Precedence: bulk
GEMARI BERENCANA BIKIN POROS DI DAERAH
JAKARTA (SiaR, 2/2/99), Kaum muda yang terdiri atas generasi muda
Islam, Katholik, Kristen, Budha, Hindu, Khong Hu Chu dan aliran kepercayaan
berkumpul dan mendirikan Forum Dialog generasi Muda antariman (GEMARI) di
Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Minggu (31/1) lalu. Mereka menyikapi
berbagai kerusuhan yang terjadi belakangan ini sudah tak dapat ditolerir dan
cenderung mengatasnamakan institusi agama dan akan menjadi pola di saat
mendatang.
Ancu Usman Sodiqin selaku ketua panitia mengatakan, "Keberagaman dan
pluralitas masyarakat kita selama ini cenderung diputar-balikkan menjadi
alat pemecah bangsa. Keberagaman telah lama digunakan menjadi senjata
penguasa untuk menciptakan benang kusut dalam dinamika kehidupan berbangsa
ini, " ujar aktifis muda NU itu.
"Penggunaan unsur ini secara luas telah dilakukan di segala bidang
kehidupan sehingga sikap sikap diskriminatif sering muncul dalam kehidupan
sosial sehari hari. Akibatnya terbentuk lah varian mental yang tidak
menghargai keberagaman," demikian menurut Ancu dalam acara Halal Bil Halal
generasi muda 6 agama dan penghayat kepercayaan .
Dalam acara itu GEMARI berencana akan membuat forum-forum di daerah
yang akan menjadi forum dialog generasi muda antaragama. Forum ini akan
berusaha meminimalisir konflik-konflik horizontal baik antaragama maupun
antarsuku di dalam masyarakat. Dalam sambutan selanjutnya, Dr AS Hikam
mewakili Islam menekankan, agar masayarakat menciptakan suatu komunitas yang
tidak hanya berdasarkan ikatan religius saja (community of religion)
melainkan "community of being", dalam arti menciptakan komunitas yang
bertanggung jawab atas sesama mahluk hidup dan alam semesta. "Hingga
masyarakat kita lebih menekankan keprihatinan akan persoalan bersama secara
universal," ujarnya.
Acara juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dari masing-masing
agama di antaranya adalah KH Said Aqil Siradj dari NU, Syaefulloh Yusuf
dari AMNU, Ch Umam dari PMII, Muji Soetrisno SJ, Ismartono SJ, dari
Katholik, Johan Effendi, Krisnanda Wijaya Mukti dari Buddha, Pdt Martin
Lukito Sinaga MTh dari Protestan, Budi S Tanuwibowo dari Khonghuchu, dan
Jatikusumah dari penghayat kepercayaan.
Acara yang sudah berlangsung 5 kali ini diharapkan akan menular dan
menginspirasi pada generasi muda di daerah lain untuk membuat forum sejenis
yang saling berkomunikasi dan menjadi sabuk pengaman sosial agar dapat
meminimalisir konflik berbaju agama yang marak belakangan ini. Acara ditutup
pembacaan puisi oleh KH Mustofa Bisri dengan mengangkat persoalan persoalan
kerusuhan belakangan ini dan ditutup Muslim Abdulrahman dengan doa.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html