemah) Rp 4,59 triliun Rp 279,0 miliar ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++ Sayang jika BRI mesti roboh. Apalagi, tragisnya bukan disebabkan oleh para debitur kecil seperti petani, pedagang pasar dan Warung Tegal yang sejak dulu rajin mencicil hutangnya. Konglomeratlah biangnya. Memang, kondisi BRI sedikit banyak terimbas dampak krisis moneter dan ambruknya perbankan di Indonesia, namun jika BRI bisa dikelola dengan baik dan mempertahankan konservatifismenya, mungkin bank itu masih bisa selamat. Atau mungkin harus menyusul empat rekannya, bank-bank milik pemerintah yang bergabung jadi Bank Mandiri. Bank-bank itu dulu jadi sapi perahan anak-anak Soeharto dan lahan korupsi yayasan-yayasan Soeharto dan tak terkecuali para direksinya. Negeri ini memang negeri korupsi. (*) ------------------------------ Berlanganan XPOS secara teratur Kirimkan nama dan alamat Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
