Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 11/II/25-31 Maret 99
------------------------------

SEKALI LAGI, CALEG YANG BENAR
Oleh: Siti Anisa

(OPINI): Bila pemilihan umum berlangsung lancar dan demokratis 7 Juni
mendatang, maka kita bisa membayangkan perpolitikan Indonesia akan banyak
ditentukan oleh mereka yang ada di parlemen.  Politik parlemen menjadi
sangat penting. Anggota DPR, diharapkan menjadi artikulator kepentingan
publik yang mumpuni. Bukan sekedar onderdil partai yang kebetulan didudukkan
di DPR. Dalam sistem demokrasi yang sehat, memang sepantasnyalah bila  DPR
kuat, bermartabat, setara dengan eksekutif.

Munculnya 48 partai peserta pemilu, sekilas membuat kita lebih optimis. Dari
berbagai kelompok itulah diharapkan  muncul wakil-wakil rakyat yang tangguh.
Seperti wakil-wakil rakyat di tahun 1955-1959. Ketika itu, perdebatan di
Konstituante dalam membahas nasib negeri, sangatlah menarik. Kita disuguhi
oleh argumentasi-argumentasi cerdas; dan lebih dari itu, dilatari oleh niat
memperbaiki negeri. Walaupun sejarah versi Orde Baru menghujat periode itu
sebagai kegagalan politik partai; kita sebetulnya belum pernah punya masa
yang lebih gemilang dalam menumbuhkan politisi sipil. Politisi yang dengan
rendah hati, rela mengetok dukungan publik, untuk sebuah ide bersama.

Apakah rekrutmen calon legislatif kali ini akan bermutu seperti tahun 1955?
Melihat gelagatnya, orang pantas jadi kurang optimis. Naga-naganya,
keunggulan banyak partai, belum bisa jadi  jaminan bahwa tokoh-tokoh yang
akan berkantor di parlemen nanti, betul-betul mereka yang mampu. Egoisme
pengurus partai --seperti yang ditakutkan para penganjur sistem distrik--
tampaknya mulai terbukti. Caleg-caleg disusun semaunya oleh  pimpinan pusat
partai. Dan yang lebih parah, tidak ada rem dari  para pengurus itu untuk
mengukur kemampuan dan minat diri. Pintu untuk mereka yang di luar partai,
walaupun berpotensi besar jadi wakil rakyat, agaknya telah ditutup rapat.

Bagaimana para pengurus partai itu berlomba jadi caleg  --walaupun
sebelumnya tak menunjukkan tanda-tanda minat pada pekerjaan parlemen--
tampak di hampir semua partai peserta pemilu. Rapat-rapat pengurus partai
yang biasanya sepi, kini tampak ramai, bahkan banyak mendapat tambahan
muka-muka baru. Bukan saja pengurus harian yang berlomba mendaftar caleg,
tetapi juga anggota-anggota departemen. Para pengurus partai yang sebetulnya
tak tertarik dengan pekerjaan legislatif itu, bersikut-sikutan ingin ke
Senayan. Menjadi anggota DPR dilihat sebagai jabatan, status --konsekwensi
logis dari berpartai. Hari-hari belakangan ini, banyak sekali terdengar
ucapan orang partai: "Kalau tidak untuk jadi Caleg, lantas untuk apa bikin
partai?"

Pendapat begini ada bahayanya. Pertama, seperti sudah disebut di muka,
pandangan ini menutup orang-orang non partai yang sebetulnya potensial,
untuk berpartisipasi di parlemen. Alasan klasik yang muncul di kantor-kantor
partai dalam menolak caleg dari luar partai adalah: Mengamankan garis
perjuangan partai. Lebih sempit lagi, kalau Ketua Partainya dicalonkan jadi
presiden, maka para punggawa partai itu berebutan jadi caleg, dengan alasan:
Mengamankan Pak/Bu Anu jadi Presiden. Sebetulnya, mereka hanya membungkus
ambisinya sendiri, di bawah ketiak Ketua Partai yang kebetulan populer.
Tokoh luar partai, bukan tak mungkin mendukung calon presiden yang sama. 

Kedua, yang lebih gawat, pengurus partai lantas merasa lebih berhak ke
parlemen, tanpa mengukur kemampuan diri, dan bahkan melakukan segala cara
untuk bisa lolos caleg. Yang paling banyak terdengar, sekarang ini politik
uang mulai merajalela di partai-partai. "Berapa Anda berani bayar, untuk
masuk caleg?" Pertanyaan konyol begini muncul dari pimpinan teras sebuah
partai besar. Ada juga usulan agar tiap caleg dikenai iuran sukarela tapi
wajib, sebesar Rp10 juta. Di kabupaten Tangerang, Bogor, formulir
pendaftaran caleg, dijual Rp200.000,- Sukarela tapi wajib, alangkah
persisnya dengan cara berpartai Orde Baru?

Tak sulit membayangkan, bila caleg-caleg itu mau seleksi saja dikutip jutaan
rupiah, maka ketika ia menjadi anggota parlemen, pikirannya tak akan lepas
dari bagaimana mengembalikan modalnya. Itu sebabnya, para anggota dewan
selama Orde Baru ini, lebih sibuk ngobyek ketimbang memikirkan produk
Undang-Undang yang benar-benar untuk melayani rakyat. Tak tanggung-tanggung,
pekerjaan membuat Undang-Undang pun dianggap sebagai proyek borongan. Tiga
bulan terakhir, DPR kita rencananya akan mensahkan lebih dari 35 UU baru.
Tolong jangan dilihat karena produktifiitasnya, tetapi memang ada uang rapat
yang cukup tinggi untuk tiap UU yang digodok itu.

Masih segar dalam ingatan kita, DPR yang oleh kekuatan rakyat akan
dihentikan Juni 1999 (dari rencana aslinya 2002), minta pesangon
masing-masing Rp200 juta, tunai. Kenapa? Karena belum lunas utang-utangnya.
Kredit mobilnya, kredit rumah. Dan, juga biaya-biaya kampanye yang pernah
dikutip partai mereka ketika pencalegan. Adalah satu tragedi, bahwa
partai-partai baru hasil reformasi, akan mengulangi cara yang sama dalam
melahirkan anggota parlemennya.

Politik di masa Indonesia baru adalah politik parlemen. Itu betul, kalau
saja mekanisme rekruitmen para anggota dewan --yang dilakukan
partai-partai-- menghargai prinsip akuntabilitas. Mekanisme yang membuka
peluang sama untuk siapa saja tokoh publik yang berprestasi dan didukung
masyarakatnya, untuk maju menjadi calon anggota parlemen. Selama pengurus
partai mengangkangi kesempatan ini menjadi seolah hak pribadinya sendiri,
maka kita sulit membayangkan politik parlemen akan betul-betul muncul di
masa mendatang. Bukan tak mungkin parlemen akan diisi oleh beo-beo baru,
yang pikirannya cuma bagaimana mengembalikan modal kampanye.

Saat ini memang belum terlambat. Mudah-mudahan para pemimpin partai
menyadari posisi pentingnya, untuk melahirkan parlemen yang berkualitas.

(*) Penulis tinggal di Jakarta

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke