Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 11/II/25-31 Maret 99
------------------------------

KONFLIK WARISAN SOEHARTO

(POLITIK): Perang antara Suku Melayu dan Madura di Sambas mencapai puncaknya
sepekan ini. Rebutan sumber daya ekonomi?

Seorang wartawan Ingris bersaksi. Ia menyaksikan kepala seorang kiai asal
Madura dipenggal lehernya. Kepalanya diletakkan di atas drum dan dikerumuni
banyak orang. Kulit kepalanya dikelupas, dipotong kecil-kecil dan dibagikan
kepada orang-orang yang telah memenggalnya. Pemandangan ini terjadi di
sebuah tempat di Kabupaten Sambas. 

Pertikaian antar etnis Melayu dan Madura meledak di Kabupaten Sambas,
Kalimantan Barat (Kalbar) dua pekan lalu. Pada mulanya, demikian kata cerita
yang diyakini orang-orang Melayu, seorang Madura kedapatan mencuri di sebuah
desa Melayu di Sambas. Pencuri itu digebuki, babak belur dan dilepas.
Orang-orang Madura tak terima. Mereka menyerbu kampung Melayu itu dan empat
orang Melayu tewas diujung senjata tajam orang-orang Madura. Perang pun
pecah. Para pemuda Melayu yang mengenakan ikat kepala kuning membalas.
Mereka belakangan dibantu para pemuda Dayak yang berikat kepala merah.
Korban pun berjatuhan, banyak mayat orang-orang Madura ditemukan tak utuh,
kebanyakan tanpa kepala, atau kepala tanpa tubuh. Wanita, anak-anak dan
orang tua suku Madura mengungsi ke Singkawang dan Pontianak dan para
lelakinya yang masih hidup bertahan di hutan. 

Pemandangan yang terjadi di pedalaman Sambas nampak seperti pemandangan dua
tahun lalu, ketika pertikaian etnis terjadi antara suku Madura dan Dayak.
Rumah-rumah dibakar dan mayat-mayat tak utuh bergelimpangan.

---------------------------------------------------------------
Krono Pertikaian Dayak-Madura di Kalbar
---------------------------------------------------------------

1968: Gara-gara menolak melayani urusan pembuatan keterangan tanah pada hari
Minggu, Camat
      Sungai Pinyuh Kabupaten Pontianak bernama Sani, seorang suku Dayak
dibunuh oleh seorang 
      Madura di Anjungan. Camat Sani kala itu menolak secara halus. Ia
menyatakan, sudah 
      bersiap-siap hendak bersembahyang ke gereja.
1976: Seorang warga Dayak di Sungai Pinyuh Kabupaten Pontianak, Cangkeh,
dibunuh oleh kawanan 
      Madura. Penyebabnya, Cangkeh menegur beberapa orang Madura yang
mengambil rumput di halaman 
      miliknya untuk makanan sapi tanpa meminta ijin.
1977: Seorang polisi suku Dayak, Robert Lonjeng, ditikam hingga mati di
Singkawang, Kabupaten 
      Sambas. Penyebabnya, Robert menegur adik perempuannya yang keluar
malam hari dengan seorang 
      pemuda Madura.
1979: Di Pak Kucing, Nyarumkop, Kabupaten Sambas seorang petani Dayak
dibunuh petani Madura. 
      Penyebabnya, si petani Dayak menegur orang Madura yang mengambil
rumput di tanah miliknya 
      tanpa ijin. Kejadian ini berakibat terjadinya "perang" antar suku yang
memakan korban 
      puluhan jiwa. Pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan pertikaian
dengan mendirikan 
      sebuah tugu perdamaian di Samalantan.
1983: Di Sungai Enau, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Pontianak, seorang suku
Dayak Djelani dibunuh 
      oleh seorang Madura gara-gara konflik soal tanah.
1993: Terjadi sebuah perekelahian antar pemuda di Pontianak. Perkelahian
melibatkan sekelompok 
      suku Dayak dan Madura. Hal ini kemudian berbuntut dengan aksi
pembakaran oleh kawanan 
      Madura terhadap Gereja Paroki Maria Ratu Pecinta Damai dan
persekolahan Kristen Abdi Agape. 
      Sekelompok Madura menganggap kedua tempat tersebut adalah tempat
berkumpul orang-orang 
      Dayak. Sejumlah korban jiwa berjatuhan.
1996: Terjadi perkelahian antara pemuda Dayak dan Madura di Sanggau Ledo,
Kabupaten Sambas. 
      Penyebabnya kelompok pemuda Madura dengan kasar menarik-narik tangan
gadis-gadis Dayak 
      untuk ikut nonton orkes dangdut di Ledo (20 Km dari Sanggau Ledo).
Gadis-gadis Dayak 
      menolak, para pemuda Dayak pun marah dan terjadi perkelahian. Aksi
anti Madura meletus di 
      Ledo dan Sanggau Ledo yang kemudian meluas ke seluruh pelosok Kalbar.
Hampir 2000 orang 
      tewas, sebagian besar orang Madura. 

---------------------------------------------------------------

Konflik antara etnis Madura melawan Dayak sudah jadi hal yang lazim. Namun,
konflik Madura-Melayu memang baru terjadi sekarang ini. Sejauh ini hubungan
kedua etnis ini harmonis terutama karena kedua etnis ini sama-sama pemeluk
Islam. Mereka biasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di
masjid-masjid dan organisasi-organisasi Islam lainnya. Berbeda misalnya
hubungan antara Madura dan penduduk asli, etnis Dayak, yang pertikaiannya
memang laten, apalagi berbeda agama. Etnis Dayak di Kalimantan Barat adalah
pemeluk Kristen. Para pemuda Dayak memang ikut terlibat dalam pertikakan
terakhir ini, namun jumlahnya tak banyak. Nah, hubungan antara etnis Dayak
dan Melayu, kendati mereka berbeda agama, sangat harmonis. Ini karena,
secara kultural, orang-orang Melayu yang dikenal tenang dan lembut tak suka
dengan sikap etnis Madura yang keras. 

Ketaksukaan orang Dayak terhadap orang Madura jelas karena kedatangan etnis
dalam tiga gelombang besar: 1902-1942, 1942-1950, dan 1950 hingga kini,
telah meminggirkan ekonomi orang-orang Dayak. Orang-orang Madura yang ulet
berhasil mencetak sawah di tanah subur yang dulu milik nenek moyang orang
Dayak. Orang-orang Madura yang jadi pedagang memiliki banyak tanah, rumah
dan truk. Mereka memang menguasai jalur perdagangan hingga ke pedalaman
Kalbar. Penguasaan ini tentu membuat tak enak orang Dayak dan Melayu tak
kuat bersaing dengan orang-orang Madura.

Peluang lapangan kerja untuk tingkat menengah ke atas pada perusahaan swasta
nasional sulit ditembus putra daerah. Sementara itu, peluang di tingkat
menengah ke bawah yakni sektor informal telah diisi perantau Madura,
Bugis-Makassar, Batak, Ambon, maupun keturunan Cina.

Orang Dayak sendiri juga terasing dari struktur pemerintah daerah. Dari
tujuh daerah tingkat II di Kalbar, pada 1997, hanya satu kepala daerah
dipercayakan kepada etnis Dayak. Di lembaga legislatif, baik di tingkat I
maupun di tingkat II, orang Dayak jumlahnya adala h hitungan jari sebelah
tangan. Di pemerintahan, hanya empat jabatan eselon dua dipercayakan kepada
etnis Dayak. Parahnya lagi, para pejabat daerah etnis non-Dayak yang di-drop
oleh pemerintah pusat. Program transmigrasi, yang memanjakan orang-orang
Madura dan Jawa juga menjadi makin memperuncing konflik laten antara
Madura-Dayak.

Orang-orang Melayu pun mengalami nasib yang sama dengan Dayak. Mereka Tak
memiliki peran besar baik di pemerintahan maupun di sektor ekonomi. Karena
persamaan nasib ini, orang-orang Melayu lebih dekat dengan orang-orang
Dayak. Konflik laten antar etnis di Kalbar ini nampaknya merupakan
pendekatan pembangunan yang keliru. Bahaya ini telah muncul di Ambon, Timtim
dan Kupang yang kemudian dibelokkan menjadi konflik agama. Masalahnya bukan
konflik agama, namun hak-hak ekonomi penduduk asli yang direbut kaum
pendatang. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke