Precedence: bulk


GOLKAR REKAYASA INSIDEN PURBALINGGA DAN PEKALONGAN

        JAKARTA (SiaR, 6/4/99),  Sekali lagi Abdurahman Wahid (Gus Dur), Ketua Umum
PB Nahdlatul Ulama (NU) membuat pernyataan mengejutkan. Di Jakarta, Senin
(5/4), Gus Dur menganggap insiden Purbalingga sebagai bentuk rekayasa Partai
Golkar untuk mendiskreditkan PDI Perjuangan, sebaliknya mengangkat partai
itu sebagai pahlawan karena menjadi korban kekerasan.

        "Ini kerjaannya Partai Golkar. Mereka tidak yakin menang dalam Pemilu.
Dengan menjadi korban, partai yang dipimpin Akbar Tanjung ini berharap bisa
menjadi pahlawan," kata Gus Dur menjawab pertanyaan wartawan.

        Indikasi adanya desain politik dari Partai Golkar untuk mengambil
keuntungan politik melalui rekayasa kekerasan yang dialami partai berlambang
pohon beringin itu, ditunjukkan Gus Dur melalui insiden Pekalongan, Minggu
(4/4) dimana massa yang beratribut PPP menyerang massa Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB).

        Berdasarkan laporan pengurus DPC PKB Pekalongan, beberapa orang massa
penyerang yang tertangkap ternyata memiliki kartu tanda anggota (KTA) ganda,
yakni KTA PPP dan KTA Partai Golkar. Ada juga dari penyerang yang diringkus
satgas PKB tersebut tak memiliki KTA parpol mana pun. Setelah diinterogasi,
mereka menyebut dibayar sejumlah uang oleh orang-orang tertentu untuk
menyerang massa PKB.

        Menurut Gus Dur, tindakan Golkar dengan membiayai para preman untuk
diberikan baju atau kaos PDI Perjuangan maupun PPP bertujuan untuk
menggagalkan pelaksanaan Pemilu 1999. Partai Golkar berharap, lanjut Gus
Dur, dengan menjadi korban, maka partai tersebut akan menjadi pahlawan dan
dapat memperoleh simpati masyarakat.

        Sinyalemen Gus Dur tersebut didukung Wakil Ketua Balitbang PDI Perjuangan
Dr Sukowaluyo Mintorahardjo. Menurutnya, pihak DPP telah menerima laporan
dari DPC PDI Perjuangan Purbalingga, bahwa beberapa hari sebelum pelaksanaan
"temu kader" Partai Golkar telah ada sejumlah prakondisi untuk mematangkan
terjadinya insiden melalui isu yang beredar, bahwa kehadiran Golkar tak
diingini di Purbalingga, dan masyarakat yang tak setuju akan membubarkan
acara tersebut.

        "DPP telah mencek kebenarannya, ternyata pihak DPC PDI Perjuangan
Purbalingga pun tak merasa melempar isu yang demikian. Entah siapa penyebar
isu tersebut," ungkapnya.

        Sukowaluyo pun mempertanyakan sikap aparat keamanan yang seolah lepas
tangan, tak siap, dan terkesan lamban untuk mengamankan acara itu, sehingga
insiden pun terjadi. Padahal, lanjutnya, isu penolakan Golkar dan ada
rencana pembubaran telah beredar luas di masyarakat sejak beberapa hari
sebelum "temu kader" berlangsung. "Ada apa ini?" katanya.

        Ia pun merasa heran dengan berita-berita sejumlah media-massa yang memiliki
kedekatan dengan status-quo menyangkut insiden Purbalingga. Menurutnya
berita-berita tersebut tampak sekali seperti dieksploitir dan didesain untuk
memojokkan PDI Perjuangan. Misalnya desakan agar Megawati meminta maaf atas
terjadinya insiden Purbalingga, padahal belum ada bukti secara hukum
pelakunya adalah anggota PDI Perjuangan.

        "Lho, sekarang saya tanya, apakah pernah anda dengar ada pejabat Orde Baru
pernah bilang dirinya bertanggung-jawab atas Peristiwa 27 Juli 1996. Itu
jelas-jelas memakan korban jiwa," ucapnya.

        Menurutnya, adalah aneh Partai Golkar dan media massa pendukungnya
mengeksploitir insiden Purbalingga, sementara itu sejumlah kasus pelanggaran
HAM berat di masa Orde Baru dimana Golkar merupakan partai berkuasa saat
itu, belum tuntas benar penyelesaian hukumnya hingga kini. Ia menunjuk
kasus-kasus DOM di Aceh, Irian, tragedi Trisakti dan Semanggi, penculikan
aktivis, kasus Tanjungpriok dan sebagainya. 

        "Siapa yang paling bertanggung-jawab, dan dimana suara Golkar untuk
tragedi-tragedi kemanusiaan tersebut," katanya.

        Mantan anggota DPR/MPR dari F-PDI itu juga heran, mengapa tiba-tiba para
petinggi Golkar sekarang ini selalu bicara soal penegakan hukum, HAM,
demokrasi, dan kemanusiaan, termasuk dalam kaitan dengan insiden
Purbalingga. "Lalu selama lebih 30 tahun itu, mereka kemana saja?" katanya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke