Precedence: bulk


POLISI MEDAN BELUM TAHAN TERSANGKA PENGANIAYA WARTAWAN 

        MEDAN (SiaR, 2/4/99), Kasus penganiayaan A Nixson, wartawan Harian
BERITA SORE Medan oleh anggota satpam Edward  Diputra dan kelompok
mahasiswa pro-Yayasan Universitas HKBP Nomensen Medan, hingga Rabu
(31/3) belum memperlihatkan perkembangan yang berarti. Bahkan A Nixson,
mengaku cukup kecewa dengan sikap Poltabes Medan yang telah memeriksanya,
Senin (29/3) lalu.

        Anggota satpam Edward Diputra yang hari itu juga diperiksa pihak 
Poltabes Medan, menurut Nixson malah diperiksa dalam kapasitasnya sebagai 
korban penganiyaan oleh kelompok mahasiswa lain yang sedang memperjuangkan 
pengurus UHN agar diaudit.

        Nixson sendiri menduga bahwa para pengeroyoknya, yang dikenali bernama
Pelti Simanjuntak cs, menganiaya dirinya akibat beberapa pemberitaan yang
telah dibuat dirinya. Khususnya berita-berita yang berhubungan dengan
demonstrasi yang dilakukan Kelompok Diskusi Nomensen (KDN), sebuah kelompok
mahasiswa yang aktif meminta agar pengurus Yayasan UHN diaudit karena diduga
telah melakukan tindak penyelewengan. Selain itu juga berita tentang
kelompok Pelti cs, yang mengklaim kelompoknya sebagai wakil mahasiswa UHN
yang telah dibawa PT Indorayon Utama ke Porsea, akhir Januari lalu. 

        Sebagaimana diberitakan media lokal waktu itu, para mahasiswa dari
berbagai universitas yang dikumpulkan Indorayon itu, sepulang dari Porsea
akhirnya membuat statmen mendukung kinerja Indorayon. Nixson sendiri kemudian
mewawancarai kelompok mahasiswa lain di UHN, dan ternyata kelompok Pelti
cs, dipandang sebagai kelompok yang tidak pernah ikut memperjuangkan
penutupan Indorayon. "Mungkin berita-berita itulah yang bikin mereka kesal
dan dendam kepada saya," ujar Nizson, alumni STIKPE 1998 itu. 

        Pihak UHN sendiri melalui PR Irafles Tampubolon, MA dan PR II Ir. Hotman
Manurung, telah mengunjungi Nixson dan Pimred Teruna Jasa Said. Menurut
Nixson, mereka mengajak berdamai dan mengharapkan kasus terebut tidak
diperpanjang. "Namun saya sendiri mengharapkan agar kasus penganiyaan saya
terus diproses sampai di pengadilan. Soalnya tindak kekerasan oleh pihak UHN
kepada wartawan bukan sekali ini saja terjadi," tambah mantan wartawan DUNIA
WANITA itu. Namun demikian, Nixon juga mempertimbangkan keputusan yang
diambil Pimpinan Redaksinya.

        Akibat pengeroyokan itu sendiri, kamerea Nixson yang bernilai jutaan rupiah
rusak, sebuah tape recorder hilang dan beberapa peralatan kerjanya juga 
raib.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke