Precedence: bulk URGENT ACTION ! MILISI BESI MERAH PUTIH DAN PASUKAN ABRI MENYERANG DAN MENEMBAK WARGA SIPIL DI LIQUISA, TIMOR LOROSAE. Kami baru saja mendapat laporang lengkap tentang penyerangan yang dilakukan oleh milisi Besi Merah Putih yang didukung pasukan ABRI di Liquisa, Timor Lorosae. Sampai berita ini diturunkan, situasi belum dapat dikuasai oleh warga sipil setempat. Berita Lengkap: Pada tanggal 5 Maret 1999, sekitar pukul 07.00 Waktu Timor Timur (WTT), tujuh orang korban tembakan dilarikan ke rumah sakit (klinik) Motael, Dili. Ke tujuh korban dalam keadaan luka berat. Berdasarkan keterangan yang berhasil dikumpulkan, mereka ditembak dengan senjata otomatis jenis AR 16, AK dan SKS. Ketujuh orang korban itu masing-masing bernama : (1). Jose Serilio Do Santos, 17 Tahun, status pelajar SMU Kristal Kab. Liquisa, alamat desa Fatu Kesi (Liquisa), anak dari kepala desa Fatu Kesi, Filisberto do Sampaio Piris, kec.Liquisa kota. Korban Jose tertembak satu buah peluru tajam di bagian paha kiri, tembus dari arah belakang ke arah depan. (2). Manuel Caldeiro, 27 tahun, warga transmigrasi di Kampung Faularan, Kec. Maubara yang selama ini mengungsi ke Kab. Liquisa. Korban ini tertembak di bagian tangan kiri dekat jari. Luka yang dialami cukup dalam dan parah. (3). Manuel Floris, 23 tahun, warga Liquisa, Tani. Tertembak di bagian perut sedikit di atas pusar tembus ke belakang. Luka yang dialami sangat parah. (4). Nyonya Paulina de Jesus, 23 tahun, tani, warga Liquisa terkena bacok di bahu kanan, dan di bagian pelipis mata kiri. Korban Paulina dibacok di rumahnya saat terjadi penyerangan oleh anggota Besi Merah Putih yang dibantu oleh ABRI. (5). Fransisco Xavier, 31 tahun, Tani, alamat kampung Raimea, desa Vatubou, Kec. Maubara, dibacok dengan samurai. (6). Thomas de Jesus, 27 tahun, Tani, alamat kampung Tautolo, desa Fatu kesi, kec. Maubara. (7). Jaime Do Santos, 20 tahun, Tani, Warga desa Fatu kesi, kec. Liquisa Kota. Korban dari nomor 5-7 saat ini dirawat di rumah sakit Umum Bidau, Toko Baru,Dili. Sedangkan dari nomor 1-4 dirawat di Klinik paroki Motael, Dili. Kronologi: Pada tanggal 4 Maret 1999, pukul 16.00 Waktu Timor Lorosaer, sekitar 18 anggota Besi Merah Putih datang ke desa Dato, bagian barat Liquisa (jarak desa Dato ke arah Liquisa Kota sekitar 3 kilometer). Masyarakat desa Dato seluruhnya adalah pendukung Kemerdekaan. Mereka melakukan provokasi dengan cara menghancurkan sebuah rumah milik penduduk setempat bernama Felisberto do Santos, kepala desa Fatu Kesi, kec.Liquisa Kota. Warga desa Dato yang mendengar dan menyaksikan aksi penghancuran rumah tersebut, sesaat kemudian langsung menyerang balik para anggota Besi Merah Putih itu sehingga saat itu juga para provokator itu langsung melarikan diri bersembunyi di markas Koramil Liquisa Kota. Karena situasi kian tegang, maka lewat kira-kira satu jam kemudian, Pastor Paroki Liquisa, Pastor Rafael mendatangi Koramil Liquisa. Setelah bertemu langsung dengan Danramil, akhirnya situasi bisa diredakan dan disepakati bahwa tanggal 5 Maret 1999, yaitu hari ini pada pukul 12.00 siang akan dilakukan pertemuan perdamaian antara warga desa Dato dan sekitarnya dengan para anggota Besi Merah Putih. Karena disepakati bersama maka warga desa Dato pun kembali ke rumah masing-masing. Pada tanggal 5 Maret 1999, kira-kira pukul 07.00 pagi, tanpa diduga, tiba-tiba para anggota Besi Merah Putih melakukan penyerangan secara besar-besaran dari dua arah masing-masing dari arah kota Liquisa dan dari arah Kec. Maubara. Penyerangan kali ini tidak hanya diarahkan ke desa Dato, melainkan sasarannya sudah menjurus ke seluruh kawasan Kabupaten Liquisa. Informasi yang diperoleh langsung dari warga Liquisa, yang saat ini karena ketakutan melarikan diri ke Dili. Dalam aksi penyerangan tersebut, anggota Besi Merah Putih mengambil posisi di depan dan dibelakangnya diikuti oleh Tentara (ABRI). Menurut beberapa saksi mata maupun para korban yang namanya disebutkan di atas, saat penyerangan para anggota Besi Merah Putih yang berposisi di depan melakukan penembakan dengan panah, pelemparan batu, dan juga membawa parang, kayu dan samurai. Siapa saja yang ditangkap disiksa dan dibantai oleh para anggota Besi Merah Putih. Namun begitu, mendapat balasan dari masyarakat Liquisa, mereka mundur. (ada saksi yang mengatakan mundurnya para anggota Besi Merah Putih karena memang dikomando dari belakang). Saat mundur itulah, secara beruntun para anggota ABRI yang berada di belakang anggota Besi Merah Putih melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah masyarakat. Tembakan-tembakan beruntun itu langsung mengenai beberapa orang anggota masyarakat. Ketujuh orang tersebut di atas adalah mereka yang berhasil dievakuasi. Situasi kota Liquisa sampai saat laporan ini di buat, tanggal 5 Maret 1999, pukul 16.00 Waktu Timor Lorosae, masih tetap tegang, karena penyerangan masih terus berlanjut. Kemungkinan besar korban masih akan berjatuhan. Imformasi selanjutnya akan kami sampaikan kemudian. Menyangkut tujuan dari kejadian ini, menurut beberapa sumber dari CNRT dan warga Liquisa, penyerangan tersebut bertujuan selain untuk mengagalkan pemungutan suara juga untuk mengagalkan upaya perdamaian dan rekonsiliasi yang akan diprakarsai oleh pihak Gereja. Demikian laporan singkat kami, kami akan terus melakukan investigasi dan monitoring dan hasilnya pasti akan kami sampaikan. 5 April 1999 Pukul 16.00 Waktu Timor Lorosae Yayasan HAK, Dili ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
