Precedence: bulk


CNRT DAN FALINTIL NYATAKAN PERANG, ABRI DARATKAN 2 BATALYON PASUKAN

        DILI (MateBEAN, 7/4/99), Merasa jengkel dengan aksi sepihak kelompok milisi
bersenjata yang didukung ABRI, kelompok pro-kemerdekaan Conselho Nacional
Resistencia de Timorese (CNRT) dan sayap militernya (Forcas Armadas de
Libertacao Nacional de Timor Leste (Falintil) nyatakan perang kepada ABRI
dan pemerintah Indonesia di Timor Timur. Hal ini diungkapkan oleh pemimpin
CNRT, Xanana Gusmao, lewat pernyataan yang ditulisnya dalam bahasa Inggris
dan bahasa Portugis di Jakarta, Selasa (6/4) siang.

        Dalam pernyataan Xanana yang dibacakan kuasa hukumnya dari PBHI, Johnson
Panjaitan dan Antonio Gonzalves, dinyatakan antara lain, "Kelompok
pro-kemerde- kaan yang tergabung dalam CNRT dan Falintil pada intinya
menyatakan perang dengan pemerintah dan ABRI. Ini karena pemerintah dan ABRI
ikut  menciptakan suasana saling benci dan menyebarkan permusuhan di antara
rakyat Timtim. Ini tampak dengan makin banyaknya korban berjatuhan seperti
kejadian terakhir di Liquisa."

        Pernyataan perang ini sepertinya telah diantisipasi pihak ABRI. Selang
beberapa jam setelah pernyataan Xanana diberitakan di Jakarta, di Dili
dikabarkan telah mendarat sebuah Landing Ship Tank Angkatan Laut bernomor
lambung 504 yang berisikan 2 batalyon pasukan ABRI bersenjata lengkap.

        Dari ibukota Dili juga dikabarkan, kelompok pro-kemerdekaan sedang
bersiap-siap melakukan pembelaan diri apabila mereka diserang dengan cara
mengumpulkan batu sebanyak mungkin. Pihak CNRT menyatakan bahwa Rabu (7/4)
pagi ini pihaknya akan diserang kelompok Besi Merah Putih. "Tak semua
pasukan BMP terdiri ata warga sipil. Sebagian dari mereka adalah anggota
ABRI," ujar sumber CNRT di Dili yang dihubungi MateBEAN.

        Sementara itu upaya pertemuan rekonsiliasi lewat "Dialog Dare" ke dua yang
rencananya akan berlangsung pada hari ini tampaknya bakal gagal total.
Xanana dan pimpinan CNRT di Timor Timur, David Diaz Ximenes, mengharap PBB
bisa sesegera mungkin mengirimkan pasukannya ke Timor Timur guna
menghentikan aksi pembantaian yang dilancarkan para milisi dan pasukan
gabungan ABRI. Koresponden MateBEAN di Dili juga melaporkan bahwa sejumlah
aktivis HAM dan jurnalis di ibukota Dili mulai diincar oleh para milisi.

        Menurut catatan MateBEAN, sejak Maret 1999, telah jatuh sedikitnya 30
korban jiwa. Mereka yang mati adalah rakyat jelata yang jadi sasaran teror
dan intimidasi yang sengaja diciptakan berbagai kelompok milisi seperti
"Darah Merah", "Mahidin", "Besi Merah Putih", "Aitara" dan lain-lain. Aksi
brutal kelompok milisi yang persenjataannya disuplai ABRI ini kian meningkat
saat ada kunjungan 6 utusan PBB ke Dili. Namun justru kepada utusan PBB,
para milisi itu memutar balik fakta sebenarnya. Komandan Aitara Eurico
Gutteres dan komandan Mahidi Cancio Lopez de Carvalho menyatakan, "Falintil
telah membunuhi rakyat tak berdosa, Karena itu lah kami perlu membentuk
kelompok untuk membela rakyat yang tak berdosa." ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke