Precedence: bulk


DOKTER DJAROT, PATRIOT TRAGEDI 27 JULI TELAH PERGI SELAMANYA

        JAKARTA (SiaR, 6/4/99),  Tak seorang pun aktivis pro-demokrasi yang tak
mengenal sosok seorang dokter tua, berpakaian putih khas dokter, dengan tas
kulit tua hitamnya, berkacamata tebal, dengan rambut putih yang tersisa,
karena hampir sebagian besar kepalanya telah membotak. Itu lah Dr Djarot,
seorang dokter yang berjasa besar dalam tiap aktivitas pergerakan kaum
pro-demokrasi menentang kezaliman Orde Soeharto. Dokter itu meninggal dunia,
dalam usia 70 tahun, pada 28 April 1999 lalu, akibat penyakit lever yang
dideritanya.

        Meninggalnya dokter yang mulai dikenal luas ketika Peristiwa 27 Juli 1996
itu, memang luput dari perhatian pers nasional, dan mungkin kaum
pro-demokrasi pada umumnya yang sebagian besar disibukkan dengan
hingar-bingar persiapan Pemilu Juni 1999 mendatang. SiaR sendiri baru
memperoleh informasi itu, Selasa (6/4) ini, dan kemudian mengkonfirmasi
kabar duka itu kepada Gatot, salah seorang putra almarhum.

        Menurut Gatot, almarhum yang mengidap penyakit lever itu sempat dirawat di
RS Cipto Mangunkusumo beberapa lama sebelum akhirnya menghembuskan nafas
terakhir, menghadap khalikNya. Almarhum yang gelar dokternya diperoleh dari
Universitas Airlangga itu meninggalkan seorang istri, Ny Sugesti asal Solo,
dan 8 putra-putri. Almarhum dimakamkan hari itu juga di pemakaman Pondok
Rangon, dengan dilepas sejak dari rumah hingga ke pemakaman oleh para
aktivis PDI Perjuangan, pengurus DPP dan DPD PDI Perjuangan.

        Ketika terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996, Dr Djarot merupakan satu dari
sedikit tenaga medik yang bertahan di gedung DPP PDI Jalan Diponegoro ketika
ratusan preman berkaos merah pro-Soerjadi yang dibantu aparat keamanan
menyerbu puluhan satgas dan aktivis PDI pro-Megawati yang bertahan di dalam
dan sekitar gedung.

        Dr Djarot menjadi saksi mata peristiwa itu, dan berdasarkan kesaksian yang
pernah diungkapnya kepada SiaR beberapa tahun lalu, para penyerang membunuhi
satu per satu satgas PDI pro-Megawati yang memberikan perlawanan, sementara
mereka yang menyerah segera diringkus aparat keamanan. Peristiwa 27 Juli
sendiri berdasarkan investigasi Komnas HAM mengakibatkan 5 tewas, 23 hilang,
dan 149 luka-luka.

        Ia sendiri luput dari kekerasan yang dilakukan para pendukung Soerjadi
setelah memberitahukan identitas dirinya sebagai seorang dokter yang sedang
bertugas. Padahal sebelumnya Dr Djarot dengan keberaniannya menerobos masuk
ke gedung yang sedang dilanda pertarungan fisik antara dua pihak yang
berseteru itu. Akibat keterlibatannya pada Peristiwa 27 Juli 1996 itu, izin
praktek dokternya dicabut Departemen Kesehatan tanpa alasan yang jelas.

        Dr Djarot tidak hanya bertugas ketika terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996
saja, setelah itu hampir di setiap peristiwa-peristiwa politik yang
menyangkut gerakan kaum pro-demokrasi, ia tampil sebagai tenaga medis yang
membantu korban-korban kekerasan aparat keamanan. Dalam demonstrasi
mahasiswa, demonstrasi buruh, demonstrasi aktivis LSM, dokter tua itu selalu
hadir, dengan ciri-ciri yang mudah dikenali. Ia tanpa lelah selalu siap
membantu korban-korban kekerasan aparat.

        Dalam kerusuhan Mei, juga ketika gegap gempitanya demonstrasi mahasiswa
menjatuhkan diktator Soeharto, saat tragedi Trisakti dan Semanggi, dokter
tua itu selalu hadir, meskipun kadang-kadang luput dari perhatian banyak
orang. Menurut Gatot, putranya, ketika Sidang Umum (SU) MPR November 1998
lalu, almarhum yang telah sakit-sakitan itu tetap memaksakan diri untuk
pergi ke gedung DPR/MPR di Jalan Gatot Subroto dan Universitas Atmajaya,
dimana terkonsentrasi ribuan mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi
besar-besaran menentang SU MPR itu.

        "Ayah tak bisa dilarang, kemauannya keras. Ayah bilang, ia merasa beruntung
dapat menjadi saksi kejatuhan Soeharto akibat perjuangan para mahasiswa.
'Aku ingin menolong mahasiswa yang tertembak' demikian Ayah menyanggah
ketika dilarang keluarganya," tutur Gatot.

        Satu keinginan Dr Djarot telah terkabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
--yakni menyaksikan kejatuhan diktator Soeharto, tapi perjuangan belum
selesai, karena kekuatan-kekuatan pro-status quo masih berupaya memegang
kendali kekuasaan. Selamat jalan dokter bersahaja. Satu keinginanmu yang
lain, atas ridho Tuhan, insya Allah akan terwujud, yakni menuju Indonesia
baru tanpa penindasan.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke