Precedence: bulk


SITUASI LIQUISA TEGANG, SERDA SOFYAN TERTEMBAK

        DILI (MateBEAN, 7/4/99), Pertikaian kelompok pro-integrasi dari Besi
Merah Putih (BMP) dan pro-kemerdekaan di Liquica, hingga Selasa (6/4) masih
berlanjut. Baku hantam dua kelompok berbeda pandangan politik soal masa
depan Timtim mengakibatkan situasi kota Liquica tegang dan mencekam.
 
        Bunyi tembakan terus bersahut-sahutan di Liquica membuat warga 
setempat ketakutan. Kota yang dijuluki "Sarang Elang" itu benar-benar 
menjadi arena perang saudara. Tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil lari 
pontang-panting menyelamatkan diri. Ada yang berlindung di gereja, rumah 
jabatan bupati dan Kodim. Mereka yang mengungsi sebagian besar adalah 
orang-orang tua dan anak kecil.

        Pertikaian pro-integrasi dan pro-kemerdekaan meletus lagi di Liquica
sekitar pukul 14.00 Wita. Namun, pertikaian tersebut tidak berlangsung lama
karena dapat dicegah aparat keamanan setempat. Bahkan aparat keamanan
bekerjasama dengan para suster mengajak kedua kelompok untuk berdamai.
Namun, ketika dilakukan negosiasi perdamaian, tiba-tiba meletus tembakan
dari arah 
pastoran Liquica.

        Rentetan tembakan itu mengenai sasaran, yakni mengenai kaki kiri
anggota Korem 164/Wira Dharma, Serda Sofyan. Korban ke Liquica bersama Pasi Ops 
Korem dan Wakil Komandan Korem 164/Wira Dharma, Kolonel Inf Mudjiono.    

        Wadanrem Mudjiono bersama sejumlah anak buahnya berkunjung ke Liquica, 
Selasa kemarin untuk memantau situasi di kota Liquica. Karena sehari
sebelumnya, kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan berbaku hantam.
Bentrokan fisik dua kelompok tersebut menyebabkan jatuhnya korban dari kedua
belah pihak.

        Sebelum berangkat ke Liquica, Wadanrem Mudjiono masih mengikuti upacara 
siarah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja Dili berkaitan dengan HUT ke-20 
Korem 164/Wira Dharma yang sedianya diperingati pada Rabu (7/4) kemarin.

        Ketika Wadanrem Mudjiono tiba di Liquica, situasi masih aman dan
terkendali. Namun sekitar pukul 14.00 Wita, tiba-tiba massa pro-integrasi dan
pro-kemerdekaan saling menyerang. Dengan peralatan senjata tradisional,
seperti parang, panah, tombak dan samurai, kedua kelompok baku hantam lagi. 

        Pihak keamanan menduga tembakan itu berasal dari anggota Falintil.
Ketika ditelusuri, aparat menemukan tiga buah kelongsong peluru jenis M-16.
Melihat korban belumuran darah, pihak pro integrasi dari BMP marah besar.
Namun, 
mereka tidak sampai beraksi karena sempat dikendalikan aparat keamanan.

        Ketika aparat melakukan pembersihan disekitar lokasi kejadian, kelompok 
bersenjata itu melarikan diri ke arah pantai Liquica. Aparat gabungan 
melakukan pengejaran sambil melepaskan tembakan dan dari kelompok bersenjata 
itu juga melakukan tembakan balasan. Kota Liquica benar-benar menjadi arena 
perang.

        Sementara itu, Wakil Panglima Perang Pro-integrasi, Eurico Guterres, 
berusaha menenangkan BMP agar tidak bertindak brutal. Sementara Eurico dan 
Kapolres memberikan pengarahan, tembakan terus bersahut-sahutan di kota 
Liquica.

        Ketika sejumlah wartawan memasuki kota Liquica pada pukul 14.30
Wita, situasi benar-benar tegang dan mencekam. Mobil yang ditumpangi
wartawan diminta mundur.

        "Lebih baik kalian mundur dulu karena massa lagi emosi. Kami saja
tidak bisa masuk, apalagi kalian yang tidak bersenjata," kata sejumlah
anggota Polres 
Likisa yang berjaga-jaga di pertigaan kota Liquica. Begitu mobil yang 
ditumpangi  wartawan memasuki halaman Kodim 1638/Liquica, terdengar rentetan 
tembakan. Katanya, tembakan itu dilakukan pasukan Brimob yang melakukan 
sedang pembersihan.

        Berdasarkan pemantauan di kota Liquica, Selasa kemarin menunjukkan
ribuan warga kota Likisa terpaksa mengungsi ke rumah jabatan bupati Liquica,
gereja dan Kodim untuk menyelamatkan diri. Mereka dilindungi pasukan BMP dari 
berbagai ancaman dan teror. Mereka terdiri dari orang-orang tua dan anak 
kecil yang tak tahu-menahu tentang politik. Namun, mereka menjadi korban 
politik.

        Sementara rumah-rumah mereka terkunci tanpa penghuni. Di beberapa
tempat terlihat rumah dan kios dirusak. Sepanjang jalan kota Liquica
terlihat sepi. Angkutan kota Liquica-Dili-Maubara tidak beroperasi. Namun,
beberapa bus 
penumpang Dili-Atambua masih sempat beroperasi karena Selasa pagi situasi 
kota Liquica masih aman dan terkendali.

        Soal detil korban akibat bentrokan Selasa (6/4) kemarin, hingga
berita ini diturunkan belum diketahui. Komandan Kodim dan Kapolres Liquica
belum bisa dikonfirmasi Selasa kemarin karena berada di lapangan memantau
situasi.

        Sedangkan berita terakhir mengenai situasi Liquisa, terdengar bahwa
aparat keamanan sore tadi melakukan penyerangan ke Gereja Liquisa. Bahkan
menurut sumber-sumber yang belum dikunfirmasi akurasinya menyebutkan bahwa
penyerangan aparat keamanan ke Gereja telah menewaskan 40 orang. Sedangkan
informasi lainnya menyebutkan dua orang tewas ditembak aparat keamanan di dalam
Gereja. Sampai saat ini Liquisa belum bisa dihubungi karena daerah itu masih
diblokir aparat, serta semua fasilitas telekomunikasi juga diblokir semua.

        Sementara itu dari Desa Lasaun, Kecamatan Atsabe, Kabupaten Ermera
dilaporkan bahwa seorang warga tewas tertembak dan satu warga ditangkap.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (5/4).

        Korban tewas tertembak di Atsabe adalah Adelino Magaleus (23). Sedangkan
warga yang ditangkap bernama Belsior Maupelu (warga Atabae yang mengungsi ke
Atsabe). Menurut saksi mata, korban tewas ditembak aparat keamanan yang sedang
melakukan patroli di daerah itu. Namun, hingga berita ini diturunkan aparat
keamanan dari BTT 144 dan Koramil Atsabe yang diduga melakukan penembakan belum
dikonfirmasi. Hingga berita ini ditulis kuburan korban sudah ditemukan, namun
belum digali, karena masih menunggu apara kepolisian dan tim dokter untuk
melakukan otopsi.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke