Precedence: bulk


USKUP BELO: "SEMUA ORANG HARUS BISA SALING BASUH KAKI"

        DILI (MateBEAN, 3/4/99), Uskup Diosis Dili, Mgr Carlos Filipe 
Ximenes Belo SDB dalam kotbahnya di Katedral Dili pada perayaan Kamis Putih, 
(1/4) mengimbau di tengah munculnya berbagai partai politik di Timtim ini 
agar meletakkan diri seperti Yesus Kristus mau membasuh kaki orang-orang
kecil, rela disalibkan dan mati demi semua orang. Dengan cinta kasih Yesus
yang sungguh besar itu, diharapkan agar sesama kita saling membasuh  kaki.
Para pejabat minta tolong untuk mencuci kaki masyarakat dengan melayani dan
menerima lewat suara kebenaran akan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. 

        Begitu pun sebaliknya masyarakat juga diminta berlutut mencuci kaki 
para pejabat. "Maka kita akan satu keutuhan sebagai warga negara yang baik," 
ungkap Mgr Belo.
      
        Kepada kelompok yang bertikai di Timtim, Uskup Belo menuturkan 
ingin melihat CNRT mencuci kaki orang-orang Pro Otonomi dan sebaliknya dari 
Pro Otonomi mencuci kaki orang-orang pro-kemerdekaan, hingga masing-masing 
tidak merasa diri lebih terhomat dan lebih benar. "Dengan demikian maka akan 
saling mencintai sesama. Bukan hanya mau perang ya kita perang. Tapi 
ciptakan cinta kasih sesama di antara sesama," ujar Mgr Belo.

        Pada bagian lain Uskup Belo menuturkan bahwa Paskah kali ini adalah 
Paskah terakhir dalam milinium ini. Untuk itu, Uskup Belo meminta agar semua
orang Timor Loro Sae harus saling berdamai untuk membentuk kehidupan yang
harmonis memasuki milinium ke tiga nanti. 

        Kepada warga pendatang yang karena situasi politik telah menjadi 
eksodus besar-besaran, Uskup Belo mengatakan, hendaknya mereka itu tidak
melakukan eksodus secara tergesa-gesa dan terkesan dimobilisasi. "Padahal
ketika 
rakyat Timtim aman, mereka datang dan menikmati kehidupan di  sini, kepada 
mereka itu saya minta agar memiliki jiwa dan semangat yang manusiawi, 
artinya tidak hanya ingin saat kebaikan orang tetapi di saat orang itu 
krisis ditinggalkan begitu saja," ujar Belo.

        "Pada paskah ini adalah misteri cinta kasih. Misteri ini, menggugah 
bagaimana kita menumpahkan harapan-harapan bagi semua orang," kata Uskup 
Belo di hadapan ribuan umat Katolik yang menghadiri misa Paskah hari pertama 
itu. 

        Mengenai Rekonsiliasi, Mgr Belo mengatakan, Rekonsiliasi itu bukan 
hanya suatu strategi Politik yang didalamnya ada ide-ide yang tersembunyi. 
"Orang-orang yang tidak hidup dalam Rahmat Tuhan, tidak boleh bicara tentang 
rekonsiliasi. Karena rekonsiliasi, berarti kita harus memletakkan diri 
seperti Kristus, membasuh kaki orang-orang kecil," tambahnya. 

        "Orang-orang yang dipanggil Tuhan untuk mengabdi, silahkan membasuh 
kaki masyarakat di Timtim ini. Dengan rendah hati, menerima dan melayani dengan 
baik," katanya. 

        Uskup Belo juga meminta kepada para pemuda di Timtim agar mencintai 
sesama manusia di Timtim. "Apa kah Anda mencintai sesama kalian? Orang-orang 
Sulawesi dan orang Jawa? Kalau kita mencintai sesama manusia, kita tidak
akan ucapkan 'kapan pulang'? Tapi dapat kita katakan, kita bersama-sama 
membangun daerah ini. Inilah tanda bahwa betul-betul kita seratus persen 
Katolik. Bukan hanya Katolik di bibir, tapi dalam praktek lain," tandasnya. 

        Menurut Uskup Belo, rekonsiliasi menuntut dibiarkan disalibkan, 
dibiarkan dimakamkan. "Kalau di dalam politik dan propaganda, pemimpin 
- pemimpin tidak mau mati dan tidak mau disalibkan, tetapi yang mati dan 
disalibkan itu adalah rakyat kecil." 

        Maka dalam Paskah ini, Uskup mengharapkan agar jadikanlah Paskah 
yang nyata dalam hidup. "Mari lah kita menjadi kasih dengan memohon Tuhan lewat
hati kecil, agar cinta kasih Yesus tinggal bersama hati kita untuk selamanya," 
katanya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke