Precedence: bulk
DOKUMEN SYAHGANDA VERSUS LENTENG AGUNG
JAKARTA (SiaR,6/4/99), Perang bocoran dokumen mulai marak setelah
surat ke Adi Sasono yang berisi skenario dukungan terhadap Habibie bocor.
Kali ini kubu Habibie balas melontarkan bocoran yang dikenal sebagai
dokumen Lenteng Agung.
Setelah harian Merdeka (29/3) memblow-up kasus bocornya surat Syahganda
ke Adi Sasono dan dimuat lengkap dalam SiaR (30/3) maka Abdul Qadir Djaelani,
anggota Partai Bulan Bintang (PBB) melontarkan isu ditemukannya dokumen Lenteng
Agung.
Isi dokumen tersebut, konon adalah skenario awal pemicu kerusuhan selama
ini antara lain kerusuhan di Sambas, Kupang dan Ketapang. Hal ini sejalan dengan
tuduhan Abdul Qadir Djaelani selama ini yang menuduh lewat pers bahwa Kelompok
Barnas, Kelompok Pelangi, PDI Perjuangan, Kelompok Kristen dan Forkot dan Famred
memiliki andil besar dalam skenario kerusuhan selama ini.
Dalam wawancara di depan para wartawan, Abdul Qadir Djaelani mengatakan
adanya sekelompok kekuatan besar yang merekayasa berbagai kerusuhan yang terjadi
sejak Soeharto lengser. Abdul Qadir menerangkan dalam dokumen itu disebutkan
dengan jelas adanya koalisi Nasakom baru (Nasionalis, Agama, Komunis) Baru yakni
Kelompok Lenteng Agung. Menurut pentolan PBB itu, kelompok Lenteng Agung terdiri
atas konspirasi kekuatan Kristen, Marxis, Nasionalis, PDI Perjuangan, Barnas,
Forkot dan Famred. Menurutnya, kelompok ini bertujuan untuk menumbangkan duet
Habibie-Wiranto sebelum Pemilu mendatang.
Menurut Abdul Qadir kelompok Nasionalis diwakili PDI Perjuangan, agama
diwakili Kristen, Komunis diwakili Forkot. Ia menuduh Barnas sebagai kelompok
sakit hati yang merekayasa kelompok tersebut. Menanggapi dokumen itu Ketua
Umum Himpunan Mahasiswa Muslim antar-Kampus se- Indonesia (HAMMAS) Muhamad
Alfian menyebut dokumen Lenteng Agung ini dibuat sangat serius. "Ada usaha
sedemikian
rupa dimana PDI Perjuangan dan teman temannya ingi memenangkan Pemilu dengan
hitungannya sendiri , ujar aktivis Partai Keadilan ini.
Tanggapan Berbeda datang dari Forum Kota (Forkot) dengan mengatakan
dokumen itu terkesan dibuat-buat dan tidak rasional, hanya orang bodoh yang
menjadikan itu sebagai skenario politik. Bahkan Ahdian Napitupulu
menegaskan, "Bagaimana mungkin PDI Perjuangan bisa dapat keuntungan
politik jika keadaan rusuh seperti skenario tolol itu," ujar Korlap Forkot
aksi 23 Mei 98 saat menurunkan Soeharto itu.
"Rasio politik mana mengatakan PDI Perjuangan untung jika Pemilu
gagal, itu irasional dan analisis tolol sekali, " ujar Ahdian meragukan
keaslian dokumen tersebut. "Tuduhan Komunis itu khas cara berpikir Orde
Baru, jadi orang yang masih menggunakan logika seperti itu jelas antek Orde
Soeharto atau minimal masih terjajah budaya fasis Orde Baru," tegasnya.
Namun dengan beredarnya surat bocoran Syahganda ke Adi Sasono tentang
dukungan Habibie tampaknya kubu pro-Habibie seperti Abdul Qadir Djalelani
kebakaran jenggot, bahkan skenario dukungan partai mana saja dalam KPU yang
mulai berafiliasi ke Golkar mulai tampak dalam rapat-rapat KPU. Dalam bocoran
surat itu disebutkan skenario dan cara-cara kelompok loyalis Habibie untuk
mempertahankan kursi presiden.
Agaknya hantaman untuk tudingan Abdul Qadir Djaelani menjadi blunder
politik dengan beredarnya lagi polemik surat yang dinamakan "Dokumen KGB"
tentang Soeharto yang diawali di Indonesia-L dan menjadi polemik di media cetak
belakangan ini. Dokumen itu yang didapat dari seorang yang mengaku bernama Yuri
Volodislavich, seorang mantan anggota KGB, yang konon pernah bertugas di
Indonesia.
Dalam dokumen tersebut disebutkan 3 skenario kerusuhan besar Soeharto
setelah jatuh dari tampuk kekuasaannya. Dari skenario bentrok antaretnis, adu
domba antaragama hingga penghancuran ekonomi secara total.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html